Definisi Jahil Menurut Ulama Tasawuf: Al-Hikam Pasal 17

Logo Resmi Kampus Mudarosah
Posted By : |
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

سُبْحَـٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

Mudarosah Al-Hikam Pasal 17 

Pasal ini berkaitan erat dengan adab-adab Murid Suluk/seorang Salik. Mulai dari urutan pasal 1, 2, 3, sampai pasal 12. Yang menjelaskan runutan seorang murid suluk dalam perjalanan ruhaninya. Mulai dari...
  1. Pasal 01 : Mulailah amalmu dengan jangan bergantung pada amalmu. 
  2. Pasal 02 : Baiknya memulai Suluk dengan Asbab atau Tajrid saja?.
  3. Pasal 03 : Sikap Salik dalam menghadapi perubahan Qodo' dan Qodar. 
  4. Pasal 04 : Isqathu Tadbiir: Dasar awal dalam memulai suluk. 
  5. Pasal 05 : Etika dan Batasan Salik saat bekerja. 
  6. Pasal 06 : Sikap Salik saat doa tak kunjung terkabul. 
  7. Pasal 07 : Adab dan sikap Salik ketika berdoa. 
  8. Pasal 08 : Kenalilah momentum undangan dari Alloh. 
  9. Padal 09 : Kesadaran tentang Alloh mempengaruhi kualitas amal. 
  10. Pasal 10 : Pentingnya keikhlasan di setiap amal. 
  11. Pasal 11 : Melatih keikhlasan dengan cara Khumul. 
  12. Pasal 12 : Metode Tazkiyatun Nafs dengan Uzlah dan Tafakur. 
  13. Pasal 13 : 4 Faktor yang sangat menghambat Tazkiyatun Nafs. 
  14. Pasal 14, 15, 16 : Contoh-contoh bahan untuk Proses Tafakur. 
  15. Pasal 17, 18, 19, sampai Pasal 26: Itu menjelaskan kode etik dan contoh-contoh Su'ul Adab bagi seorang Salik. 

✓ Teks Arab Al-Hikam Pasal 17 

ما تَرَكَ مِنَ الجَهْلِ شَيْئاً مَنْ أَرادَ أَنْ يُحْدِثَ في الوَقْتِ غَيْرُ ما أَظْهَرَهُ اللهُ فيِهِ 

✓ Bacaan Al-Hikam Pasal 17 

"Maa taroka minal jahli syai`an man arooda an yuhditsa fil wakti ghaira maa adzhara-hu-llohu fiihi". 

✓ Terjemah Al-Hikam Pasal 17 

Definisi Jahil Menurut Ulama Tasawuf: Al-Hikam Pasal 17
 Syarah Al-Hikam At-Thurar wal Hawasyi, Karya Syaikh Zaruq
Pasal ini bisa berbagai versi terjemah : 
1. "Tidak terima dan ingin lari dari kenyataan adalah sebentuk kebodohan". 
 
2. "Tidak meninggalkan kebodohan sedikitpun (goblok banget) orang yang ingin mengada-adakan sesuatu di luar apa yang susah ditakdirkan Alloh padanya". 

3. "Sangat bodoh sekali orang yang menginginkan sesuatu selain apa yang sudah Alloh kehendaki dalam kondisinya saat itu". 

Qultu : "Saat ketika Alloh menempatkan seseorang pada posisi kondisi dan situasi yang secara Syari'at dan hukum yang berlaku tidak melanggar dan tercela, dan nyatanya seseorang itu tidak bisa mengelak (tidak punya pilihan lain) selain menerima dan menjalani posisi dan kondisi tsb, namun ia malah mengeluh atau benci pada kondisi tsb (karna tidak sesuai dengan keinginannya) dan ingin pindah posisi berdasar keinginan (nafsunya), maka sejatinya ia sangatlah bodoh (tidak tau akan Allohnya) dan Su'ul Adab di hadapan Alloh". 

Posisi kondisi dan situasi yang dimaksud adalah : Entah itu yang berkaitan dengan dirinya (badannya atau situasi yang sedang dialaminya) atau kondisi Ahwal Keruhaniannya (seperti misal, sudah berusaha istiqomah, tapi koq selalu gagal. Sudah berusaha sabar, tapi koq masih kepancing emosi. Its oke gapapa). Terjemah disarikan dari Mawahib Ghaitsul Aliyyah-Ibnu Abbad dan Syarah Al-Hikam Karya Imam Zaruq Al-Fasi. 

