4 Sebab Yang Menghambat Tazkiyatun Nafs: Al-Hikam Pasal 13
سُبْحَـٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ
Mudarosah Al-Hikam Hikmah Pasal 13
✓ Teks Arab Matan Kitab Al-Hikam Pasal 13
كَيْفَ يُشْرِقُ قَلْبٌ صُوَرُ الأَكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِى مِرْآَتِهِ #؟
أَمْ كَيْفَ يَرْحَلُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُكَبَّلٌ بِشَهَوَاتِهِ #؟
أَمْ كَيْفَ يَطْمَعُ أَنْ يَدْخُلَ حَضْرَةَ اللهِ وَهُوَ لَمْ يَتَطَهَّرْ مِنْ جَنَابَةِ غَفَلاَتِهِ #؟
أَمْ كَيْفَ يَرْجُو أَنْ يَفْهَمَ دَقَائِقَ الأَسْرَارِ وَهُوَ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَفَوَاتِهِ #؟
✓ Bacaan Hikmah Al-Hikam Pasal 13
- "Kaifa yusyriqu qolbun, shuwarul akwaani munthobi'atun fii mir`atihi?"
- "Am kaifa yarhalu ilallohi, wahuwa mukabbalun bi syahwatihi?"
- "Am kaifa yathma'u an yadkhula hadzrotallohi, wahuwa lam yatathohar min janabati ghaflatihi?"
- "Am kaifa yarju an yafhama daqoiqol asrori, wahuwa lam yatub min hafwatihi?"
✓ Terjemah Hikmah Al-Hikam Pasal 13
- "Bagaimana bisa (cermin) hati itu memantulkan cahaya, sedang gambar bentuk-bentuk selain-Nya (begitu tebal, lengket, berkarat) menutupi permukaannya?".
- "Atau bagaimana bisa kamu berjalan (menuju dan mendekat) pada-Nya, sedang dirimu masih terbelit dengan Syahwat kesenangan".
- "Atau bagaimana bisa kamu mengidamkan masuk dalam Altar Kesucian-Nya (Hadroh Ilahiyyah), sedang dirimu tidak pernah bersuci dari junub kelalaian?".
- "Atau bagaimana bisa kamu mendamba kefahaman akan rahasia-rahasia kelembutanNya, sedang dirimu tak pernah bertaubat atas kekeliruan dan kesalahan?".
Kamus Kata Al-Hikam Pasal 13
![]() |
| 4 Sebab Yang Sangat Menghambat Tazkiyatun Nafs |
✓ Hikmah ke 01
✓✓ Yusyriqu Qolba
Yusyriqu makna aslinya itu bisa mencorong, bersinar, bercahaya, atau berpendar. Pada kalimat ini, Muallif menggunakan majaz isti'aroh yang sangat indah. Bagaimana kata Yusyriqu (bercahaya) ini digunakan untuk menggambarkan suasana hati (qolba). Bagaimana hati itu bisa bercahaya atau memantulkan cahaya (keimanan) kalo diibaratkan hati itu adalah sebuah cermin (merujuk mudhofnya atau susunan lafadz sesudahnya "fii mir'atihi" / di permukaan (cermin) hati.
✓✓ Shuwarul Akwan
Shuwarul Akwan makna aslinya itu segala bentuk yang ada. Dalam kontek ini yang dimaksudkan adalah "segala bentuk yang ada selain Alloh dari Asma', Sifat, dan Af'alnya Alloh". Selain Alloh mulai dari bentuk yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Dari segala bentuk yang nampak-wadak, maupun yang tidak nampak (hanya dalam kesadaran), mulai dari cita-cita, keinginan, imajinasi, prasangka, atau bisikan dalam hati.
Akwan (segala yang ada) itu jama' dari mufrod kata Kaun (yang ada). Sedang Alloh itu adalah Al-Mukawwin (yang mengadakan).
✓✓ Munthobi'atun Fii Mir'atihi
Munthobi'atun itu mustaq dari lafafz Thoba'a-Yathba'u yang mencetak, tercetak, tersegel, tercap merk, terstempel, atau ketutupan stiker. Pada kontek kalimat "Munthobi'ah/tercetak" ini, arti yang sesuai menurut penulis adalah terstempel atau ketutupan stiker. Bagaimana suatu stempel itu menolak dari klaim yang lain. Bagaimana suatu stempel itu membakukan yang distempeli.
