Khumul Praktek Mujarab Untuk Melatih Keikhlasan - Alhikam Fasal 011

Logo Resmi Kampus Mudarosah
Posted By : |
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

سُبْحَـٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

Maqolah 011 - Khumul Metode Mujarab Untuk Melatih Keikhlasan
Attanbih Syarah Alhikam, Hal 195. 

Penjelasan Hikmah Fasal 011 Kitab Alhikam. 

ادْفِنْ وُجودَكَ في أَرْضَ الخُمولِ - فَما نَبَتَ مِمّا لََمْ يُدْفَنْ لاَ يَتِمُّ نِتَاجُهُ 
Bacaannya : 
"Idfin wujudaka fii ardhil khumul, Fa maa nabata mimma lam yudfan la yatimmu nitajuhu".

Terjemahnya : 
"Pendamlah (sembunyikanlah) wujud ke-Aku-anmu dalam Bumi Penyamaran (beramallah dibalik layar). Maka sungguh, Amaliah yang tumbuh dari Wujud ke-Aku-an yang tidak dipendam itu hasilnya tidak sempurna". 

Kamus Kata : 

1. Idfin. 

Fi'il Amar dari dafana-yadfunu (tsulasi), yang berarti kuburlah, kebumikanlah, sembunyikanlah, samarkanlah, tutupilah. Namanya mengubur/menutup itu ya jangan sampai kelihatan atau andai terpaksa kelihatan ya cuma sebatas tanda nisan atau patok kuburannya aja. 

2. Wujudaka. 

Wujudmu. Dalam kontek fasal ini adalah Wujud Ke-Akuanmu atau wujud pengakuanmu. Diketahui bahwa orang dalam melakukan sesuatu (kebaikan), apalagi sesuatu itu bersifat bisa atau bakal bisa memberikan nilai tambah bagi yang melakukannya, seringkali orang itu ngaku-ngaku. "Semua ini karna jasaku, karna bantuanku, karna ideku dan ku ku ku yang lain. 

3. Fi Ardhil Khumul. 

Dalam bumi penyamaran. Kalimat ini termasuk diksi atau Isti'aroh yang indah. Renungkan, penyamaran yang diserupakan dengan bumi atau kerendahan atau kenetralan.

Khumul bisa berarti samar, tidak dikenal, tidak jelas, atau lemah. Termasuk kata yang sering diserap oleh kebanyakan orang jawa dengan istilah/sebutan "Kumel atau lemah atau tidak terurus atau compang-camping atau orang yang tidak dianggap atau seperti orang yang tak punya tujuan pasti. 

Syaikh Ibnu Ajibah R.A dalam kitabnya "Iqadzul Himam Fii Syarh Hikam" secara jelas mendefinisikan Khumul dengan "Suquthul manzilah indannaas' (jatuhnya kedudukan/kemuliaan nama dari pandangan orang-orang. ~ Iqadzul Himam, Hal 64. 

Qultu : Definisi Syaikh Ibnu Ajibah ini sangat menohok ke inti praktek khumul. Kenapa? Karena Khumul dengan berbagai macam contoh praktek dan versinya, kalau namanya belum jatuh dari pandangan orang-orang itu belum shahih. Kalau namanya masih punya tempat di hati masyarakat (masih dianggap/masih direken masyarakat) itu berarti Khumulnya belum shahih. Khumul shahih sampai pada tingkat..."bila ada, gak dianggap.  Bila tidak ada, gak ada yang menanyakan".

4. La Yatimmu Nitajuhu. 

Karna sesuatu (benih kebaikan) yang tidak dipendam dalam bumi, tidak akan sempurna hasilnya. Seperti halnya tumbuhan yang tidak ditanam dalam tanah, (secara pertumbuhan) mungkin bisa tumbuh subur, tapi buahnya gak ada atau kalau ada tidak akan maksimal. Itu sudah otomatis. 

Begitu juga dengan amal. Bila wujud ke-Akuan si Pengamalnya itu tidak dipendam, maka wujud ke-Akuannya itu nanti akan minta bagian, akan ngaku-ngaku. "Ini lho hasil karyaku", "Semua ini karna jasaku", Kalau bukan karna aku, mana mungkin bisa begini?", "Memang sering membantu, tapi kalau gak diposting, lah gimana orang-orang bisa tau kalau kamu Ahli Membantu?", dan pengakuan-pengakuan yang lain. 

Akirnya mau tak mau ia harus eksis atau mengeksiskan diri, tuntutan katanya. Dari eksis itu nanti akan merembet pada banyak permasalahan lain yang berpotensi mendowngrade atau mencemari keikhlasannya. Mulai Mudahanah, Riya', Takabur, Syirik Khofi, dlsb. 

5. Nitajuhu. 

"Tidak sempurna buahnya". Buah apa sih? Yaitu buahnya amal alias Sirrul Ikhlas (bisa berupa tambahnya keimanan, keyakinan, dapat hikmah, dapat ma'arif kefahaman² akhirat, atau funun mukasyafah (berbagai macam kesadaran-kesadaran baru perihal Alloh, yang mana kesadaran itu membuat keyakinannya pada Alloh semakin mantab).