Kamus Kata Al-Hikam Pasal 17 

✓ Maa Taroka Minal Jahli Syai'an : 

- Tidak meninggalkan kebodohan sedikitpun alias bodohnya full atau bodoh banget. Ibarat wadah itu isinya 100kg, isinya itu bodoh semua/full berisi bodoh. Atau bodoh diborong semua. 

- Bodoh di sini maksudnya adalah tindakan bodoh atau logika bodoh atau keputusan bodoh. Saat ketika ia berlogika, berkeinginan, bertindak, atau mengambil keputusan seperti itu. Bukan berarti orangnya bodoh atau tidak tau apa-apa. 

- Khitob julukan bodoh di sini itu lebih mengarah pada murid atau salik (orang atau hamba yang memang sedari awal sudah memasang diri (berniat) untuk sejalan, selaras, dan seirama dengan kehendak Alloh pada semua posisi kondisi dan situasi yang dialaminya saat itu). 

- Bodoh di sini itu karena saat orang itu berlogika, berkeinginan, mengambil keputusan, atau bertindak pada selain apa yang telah Alloh tetapkan pada posisi kondisi dan situasinya saat itu, maka secara otomatis ia berseberangan dengan apa yang Alloh kehendaki. Karna di situ ada Su'ul Adab yang terang-terangan. 

- Seperti contoh saat ketika seseorang itu berkata..
"Andai tidak hujan ya, enak". Padahal kondisi hujan itu adalah kehendak Alloh. 
"Andai aku kaya, maka aku akan anuanuanu". Padahal kondisinya saat itu ia sedang miskin. Bukan menepati tugas kewajiban apa yang harus dilakukan pada kondisi kemiskinannya saat itu, tapi malah menginginkan yang bukan tugasnya, bukan posisinya. 

- Andai ditanyakan.. "masa' pingin (tidak nerima kenyataan/takdir) koq gak boleh?!", "masa' mengeluh-sambat koq gak boleh?!". 

+ Dijawab : "Kalau bukan seorang Salik, its okelah dimaklumi. Tapi kalo seorang Salik koq begitu, berarti ia melanggar kode etik. Seperti halnya saat seseorang itu di luar kelas, terlebih gak sekolah, mau ramai bercanda sendau gurau, seloroh, atau main-main, its okelah dimaklumi. Namun bagi Murid yang sudah masuk di dalam kelas, kelakuan sendau gurau itu sudah dihitung pelanggaran". Begitu kira-kira.

- Seperti contoh saat ketika seorang (salik) itu diposisikan Alloh sebagai seorang pelajar, misalnya, lahkoq malah ia pingin fasilitas-fasilitas seperti orang yang diposisikan sebagai seorang pedagang, kan gak nyambung alias bodoh. 

- Seperti ketika seorang Salik itu diposisikan tugas sebagai Cleaning Servis, misalnya, lahkoq malah minta mobil-minta motor, kan gak nyambung. Bila tugasnya cleaning servis, maka mintalah apa-apa yang berkaitan dengan tugas Cleaning Servisnya saat itu. 

- Bodoh dalam arti : Seorang Salik kan tujuannya berjalan dan seirama dengan kehendak Alloh, lahkoq tiba Alloh menugasi dan menempatkan Salik itu pada posisi kondisi dan situasi tertentu, lahkoq malah pingin selain tugas yang diberikan. Kan bodoh namanya. 

"Kamu tugas jadi pedagang aja ya..!!"
"Gak mau Gusti, aku pingin jadi pejabat aja". Tiba dikasih beneran jadi pejabat.."Ah gak enak jadi pejabat, aku pingin jadi dokter aja". Loh bocah gendeng. 

Fayanbaghi-Semestinya, saat diposisikan jadi pedagang, andai mau minta, maka mintalah fasilitas-fasilitas yang berkaitan dengan bab dagang. Ilmu hukum jual-beli, Kesabaran menghadapi pembeli, dan lain sebagainya, bukan malah minta fasilitas yang tidak berkaitan dengan tugasnya atau malah pingin posisi selain tugas yang diamanatkan.

- Pasal ini berkaitan erat dengan Adab-Adab Asbab dan Tajrid. Baca ulasan selengkapnya perihal Adab Asbab wa Tajrid dalam artikel "Memulai Suluk Dengan Asbab atau Tajrid Saja?". 