Poin 01 ini kalau digabung artinya "Bagaimana cermin hatimu itu bisa disinari cahaya atau bercahaya atau memantulkan cahaya, sedang di permukaannya ketutupan stempel atau ketutupan stiker berupa bentuk selain Alloh?".
✓ Hikmah ke 02
✓✓ Yarhalu Ilalloh
Yarhalu itu mustaq dari masdar rihlah, bisa berarti berjalan, berangkat, sedang pergi, atau sedang menempuh perjalanan. Yang juga berarti ada suatu aktivitas yang sedang berjalan. Dalam kontek kalimat ini yang dimaksudkan adalah "mengadakan perjalanan menuju Alloh".
✓✓ Mukabbalun Bi Syahwatihi
Mukabbalun kalau anak pondokan maknai dengan Kesrimpet, sedang arti bahasa indonesianya bisa terjerat, terbelit, terikat, atau terbelenggu. Dalam kontek kalimat ini adalah terjerat atau terbelit atau terbelenggu dengan syahwat kesenangannya sendiri.
Lagi-lagi Muallif menggunakan Majaz Isti'aroh yang sangat indah. Bagaimana orang tidak bisa berjalan bukan karna terbelit tali, tambang, atau belitan dari faktor external, akan tetapi justru terbelit oleh syahwat kesenangannya sendiri, yang mana itu adalah dari faktor internal (faktor penyebab dari diri mereka sendiri) sehingga ia tidak bisa "berjalan menuju Alloh atau Yarhalu Ilalloh".
✓ Hikmah ke 03
✓✓ Hadzrotallohi
Hadzroh itu mustaq dari Hadzoro-yahdzuru-hadzroh, yang berarti hadir di hadapan atau sowan menghadap. Hadzroh Ilahiyyah bisa diartikan ruangan atau altar kesucian Tuhan. Hadzroh di sini dalam arti hadirnya hati bersama Alloh. Ia menghadap Alloh dengan tidak membawa muatan kepentingan lain selain memang ia sebagai hamba harusnya hadir menghadap Alloh dan hanya Allohlah tuhan yang seharusnya ia hadapi/ ia sowani, tidak yang lain dan tidak membawa kepentingan selain itu.
Hadzroh juga bisa diartikan suasana atau momen keintiman spiritual, suasana khidmat atau Momen Khusyuk dan Sakral. Seperti halnya saat ketika 2 orang yang saling cinta sedang telponan atau berbisik empat mata. Seperti halnya suasana ketika murid berhadap-hadapan dengan guru yang dicintai dan diseganinya. Seperti halnya saat ketika seorang lagi enak-enaknya munajat.
Suasana yang di situ adanya hanya fokus dan gak boleh ada yang ganggu. Suasana yang di situ ada berharap tapi juga malu, ada ingin tapi juga segan, ada bahagia tapi juga takut kalo dicuekin, ada perasaan yang campur aduk. Mungkin bisa diistilahkan dengan Ketegangan Emosional yang Manis" (Sweet Emotional Tension).
✓✓ Lam Yatathohar
Lam Yatathohar di sini adalah fi'il mudhori' yang didului lam jazm, yang berarti "tidak pernah bersuci".
✓✓ Min Janabati Ghaflatihi
Dari janabat (hadast besar) Ghaflahnya (kelalaiannya). Lagi-lagi Muallif menggunakan Majaz Isti'aroh yang indah. Bagaimana suatu Ghaflah atau kelalaian seseorang itu diibaratkan sebagai junub atau hadast besar, hingga akhirnya mengidamkam menghadap atau memasuki Hadzroh Ilahiyyah itu sebagai angan-anggan kosong karna ia tidak pernah mandi junub.
#Faidatun. Lupa atau Orang Lupa itu ada 3 model kelompok :
1. Sahwun : atau lupa-lupa ingat. Makanya ada istilah Sujud Sahwi. Alias lupa pada sesuatu yang saat ketika ia ingat, ia langsung bergegas untuk mengulang atau mengqodho' tanpa dikomando. Lupa yang aslinya orang itu gak pingin lupa, tapi entah karna ia kurang fokus akirnya ia lupa. Lupa model seperti ini itu dima'fu.
