Teknik Tazkiyatun Nafs Dengan Uzlah Dan Tafakur: Al-Hikam Pasal 12

Logo Resmi Kampus Mudarosah
Posted By : |
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

سُبْحَـٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

Interaktif Kajian Tasawuf Alhikam, Bab Uzlah Dan Tafakur
Maqolah 012, Attanbih Syarah Alhikam.  

Penjelasan Al-Hikam Pasal 12, Bab Uzlah Dan Tafakur

ما نَفَعَ القَلْبَ شَئٌ مِثْلُ عُزْلةٍ يَدْخُلُ بِها مَيْدانَ فِكْرَةٍ

Bacaannya 

"Maa nafa'a qolba syaiun mitslu uzlatin - yadkhulu bihaa maidana fikrotin". 

Terjemahnya 

"Tidak ada tehnik (yang lebih tokcer, cepat, tepat, dan efisien) yang bermanfaat untuk berbagai masalah hati (dalam cepatnya menyembuhkan penyakit hati) selain Uzlah yang dibarengi Tafakur". 

Kamus Kata : 

1. Maa nafa'a qolba syaiun 

Tidak ada yang lebih bermanfaat (memberi efek signifikan) untuk (berbagai permasalahan) hati, dalam konteks ini adalah bermanfaat untuk menyembuhkan penyakit-penyakit hati, mulai dari rasa cemas rasa khawatir rasa gundah rasa berkecil hati, rasa iri dengki benci jengkel marah, rasa angkuh, berbangga diri, rasa ingin dipuji, rasa pamer, rasa tidak dapat tempat di hati makhluk (rasa terkucil), dan lain sebagainya. 
Selengkapnya perihal penyakit-penyakit hati bisa muroja'ah dalam Bab Perilaku Hati Dan Nafsu. 

2. Nafa'a Qolba 

Karena hati manusia (secara makna) adalah tempat bersemayamnya Ma'arif-Ma'arif Ilahiyyah, pengenalan dan kesadaran-kesadaran Ketuhanan. Karna hatinya terikat atau terpenuhi atau tersibukkan pada selain Alloh (karna terpenuhi dengan perihal di atas tadi), akhirnya kesadaran Ketuhanan atau hukum-hukumnya Alloh itu terlewati, gak kehitung, gak masuk kamusnya, atau gak disadarinya. itulah yang dimaksud hati kena penyakit (buta mata hati). 

3. Mitslu Uzlatin 

Yang semisal Uzlah. Dalam konteks ini adalah tidak ada tehnik atau cara lain untuk penyembuhan penyakit hati yang lebih tokcer efeknya yang seperti Uzlah. Uzlah adalah pengasingan diri atau lebih spesifik lagi Mengkarantina Hati.

Jadi ibarat (hati) orang itu sedang sakit flu, maka harus dikarantina dari minum es. 
Ibarat orang itu lagi luka, maka bagian luka itu harus diperban (dikarantina) agar tidak terkena debu atau air, untuk mempercepat penyembuhan. 

Dalam konteks ini, ibarat orang itu (sakit hatinya) sering sombong angkuh atau berbangga diri, maka harus dikarantina dari sebab-sebab yang menyebabkan ia sombong atau berbangga diri. Dan contoh-contoh yang lain. 

4. Yadkhulu Biha Maidana Fikrotin 

Yang di dalam proses karantina itu tadi atau saat masa mengkarantina hatinya itu, ia juga masuk pada arena tafakur atau medan perenungan. 

Ibarat orang sakit bila pingin cepat sembuh, selain harus menjauhi pantangan atau sebab-sebab yang menghambat proses penyembuhan itu atau malah menggagalkan penyembuhan, ia juga harus minum obat atau vitamin. 

Jadi Uzlah itu mengkarantina atau bagian yang luka diperban. Sedang Tafakur itu obatnya atau vitaminnya. Dalam kontek ini yang luka atau terkena penyakit itu hatinya. Akirnya, proses penyembuhan hati (proses Tazkiyatun Nafs) itu akan sangat cepat sekali. 

Uzlah-uzlah tok tanpa dibarengi Tafakur, bukan penyakit hatinya yang sembuh tapi malah ditemui demit. Demikian juga, bila tafakur-tafakur tok tanpa dibarengi Uzlah, akirnya campur lagi dengan kebiasaan-kebiasaan lama, kumpul sama orang-orang lagi, akirnya mikir sana-sini, akirnya hatinya jadi kotor lagi. 