Jahil-Bodoh Ada 3 Kelompok : 

1. Jahil (Jahaalah)

Bodoh karna tidak adanya ilmu/pengetahuan atau tidak tau). Seperti halnya seseorang yang tidak tau apa yang harus ia perbuat. Jahil secara umum juga bisa dikatakan untuk suatu kepolosan, terlalu sederhana, kampungan, atau kurang pengalaman. 

Jahil secara umum juga bisa disebut lupa. Orang tidak tau atau belum tau (jahil) VS orang pintar tapi lupa itu sama, dalam hal sama-sama sedang tidak tau.

✓ Jahil Model Jahiliyyah Ada 2 Jenis : 

A. Jahil Bashith : Tidak tau sesuatu yang seharusnya ia harus tau (tidak tau hukum). Entah ketidaktahuannya itu karna memang ia tidak tau/lupa, belum tau atau tidak ada yang ngasih tau. Jahil model ini bisa dikatakan Jahil pasif (bodoh tapi terbuka-menerima untuk dikasih tau). Jahil model ini bisa cepat hilang dengan Ta'lim/belajar. 

B. Jahil Murokab : Meyakini sesuatu yang fakta sebenarnya (atau hakikatnya) bukan seperti yang ia yakini. Salah tembak, salah logika, salah kesimpulan, salah tindakan, tapi ngegas plus ngeyelan. Jahil model ini juga bisa dikatakan Jahil Aktif. Bodoh yang tidak tau kalau dirinya bodoh dan bertindak bodoh (bahkan ia meyakini kalo dirinya tau/pintar). Sialnya, bodohnya itu keterusan, karna akibat dari kengeyelannya sendiri. Mu'jam Mushtholahat Ulum Asy-Syar'iyyah Hal 634. 

2. Sufaha 

- Istilah untuk orang fomoan/kagetan/gumunan/gampang panikan. Orang yang bila suka atau gembira keterlaluan atau orang yang bila emosi atau marah keterlaluan. Hal tersebut seringkali mendorong orang itu tidak berfikir jernih, tidak bisa menahan diri (kegatelan) dan akhirnya bisa melangkahi atau merekayasa hukum (syariat) dan melewati batas. Disarikan dari Mu'jam Ta'rifat, Hal 103. Karya Imam Jurjani. 

- Istilah untuk anak-anak atau perempuan yang cenderung punya sifat hipersensitif atau mellow (rasa empatinya keterlaluan atau sedikit-sedikit terharu). Atau orang yang dibatasi kewenangan tasarufnya. Karna hal tsb seringkali mendorong orang itu tidak bisa berfikir jernih, hingga akhirnya juga sering dimanfaatkan orang lain. Disarikan dari Mu'jam Mufashol fii Tafsir Gharibil Qur'an, Hal 244. Karya Dr. Muhammad Tunji. Cetakan Darul Kutub Al-Ilmiyyah, Beirut Lebanon, Thn 2003. 

3. Ahmaq / Humqun / Jahuul 

- Istilah ini untuk orang tolol/ pandir/ dungu/ pekok/ longor/ blengurr. Yaitu istilah untuk orang yang kurang akal (kurang waras) akibat dari minimnya pertimbangan akalnya atau orang yang mengabaikan akibat. Seperti halnya sesuatu yang dilarang malah dikerjakannya, sedang yang diperintah malah ditinggalkannya. Seharusnya begini, koq ia malah begitu. Semestinya begitu, koq malah ia melakukan begini. Ahmaq ini cenderung sebagai istilah atas suatu tindakan. Mu'jam Mushthalahat Ulum Asy-Syar'iyyah, Hal 719. 

✓ An Yuhditsa Fil Waqti : 

- An Yuhditsa : Menginginkan atau mengada-adakan atau memiliki niatan. Bisa juga kamu katakan "orang yang tergesa-gesa atau orang yang berambisi". 

- Fil Waqti : Dalam posisi, kondisi, dan situasinya saat itu-waktu itu (yang sedang ia alami). 

✓ Ghaira Maa Adzharohullohu Fiihi 

- Pada selain (posisi, kondisi, atau situasi) yang telah Alloh tetapkan padanya. Kondisi yang seseorang itu tidak bisa mengelak. Seperti halnya seseorang yang terlahir di keluarga miskin. Seperti halnya tiba-tiba ditimpa musibah, tiba-tiba bangkrut, tiba-tiba kemalangan. Itu sejatinya Alloh yang milihkan. 