2. Nisyan : atau lupa karna unsur khilaf, keliru, salah faham, salah kesimpulan, salah prediksi, salah eksekusi, kebablasan, atau dorongan emosi/syahwat sesaat. Yang untuk menyadarkan lupa model ini itu harus ada yang mengingatkan, harus ada rangsangan, harus ada tekanan, peringatan, atau sedikit pukulan. Lupa model ini aslinya orangnya itu tau, tapi karna ada unsur di atas tadi, akirnya kebablasan.
Lupa model nomer 2 ini itu kalau sudah ingat biasanya berujung pada punya penyesalan yang mendalam, ada hasrat atau keinginan besar dari dalam hatinya untuk tidak mengulangi lagi alias bertaubat (ya meskipun terkadang nanti bisa lupa lagi, karna terkalahkan oleh hawa nafsu yang begitu kuat, sedang manusia itu Dhoif).
3. Ghaflah : Lupa yang akut atau amnesia atau lupa ingatan. Lupa yang sudah sampai tingkat menutup diri dari nasehat. Lupa yang sampai pada level menghalalkan segala cara "ora urus karo liyane, yang penting gue happy", "Pokoknya kalau gak seperti ini, No Way!!". Dalam kontek ini adalah lupa pada hukum-hukum Alloh, hukum Syari'at, atau Aturan hukum yang berlaku. Alloh dianggap tidak punya peran dalam kehidupannya, tidak ada andil dalam kemudahan dan keberhasilannya.
Lupa yang sampai pada tingkat "melanggar tapi gak merasa melanggar". Lupa model nomer 3 ini itu biasanya orangnya ngeyelan. Ya karna ia gak merasa bersalah, sudah menutup diri, cinta buta, gak merasa ada kewajiban yang dilupakan, gak merasa lupa. Wis blass gak kepikir, gak masuk kamus. Bukannya sadar, ia malah semakin larut bahkan malah bersenang-senang (jima' atau bersetubuh) dengan kelalaiannya itu. Maka bila ingin hatinya hadir bersama Alloh, ia harus meninggalkan itu semua alias mandi jinabat (taubat).
Qultu : Lupa yang model nomer 3 inilah yang dimaksud oleh Muallif Ibnu 'Athaillah dalam dawuhnya "Ghaflah" di atas. Yang mana Ghaflah itu diibaratkan suatu Hadast Besar yang harus disucikan dulu sebelum seseorang itu mau masuk pada Hadzroh Ilahiyyah. Ghaflah model inilah yang sering disinggung dalam Nash Al-Alqur'an dengan sebutan "Ghafiliin".
✓ Hikmah ke 04
✓✓ Yarju an Yafhama Daqoiqol Asrar
"Berharap diberi kefahaman atau bisa memahami rahasia-rahasia (ketuhanan) yang lembut". Rahasia lembut di sini adalah rahasia-rahasia tauhid, rahasia-rahasia Asma', Sifat, dan Af'alnya Alloh (rahasia kebijakan ketuhanan), yang mana dari pemahaman itu tambahlah keimanan dan keyakinannya atas kuasa dan keesaan Alloh.
✓✓ Wahuwa Lam Yatub Min Hafwatihi
"Ia tidak pernah bertaubat dari kesalahan dan kekeliruannya". Memahami rahasia tauhid, rahasia kebijakan Ketuhanan yang lembut itu selamanya tak akan pernah tercapai bila kamu masih terus-terusan (ishrar) dalam kesalahan dan kekeliruan/maksiat bathin. Karena kedua hal ini adalah berlawanan tidak akan bisa bersatu.
Contoh kasus, Saat kamu taat dan hatimu selalu hadir bersama Alloh, berarti secara otomatis saat itu kamu sedang tidak lupa. Sebaliknya, saat kamu sedang bermaksiat berarti secara otomatis saat itu kamu sedang lupa akan Alloh (lupa tidak sadar sedang diawasi Alloh, lupa perintah dan larangannya Alloh, lupa ancaman dan peringatan Alloh).
Kesadaran kefahaman seperti itulah contoh kecil dari Daqoiqul Asrar. Sedang rahasia-rahasia lembut yang disimpan Alloh itu buuanyakk sekali tak terbatas. Wallohu 'Alam.
Penjelasan Hikmah Al-Hikam Pasal 13
Berangkat dari hikmah Ayat Al-Quran : Q.S Al-Ahzab (33) ayat 4.