Fasal ini kan masih berkaitan erat dengan teknik melatih keikhlasan. Jadi bila suatu amal itu dilakukan dengan ikhlas (dgn cara memendam ke-Akuannya si Pengamal), maka sudah barang tentu akan banyak membuahkan hasil. Entah dari sisi lahir atau bathin. 

Dawuh sebagian Para Wali Abdal (riwayat dari Abu Nuaim R.A, Hilyatu Auliya', 10/318) : 
لا تحب أن تعرف - ولا تحب أن تعرف أنك ممن لا يحب أن تعرف 
"Kamu jangan suka terkenal (diketahui publik). Dan jangan suka kalau orang-orang tau bahwa dirimu orang yang tidak terkenal". 

Qultu : Maksudnya dawuh, kalau kamu pingin dapat Ma'arif-Ma'arif Ilahiyyah (seperti Para Wali Abdal), kamu jangan suka terkenal (kalau jadi perhatian/pembicaraan/jadi pertimbangan publik/masyarakat). Dan jangan suka kalau kamu sampai diketahui "bahwa kamu termasuk orang yang tidak suka keterkenalan". Tidak suka terkenal, tapi diomong-omongkan pada publik "aku ini gak suka terkenal lo", ya pada bae. ~ Intaha.

** Baca kisah hikmah dari dawuh Abu Nuaim di atas dalam pembahasan "Hikmah Alhikam Fasal 228" atau lihat Attanbih Syarah Alhikam, Hal 807. 

** Baca juga Bab Buahnya Amal atau Balasan-Balasan Amal dalam pembahasan "Bab/Fasal Balasan Amal".

Syarah Penjelasan Hikmah Fasal 011 Kitab Alhikam. 

Setelah Muallif Alhikam Ibnu Athaillah Assakandari Rahimahulloh menjelaskan tentang logika dan filosofi Keikhlasan dalam fasal sebelumnya Hikmah Fasal 010, dan menjelaskan Pengaruh Keikhlasan/Level Ma'rifat Billah dalam kesungguhan beramal pada Hikmah Fasal 009, Dalam Hikmah Fasal 011 ini, Muallif menjelaskan metodemya atau caranya atau teknik untuk melatih Keikhlasan. 

Dawuh Ibnu Abbad Arrundi Pensyarah Kitab Alhikam (Attanbiih atau lebih dikenal dengan nama "Mawahib Ghaitsul Aliyyah" : 

"Tidak ada yang lebih berbahaya bagi seorang murid suluk melebihi keterkenalan dan keviralan. Karena disitulah banyak kepentingan-kepentingan yang disukai oleh nafsu yang mana seorang murid suluk sangat ditekankan sekali untuk meninggalkannya dan bermujahadah dengan sungguh-sungguh bilamana ia ketepatan berada di posisi itu. 

Ada keringanan atau sebentuk kemurahan dalam aturan dan kode etik murid suluk pada kepentingan-kepentingan lain namun Selain keterkenalan dan keviralan tadi. Karena suka dengan 2 poin itu (keterkenalan dan keviralan), itu merusak (munaqidhun) Ubudiyyah, yang mana Ubudiyyah itu jadi tujuan utama si Murid Suluk". 
~ Intaha Ibnu Abbad, Attanbiih Syarah Alhikam, Hal 194. 

Munaqidhun itu merusak atau membatalkan atau menggagalkan. Ibarat kamu sudah wudhu bersuci lalu kamu buang angin, maka wudhumu jadi batal. 

Lalu, apa alasannya koq keterkenalan dan keviralan itu harus dijauhi oleh seorang murid suluk? Lihat dawuh Para Tokoh Tasawuf berikut... 

Dawuh Para Tokoh Tasawuf Perihal Khumul. 

1. Syaikh Ibrahim Ibn Adham R.A

ما صدق الله من أحب الشهرة
"Belum dikatakan seseorang itu jujur (shiddiq/ikhlas) selama ia menyukai Syuhroh (keterkenalan). 

Qultu : Dengan dirinya sendiri aja ia belum mampu untuk jujur (masih membawa kepentingan pada amal ibadahnya) apalagi pada Alloh. 

2. Abu Ayyub As-Sakhtiyani R.A

والله - ما صدق الله عبد إلا سّره ألا يشعر بمكانه 
"Demi Alloh, belum dikatakan seseorang itu jujur pada Alloh (ikhlas), selama Alloh belum menyembunyikan tempatnya (namanya, kema'rifatannya)". 

3. Bisr Ibn Harist Al-Hafi R.A 

Saat ketika ada seorang lelaki yang datang meminta petuah darinya : 

فقال - أخمل ذكرك - وأطب مطعمك 
"Syaikh Bisr berkata..."Sembunyikanlah namamu dan perbaikilah makananmu (makanlah dari yang halal)". 