Seperti Hadist Qudsi yang sudah Masyhur : 

من لم يرض بقضائى ولم يصبر على بلائى فليخرج من تحت سمائى وليتخذ رباً سواي 
"Barangsiapa yang tidak ridho atas ketentuan-Ku dan tidak sabar atas Bala'-Ku, Maka keluarlah dari langit-Ku dan carilah Tuhan selain-Ku". Rowahu At-Thobroni R.A fii Mu'jam Kabiir. - Iqadzul Himam Fii Syarhi Hikam, Hal 75. 

Penjelasan Al-Hikam Pasal 17 

Definisi Jahil Menurut Ulama Tasawuf: Al-Hikam Pasal 17
 Mudarosah Al-Hikam Hikmah Pasal 17 
Berangkat dari Firman Alloh : 

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ ٱلْخِيَرَةُ ۚ سُبْحَـٰنَ ٱللَّهِ وَتَعَـٰلَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Q.S Al-Qashash (28) ayat 68. 

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًۭا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌۭ وَٱتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَٰهِيمَ حَنِيفًۭا ۗ وَٱتَّخَذَ ٱللَّهُ إِبْرَٰهِيمَ خَلِيلًۭا
"Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya". Q.S An-Nisa (4) ayat 125. 

أَفَحُكْمَ ٱلْجَـٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًۭا لِّقَوْمٍۢ يُوقِنُونَ
"Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?". Q.S Al-Ma'idah (5) ayat 50. 

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًۭا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًۭا
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya". Q.S An-Nisa (4) ayat 65. 

وَٱللَّهُ غَالِبٌ عَلَىٰٓ أَمْرِهِۦ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ 
"Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahuinya". Q.S Yusuf (12) ayat 21. 

إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌۭ لِّمَا يُرِيدُ  Q.S Hud (11) ayat 107. 
إِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيد  Q.S Al-Hajj (22) ayat 14. 
فَعَّالٌۭ لِّمَا يُرِيد  Q.S Al-Buruj (85) ayat 16. 
إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيد  Q.S Al-Ma'idah (5) ayat 1. 
وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ  Q.S Al-Baqarah (2) ayat 253. 

Pokok Pembahasan Al-Hikam Pasal 17

Al-Hikam Pasal 17 ini sebagai bentuk refleksi dari keislaman seseorang. Dikatakan..."Aslama-Yuslimu-Islaman (menyerahkan/memeluk agama Islam)", "Salima-Yaslamu-Salaaman (Selamat). 

Yang artinya, saat seseorang itu sudah ikrar nemeluk agama islam, maka ia harus bisa mengimplementasikan ikrarnya itu dengan ketundukan dan penyerahan diri secara totalitas pada ketentuan-ketentuan Alloh. Baik ketentuan secara hukum syari'at maupun ketentuan adab-adab kehambaan. 

Selain implementasi ketundukan dan penyerahan secara totalitas, seorang Muslim juga dituntut untuk meyakini Qodo' dan Qodarnya Alloh. Berikut juga mengakui bahwa kuasa Alloh itu di atas semuanya. At-Tanbiih Syarah Al-Hikam, Hal 231. 

Balik lagi ke kasusnya Salik. Maka saat ketika seorang hamba (salik) itu dikondisikan (ditugasi) oleh Alloh dalam posisi kondisi dan situasi yang secara Syari'at (dan hukum yang berlaku) itu tidak melanggar dan tercela, maka sudah semestinya bagi seorang hamba untuk menerima dan menjalani tugas tersebut dengan sebaik-baiknya, dengan keilmuan dan adab-adabnya. Sampai nanti Alloh sendiri yang akan memindah kondisi tersebut. 

Qultu : Seperti halnya saat ketika seorang salik itu dikondisikan (punya peran) sebagai seorang pedagang, misale, maka ia harus menjaga adab-adab berdagang itu. Mulai dari ilmu berdagang, ilmu halal haram, adab-adab interaksi, baik hak-hak interaksi dengan sesama maupun adab-adab peribadatan. 
Bila waktu siang, jangan berharap malam.
Bila waktu malam, jangan berharap siang.
Akan tetapi, lakukanlah apa yang harus dilakukan saat waktunya siang. Dan kerjakanlah apa yang harus dikerjakan ketika waktunya malam. 