Bila ditanyakan 
"Kenapa harus menyertakan tafakur?" 
Ya, karena tafakur itu adalah cara atau katakanlah obat paling efektif dan efisien untuk segala permasalahan hati. Selain juga harus mengkarantina hati (Uzlah). 

Ibarat, orang jahat bisa jadi baik, orang bodoh bisa jadi mengerti dan faham, orang depresi frustasi putus asa bisa jadi punya gairah bertahan, orang pemarah tergesa-gesa bisa jadi kalem penyabar itu entah seberapa detik menit jam hari atau bulan sebelumnya PASTI melewati proses tafakur dulu (ia mau mikir-mikir dulu), ada sebuah kesadaran entah berapa persen yang masuk dalam hatinya. 

Perihal Medan Perenungan atau Tafakur masih akan banyak fasal yang menjelaskan tentang ini. Silahkan Muroja'ah dalam Bab Tafakur, masih dalam Web ini. 

Syarah Penjelasan Al-Hikam Pasal 12 

Penjelasan perihal proses Tazkiyatun Nafs dalam kontek ini Bab Uzlah dan Tafakur itu panjang sekali, maka keterangannya harus penulis pecah dalam beberapa artikel. Harap pembaca tidak menyimpulkan terlebih dulu, sebelum membaca ulasan-ulasan dalam artikel terkait fasal yang sedang dibahas. 

Berangkat dari dasar Uzlah Q.S Maryam (19) ayat 49.
فَلَمَّا ٱعْتَزَلَهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَهَبْنَا لَهُۥٓ إِسْحَـٰقَ وَيَعْقُوبَ ۖ وَكُلًّۭا جَعَلْنَا نَبِيًّۭا

"Maka ketika Nabi Ibrahim sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishak, dan Ya'qub. Dan masing-masingnya Kami angkat menjadi nabi".

Qultu : 
Inti dari uzlah yang dimaksud itu aslinya sebuah cara atau metode untuk melatih hati agar bisa terus terkonsentrasi pada Alloh (Kekuasaannya, Kasih Sayangnya, atau Paksaannya). Nah konsentrasi ini tak akan bisa sempurna kalo orang itu hatinya masih sibuk mikir yang lain (logika akal, logika sebab-akibat, atau teori-teori ilmu). 

Maksudnya, semua kejadian di muka bumi ini, dari yang lazim ataupun yang gak lazim itu semua karna Alloh. Kesadaran (sadar betul) seperti ini gak akan bisa terjadi kalo orangnya masih terpaku pada satu kesimpulan atau teori-teori akal. Oleh sebab itu dibutuhkan ketenangan, perenungan. Dan perenungan tidak akan sempurna juga kalo orang itu tidak menyendiri dalam ketenangan. 

✓ Lalu apa yang membuat orang itu terpaku pada logika kesimpulan sebab akibat? Hatinya tidak mau mengakui bahwa semua yang terjadi ini adalah atas Kehendak Alloh? Hatinya tertutup (buta) tidak mampu melihat hikmah atau makna tujuan inti, bahwa semua permasalahan atau peristiwa yang terjadi di muka bumi ini (yang pada hakikatnya adalah atas kehendak Alloh) itu punya tujuan atau ada hikmah dibalik itu semua.

Seperti firman Alloh dalam Q.S Mu'minun, ayat 115 : 
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَـٰكُمْ عَبَثًۭا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?". 

✓ Mengapa orang itu hatinya tertutup (ingkar) pada kebenaran (hakikat/yang sejati)? Kenapa hati itu bisa jadi buta (tertutup tidak mampu membaca dan menyadari hikmah dari suatu kejadian)?. Seharusnya yang benar orang itu harusnya begini, koq begitu. Harusnya itu bersyukur, koq malah gak nerima-malah ingkar ngamuk-ngamuk. Ia tidak mau kalo kebenaran itu keluar dari orang lain, akirnya terjadilah "Kesombongan Religius". 