Dari penjelasan uraian pada Kamus Kata dan makna tersurat dari ayat-ayat di atas, bisa difahami bahwa ada hukum berlawanan, yang berarti ada 2 perkara yang tak akan bisa kumpul dalam satu waktu atau satu tempat atau yang lebih umum dikenal dengan "TEORI KESEBALIKAN".
Seperti contoh gelap dan terang. Saat gelapnya ada, maka secara otomatis pada waktu itu - di tempat itu tidak ada cahaya atau sedang tidak ada penerangan. Dari teori tersebut, bisa difahami juga, bila kamu pingin cahaya, ya jangan ada gelap di situ atau jangan tutupi dirimu dari cahaya, begitu sebaliknya.
Begitu juga saat dirimu dalam keadaan suci, maka bisa dan boleh bersentuhan dengan Qur'an. Begitu sebaliknya, bila dirimu dalam keadaan tidak bersuci maka tidak boleh bersentuhan dengan Qur'an. Maka bisa difahami juga, bila kamu pingin bersentuhan dengan Qur'an, maka jaga dirimu untuk selalu dalam keadaan suci.
Begitu juga saat hatimu dalam keadaan penuh dengan kesadaran-kesadaran Akwan (selain Alloh), maka kesadaran tentang Alloh (hukum-hukum Alloh, Sunnatulloh, Asma' Sifat dan Af'alnya Alloh gak akan bisa masuk, sudah gak kebagian tempat dalam hatimu alias sudah gak masuk kamus).
Implementasi Hikmah Al-Hikam Pasal 13
✓ Makna Hikmah Kalimat 01
"Bagaimana bisa cermin hatimu itu disinari cahaya atau memantulkan cahaya atau mendapat cahaya, hawong permukaan cermin (hatimu) itu sudah kamu tutupi dengan stiker atau cap selain Alloh".
Sebuah cermin bila kamu tutupi dengan Stiker, bila kamu sorot dengan senter atau cahaya, bukan cerminnya yang memantulkan sinar persis seperti cahaya yang menyinarinya, akan tetapi yang tampil jelas ya Stikernya itu.
Maksudnya, Alloh itu punya Asma' Sifat Af'al Al-Hadi (Yang Maha Memberi Petunjuk). Artinya, pada dasarnya Alloh itu selalu ngasih petunjuk pada makhluknya, gak pernah berhenti. Seperti pada kasusnya Iblis, aslinya Alloh itu sudah ngasih petunjuk pada Iblis berupa perintah untuk sujud pada Nabi Adam, namun karna ketutup kesombongan/merasa sombong karna merasa lebih baik dari Nabi Adam (ketutup stiker pengakuannya sendiri, yang disebut juga dengan Dzulmah (posisi gelap), maka secara otomatis Alloh sebagai Maha Pencipta yang sedang ngasih perintah (sebagai cahaya) itu gak masuk ke kamusnya Iblis alias gak kepikir.
Seperti contoh lagi, bila dalam hatimu itu isinya stiker keinginan "Duet duet duettt, sugihh sugihh sugihh", maka andaikata kamu mau bekerja, beramal, beribadah, berdoa, bahkan kamu mau bersusah payah tirakat atau mujahadah, umpamanya, semua isinya ya bentuknya duet dan sugehh itu tadi. Semua mengarah pada Stiker hatimu. Namun bahwa ada Alloh tuhan yang merintah, dan bahwa kamu sbg hamba hanya menjalankan perintah, bahwa menjalankan perintah itu harus ikhlas, wis gak kepikir, gak masok kamus.
Yang dimaksud Hati Bercahaya di sini adalah sinaran atau pantulan-pantulan keimanan, keyakinan, dan ketaqwaan. Seperti kemampuan berprilaku sabar, syukur, qoshrul amal, wara', zuhud, ikhlas, qona'ah, tawwakal, ridho, dan banyak lagi. Semua itu adalah pantulan dari keimanan, keyakinan, dan ketaqwaan. Karna andai ia gak yakin pada pengaturan Alloh yang Maha Mengatur, ya pasti gak sabaran. Inilah poin dari maksud "Teori Kesebalikan".