- Ada beberapa alasan mendasar "Kenapa ingin keluar dari posisi kondisi dan situasi yang tidak bisa dielakkan itu tidak boleh dan Su'ul Adab". Di antaranya : 

1. Tidak menerima kenyataan/lari dari kenyataan atau menolak fakta/takdir. 
Qultu : Karna hal ini bertentangan dengan akal logika dan daya otak. Secara logika akal dan otak itu hanya mengolah dan hanya percaya dengan data. Sedang kenyataan yang ada dan sedang dialami tidak sesuai dengan data akal. Apa gak Njeblukk...haha

2. Su'ul Adab kepada Alloh. 
Qultu : Bagi seorang Salik, ingin lari atau lari dari kenyataan atau tidak menerima kenyataan itu adalah pelanggaran kode etik level berat. Selain saat itu ia lupa akan Alloh dan Af'alnya Alloh, (apalagi disertai ambisi) ia juga secara terang-terangan untuk tidak tunduk. 

3. Tidak bisa mengambil i'tibar. 
Ia tidak bisa membaca dan mengambil i'tibar pelajaran dan hikmah pada orang yang tergesa-gesa (berambisi) untuk menolak kenyataan yang ada. Yang seringkali hal itu berujung pada kesia-siaan. Sedang I'tibar (mengambil pelajaran/hikmah) itu adalah Al-Maqshud atau tujuan Sunnatulloh yang dikehendaki pada tiap posisi kondisi atau situasi dari setiap orang. At-Thurar wal Hawasyi Syaikh Zaruq, Hal 49. 

Qultu : Seperti halnya orang yang diberi ujian matematika, bukannya digarap, mengambil pelajaran dan hikmahnya, malah menolak ujiannya. Secara tidak langsung kan mbantah-tidak tunduk pada si pemberi ujian. 

Mestinya, orang yang dikasih ujian itu kan nggarap dan mikir. Kenapa matematika, kenapa ada penambahan-pengurangan-perkalian-pembagian. Kenapa kalo teori begini menghasilkan begitu?. Kenapa kalo rumus A bisa dipake dan kalo rumus B gak bisa dipake?. Dan pelajaran-pelajaran hikmah yang lain. 

Bukan masalah jadi miskin atau jadi kaya, namun kalo kaya itu adab dan kewajibannya seperti apa, harus apa, bagaimana. Begitu juga kalo miskin, adab dan kewajibannya seperti apa, harus apa, bagaimana. Itulah INTI DARI PEMBAHASAN AL-HIKAM PASAL 17 ini. Dan contoh-contoh yang lain. 

Kesimpulan Mudarosah 

Ada sebagian Atsar mengatakan : 
أن الله تعالى يقول ؛ يابن آدم - تريد وأريد - ولا يكون إلا ما أريد - فإن سلّمت لى فيما أريد أعطيتك ما تريد - وإن نزعتني فيما أريد أتعبتك فيما تريد - ثم لا يكون إلا ما أريد ؛ 
Kata Alloh : "Wahai anak adam! Kamu berkehendak dan AKU berkehendak. Dan tidak akan terjadi kecuali hanya kehendak-Ku. Bila kamu berserah pada-Ku atas apa yang Aku kehendaki, Maka Aku akan memberi apa yang kamu kehendaki. Namun bila kamu menolak (tidak menerima) pada apa yang Aku kehendaki, Maka Aku akan membuat payah pada apa yang kamu kehendaki. Dan akhirnya hanya kehendak-Ku yang tetap terjadi. At-Thurar wal Hawasyi Syaikh Zaruq Al-Fasi, W.899. Hal 49. 

Qultu : Atsar di atas seperti yang sudah pernah di ulas dalam artikel "Kebijakan Ketuhanan Dalam Pembagian Rezeki". Baca ulasannya dalam artikel "Konsep Kebijakan Ketuhanan Dalam Pembagian Rezeki". Yang mengibaratkan... 
Cepat tidak menambah. 
Lambat tidak mengurangi.
إذا لم يكون ما يريد - فأرد ما يكون 
"Bila apa yang kamu inginkan tak terjadi, Maka berkeinginanlah pada apa yang sedang terjadi". Dawuh Abu Ayyub As-Sakhtiyani R.A. At-Thurar wal Hawasyi Syaikh Zaruq, Hal 49. 

إذا وقع ما تكره ؛ فلا تضاد الله فيما يريد 
"Bila sesuatu yang tidak kamu inginkan (yang kamu benci) itu terjadi, Maka jangan kamu "berselisih" dengan Alloh atas apa yang kamu inginkan". Ba'dhu Shufiyyah, At-Thurar wal Hawasyi, Hal 49.