Baca ulasannya dalam artikel "Inthimashil Bashiroh. Penyebab Hati Tertutup Dari Hikmah". 
========
✓ Uzlah ada juga yang menyebutnya dengan Khalwat. Kalo Uzlah, inti yang dieksekusi itu hatinya, kalo Khalwat itu memang menyendiri. Jadi, asal hatinya itu bisa berkonsentrasi pada Alloh itu dinamakan Uzlah. Entah orangnya di tempat ramai atau tempat sepi. Meski di tempat sepi kalau hatinya itu mikir aneh-aneh, masih mikir terpaku pada satu kesimpulan atau teori-teori akal atau masih terpaku pada sebab-akibat, ya pada hakikatnya ia belum Uzlah. 

✓ Uzlah ada juga yang mendefinisikan dengan Azl (mustaq azala atau i'tazala yang berarti mencabut/mencopot). Yaitu mencopot (meninggalkan) akhlak atau kebiasaan-kebiasaan buruk, diganti dengan akhlak dan kebiasaan-kebiasaan yang terpuji. Dari masih melakukan ibadah (kebaikan) karna terpaksa atau karna pamrih, diganti dengan melakukan ibadah kebaikan secara suka rela. Dari yang sering ingkar, diganti dengan kepatuhan. Dari yang biasa ngomong gak mikir dulu, diganti dengan kalo mau ngomong dipertimbangkan dulu. Dari yang pikiran, pemahaman atau kesadaran negatif berubah jadi pikiran-pikiran positif. 

✓ Dari yang buruk berubah ke yang baik. Dari yang ingkar berubah menjadi patuh. Dari yang pamrih berubah menjadi sukarela, dari yang pikiran sering ngeres negatif berubah menjadi pikiran selalu positif. Seperti itu kalo gak dilatih atau gak ada sesuatu (proses kejadian atau peristiwa) yang kuat yang mendorong orang itu mau berubah, itu sangat-sangat sulit sekali. 

✓ Uzlah itu adalah proses awal dalam perjalanan suluk (yang berisi Tazkiyatun Nafs). Kalo mau berubah baik, minimal orang itu harus menjauh, menghindar, meninggalkan sesuatu yang buruk (lawannya baik), minimal menghindar. Begitu kan ya logikanya. Nah proses menghindar, menjauh, meninggalkan itu lo yang disebut Uzlah (seminimalnya Uzlah). 

✓ Lalu selanjutnya ia juga harus merenung (tafakur/meneliti/refleksi) motif atau keniatan dalam hatinya. Ia menjauh, menghindar, atau meninggalkan keburukan itu tadi motifnya apa? Nah ini nanti akan dibahas lebih lanjut dalam Bab Tafakur. 

✓ Orang bisa sabar, mau sabar itu kan karna ia tau alasannya, ia nemu hikmah. Kalo gak tau alasannya mana bisa sabar. Orang kerja bisa nahan capek seharian kerja, karna ia tau (yaqin) nanti bakal gajian. Orang hamil kuat nahan sakit 9 bulan, nekat menghindari berbagai pantangan, ya karna ia yaqin anak dari buah hatinya itu nanti bakal jadi penentram hidupnya. Padahal itu kan sama-sama belum pasti, lahkoq masih mau sabar?! 

Seperti dalam Q.S Al-Kahfi , Ayat 68 : 
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِۦ خُبْرًۭا
"Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"

✓ Lalu apa saja tata tertib dan aturan main dalam Uzlah?
Baca ulasannya dalam artikel "Adab Aturan Dan Syarat Ketentuan Dalam Uzlah". Masih dalam pembahasan Hikmah Alhikam Fasal 012. 

Wallohu 'Alam bi Shawabih. 
Ulasan Admin. 

Artikel Terkait

Mudarosah Interaktif

Share Vote Comments And Other

Author Catatan Mudarosah.

Terima Kasih telah membaca Catatan Mudarosah
[ Teknik Tazkiyatun Nafs Dengan Uzlah Dan Tafakur: Al-Hikam Pasal 12 ], Semoga bermanfaat.

Save as FAVORIT Bagikan Artikel

Halaman Catatan Favorit ada di kolom pojok kanan atas.
Contact and Support : admin.mudarosah@gmail.com

Vote
Post Location :
Kuta Lang Lang, Kec. Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, Indonesia

Bab Dan Fasal

Komentar

Kirim Email
Buka Disqus

Komentar

Kebijakan berkomentar.