Seperti contoh kesebalikan lagi yaitu saat kamu menghadap ke timur, berarti secara OTOMATIS KAMU SEDANG membelakangi barat. Bila kamu condong ke selatan, maka berarti kamu SEDANG TIDAK CONDONG ke utara. Begitu juga, bila kamu sedang condong ke Bab Ndunyo, maka berarti kamu SEDANG TIDAK CONDONG ke Bab Akhirat. Lah kalau di tengah-tengah? Ya berarti kamu Stuck dan itu menyalahi kodrat sifat manusia itu sendiri atau Sunnatulloh.
✓ Makna Hikmah Kalimat 02
"Mukabbalun Bi Syahwatihi" terbelit dengan Syahwat kesenangannya sendiri. "Yarhalu Illalloh" berjalan berangkat menuju Alloh".
Masih dengan TEORI KESEBALIKAN, namanya berangkat ke... itu berarti sedang meninggalkan tempat yang saat ini. Artinya, jika kamu masih di tempat, ya berarti belum dinamakan berangkat/pergi. Begitu sebaliknya, bila kamu sudah menyatakan berangkat, ya berarti sudah meninggalkan tempatmu saat ini.
Diketahui bahwa semua ibadah itu harus berangkat meninggalkan. Seperti ketika berangkat sholat, berarti ia sedang meninggalkan enaknya tidur. Saat kamu puasa, berarti sedang meninggalkan enaknya makan. Saat kamu Zakat atau Infaq, berarti sedang meninggalkan enaknya menyimpan Duet/kesenangan. Saat kamu sedang Haji, berarti sedang meninggalkan enaknya kampung halaman.
Kalo maknanya Hikmah Kalimat 02 ini bisa diloncat.. "Bagaimana kamu bisa berangkat sholat, hawong kamu masih terbelit dengan enaknya tidur, enaknya main-main, enaknya gak ada yang ngatur-ngatur". "Bagaimana kamu bisa ikhlas, hawong kamu masih terjerat dengan enaknya pamrih imbal-balik?". Begitu kira-kira...
✓ Makna Hikmah Kalimat 03
"Am kaifa yathma'u an yadkhula hadzrotallohi wahuwa lam yatathohar min janabati ghaflatihi" (Bagaimana ia bisa mengidamkan (kepikiran) untuk bisa masuk (sowan-berhadapan) di hadapan Alloh yang Maha Suci, sedang ia tidak pernah bersuci (mandi besar) jari janabat (hadast besar) kelalaiannya)".
✓ Makna Hikmah Kalimat 04
Kesimpulan Mudarosah
Pada fasal 013 ini sebenarnya erat kaitannya dengan fasal sebelumnya yang menjelaskan perihal praktek Khumul untuk melatih Keikhlasan dan Praktek Uzlah yang dibarengi Tafakur dengan seabrek adab syarat rukun dan rumit-rumitnya.
Nah "TEORI KESEBALIKAN" pada fasal 013 ini itu menjelaskan tentang kronologi, logika-logika, atau Ma'arif untuk juga jadi bahan dalam tafakur. Diharapkan dengan mentafakuri hikmah fasal 013 ini, jadilah argumen atau alasan untuk mengukuhkan, memotivasi, atau menguatkan hatinya para salik dalam menempuh perjalanan menuju Alloh.
Bila kamu memilih dan fokus pada A, maka B akan kamu tinggal. Begitu juga, bila kamu sudah berniat menempuh perjalanan pada Alloh, maka selain yang berkaitan dengan kemashlahatan perjalananmu itu akan kamu tinggal atau kamu anggap gak penting.
Bila kamu suka pamer, suka pamrih, suka semua serba langsung terpenuhi, maka amal bathin (pantulan keimanan dan keyakinan) seperti Keikhlasan, Kesabaran, Rasa Syukur Tawwakal, rasa Ridho terhadap pengaturan Alloh itu jadi gak kepikir, jadi gak penting, atau kamu anggap gak penting alias gak masok kamus prioritas.
Seperti Firman Alloh dalam Al-Quran : Q.S Asy-Syura (42) ayat 20.
Artikel Terkait
Mudarosah Interaktif
Share Vote Comments And Other
Author Catatan Mudarosah.
Terima Kasih telah membaca Catatan Mudarosah
[ 4 Sebab Yang Menghambat Tazkiyatun Nafs: Al-Hikam Pasal 13 ], Semoga bermanfaat.
Halaman Catatan Favorit ada di kolom pojok kanan atas.
Contact and Support : admin.mudarosah@gmail.com