Qultu : Berselisih bisa berarti bertengkar, kontradiksi, tidak cocok, maido, wadul-wadul, ngundomono. Seperti ungkapan "Duh Gustii, kenapa Engkau bikin gagal blablabla anuanuanu". Wadul pada Alloh seperti itu TIDAK BOLEH. 

Definisi Jahil Menurut Ulama Tasawuf: Al-Hikam Pasal 17
Kehendak Alloh Yang Absolute
Masyi'atulloh An-Nafidah 

✓ Faidah Hikmah "Kenapa Keinginan Manusia Dibatasi?".

Qoola Syaikhinaa... Di antara Hikmah kenapa keinginan Manusia itu dibatasi :
  1. Untuk memberi tahu bahwa yang berkuasa mengatur itu Alloh bukan kamu. 
  2. Untuk memberi tahu bahwa rencana dan ketentuan yang pasti terjadi itu ketentuan Alloh. 
  3. Andai keinginan di Dunia itu tidak dibatasi, maka rusaklah keseimbangan Dunia. Ya karna manusia itu sifatnya bodoh, tergesa-gesa, juga sering ingkar/gak mau mengakui.
  4. Tidak ada perjuangan, tidak ada fastabiqul khoirot.
  5. Agar manusia selalu berharap hanya pada Alloh (dengan kata semoga Alloh) bukan berharap pada terkabul keinginannya, lupa pada siapa yang berkuasa mengabulkan atau tidak. 
  6. Dan mestinya, masih buanyakk Hikmah yang disembunyikan Alloh. Wallohu Ta'ala A'lamu. 
Ba'dhu Shufiyyah berkata : "Waktu itu seperti pedang mematikan. Bila kamu tidak menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya, Maka waktu itu akan membunuhmu (memutus dirimu) dari amal dan cita-cita". At-Thurar wal Hawasyi, Syaikh Zaruq Al-Fasi, Hal 49.

Qultu : di Dunia ini, di Kehidupan ini semua orang diberi waktu 24 jam sehari. Separo suang, separo malam, dan itu ada finishnya. Ada yang menggunakan waktunya untuk main-main, ada yang sungguh-sungguh. Ada yang mnggunakan untuk hal keduniawian, ada yang menggunakan untuk kemanfaatan akhirat. Ada yg selalu dengki sumpah serapah, ada yg membaca tasbih dan berserah, dan sebagainya. 

Nah tiba saatnya waktu habis-finish, maka waktu yang kamu manfaatkan akan menolongmu. Dan waktu yang kamu sia-siakan itu membunuhmu (menggagalkanmu dari amal dan cita-cita).

Dulu, saat masih muda waktu sekolah gak belajar sungguh. Tiba waktunya tua, ia harus menelan kebodohan. Ini konteknya seperti dawuh "Manfaatkan 5 kondisi sebelum 5 kondisi" : 
  1. Manfaatkan waktu muda sebelum tua. 
  2. Manfaatkan waktu sehat sebelum sakit.
  3. Manfaatkan waktu punya (kaya) sebelum tidak punya (miskin).
  4. Manfaatkan waktu luang sebelum sempit.
  5. Manfaatkan waktu hidup sebelum mati. 
  6. Manfaatkan waktu bersama sebelum berpisah. ** Tambahan Penulis
Maka bagi seorang Salik (orang yang sudah memasang diri berniat untuk sejalan dan seirama dengan kehendak Alloh) sudah seharusnya Taslim Pasrah dan Ridho pada semua ketentuan Alloh, beserta menepati adab dan kewajiban pada posisi kondisi dan situasi yang sedang dialaminya saat ini. 

Pasal ini nanti akan ada penjelasannya lagi dalam Bab Adab-Adab Seorang Salik. Entah adab kehambaan (kepada Alloh), kepada guru, maupun adab interaksi pada sesama. 

•• ============ ••
Wallohu A'lam Bishawabih
Intaha, ulasan Admin Mudarosah.

Artikel Terkait

Mudarosah Interaktif

Share Vote Comments And Other

Author Catatan Mudarosah.

Terima Kasih telah membaca Catatan Mudarosah
[ Definisi Jahil Menurut Ulama Tasawuf: Al-Hikam Pasal 17 ], Semoga bermanfaat.

Save as FAVORIT Bagikan Artikel

Halaman Catatan Favorit ada di kolom pojok kanan atas.
Contact and Support : admin.mudarosah@gmail.com

Vote
Post Location :
Kec. Lawe Sumur, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, Indonesia

Bab Dan Fasal

Komentar

Kirim Email
Buka Disqus

Komentar

Kebijakan berkomentar.