4. Bisr Ibn Harist Al-Hafi R.A 

لا يجد حلاوة الأخيرة رجل يحب أن يعرف الناس 
"Tidak akan bisa menemukan (merasakan) manisnya (amal) Akhirat orang yang menyukai keterkenalan". 

5. Referensi selengkapnya dawuh para tokoh perihal khumul, bisa muroja'ah di kitab...
- Attanbih Syarah Alhikam, Hal 195. 
- Shobul Khumul.
- Attawadhu' wal Khumul (Mausu'ah Ibnu Abi Dunya) Hal 35 sampai selesai. 

Filosofi  Khumul : 

Orang beramal atau katakanlah mengerjakan kebaikan itu seringkali membawa motivasi pendorong atau sebut saja keniatan. Entah dalam ia melakukan amal itu berdasar mempertimbangkan atau dipertimbangkan orang lain (entah karna sungkan, segan, gak enakan) atau biar dilihat orang lain (biar terlihat wahh, mencari validasi, untuk menaikkan engagement, atau motif lain selain karna Alloh). 

Kalau gak bermotif nyawang, ya biar disawang, akhirnya amal atau kebaikan itu gak murni lagi karna Alloh. Nah untuk menutup celah keniatan selain Alloh itu ikut nebeng dalam amaliah, maka tidak akan sempurna bila tidak khumul. 

Khumul sampai pada level "adanya gak dianggap. Bila gak ada, gak ada yang menanyakan". Dari sisi nafsunya (diri sendiri) gak dapat tempat-gak dapat nama, dari sisi orang-orang gak dianggap. Akhirnya ia beramal bukan karna mempertimbangkan siapa-siapa, ia hanya mempertimbangkan "bahwa kebenaran ini harus disampaikan, bahwa kebenaran ini memang harus diketahui publik, bahwa tabligh dan amar ma'ruf ini adalah perintah Alloh, ikut sunnahnya Nabi. Soal saya dikenal atau tidak, orang² mengenal saya atau tidak, dianggap atau tidak, mau ngikut atau tidak, wis ora urusanku".

Karna kalau nama itu nanti sampai muncul ke permukaan (terkenal), maka pasti akan ada banyak kepentingan yang ikut nebeng pada amal kebaikan selanjutnya. Entah berikutnya ia beramal berdasar pesanan (endors), berdasar engagement, berdasar rasa sungkan pada pengikut-pengikutnya atau ada kepentingan lain, minimal akan sering muncul pengakuan-pengakuan. Ibarat murid suluk koq (ingin atau suka) terkenal atau ingin diketahui publik atau suka kalo jadi pertimbangan publik, berarti ia membuka Kotak Pandora (sumber-sumber kuat yang mencemari keikhlasan). 

Terkenal, jadi perbincangan publik, jadi pertimbangan publik (dalam hal kebaikan mestine) aslinya itu baik sekali, tapi saat hal itu dijadikan tujuan terus akirnya ia suka (hatinya tertaut) kalo di posisi itu (karna mungkin banyak fasilitas yang didapat) itulah yang jadi sumber masalah. 

Untuk mengetest hal ini (kamu suka atau tidak dengan keterkenalan. Hatimu tertaut atau tidak dengan Syuhroh) itu gampang sekali. 

Coba kamu remove follower-followermu. Dalam hal ini, prakteknya saat kamu sudah terkenal, hapus akunmu atau ganti dengan akun baru, mulai dari nol dan ganti username, Adakah dihatimu rasa berat atau rasa sayang? Nah di situ nanti akan ketahuan.  

Kecuali kalau keterkenalan itu gak bisa kamu hindari alias wajib dari sisi tugas (murid yang ketepatan dapat posisi pejabat publik misalnya), maka untuk ngetest ia suka atau tidak dengan Syuhroh atau untuk ngetest keikhlasannya juga beda lagi. 

Hadza wadhihun jaliyyun ma'luumun (praktek ngetest seperti contoh di atas sangatlah jelas dan pelakunya gak akan bisa mengelak). 

Perihal contoh praktek Khumul yang dilakukan oleh para Tokoh Tasawuf, baca ulasannya pada artikel ini "Praktek Khumul Dari Para Tokoh Tasawuf". 

Refleksi Khumul. 

- Berangkat dari pengertian Q.S Qashash, Ayat 83 : 
تِلْكَ ٱلدَّارُ ٱلْـَٔاخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّۭا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فَسَادًۭا ۚ وَٱلْعَـٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa". 

Qultu : "Uluwan fil ardhi" (kedudukan tinggi di muka bumi) itu bisa berarti kesombongan, kedudukan tinggi di tengah-tengah makhluk (keterkenalan, pengaruh, jadi pertimbangan orang-orang), yang semua itu dijadikan tujuan (yuridu), memang tujuan awalnya arahnya keterkenalan itu. 

Lah kalau sudah terkenal - jadi yang terdepan dapat apa?  Ya dapat banyak, menang banyak. Entah dari yang bentuknya materi atau yang imateri. 

- Dari Hadist Shahih (no 2965) riwayat Imam Muslim dari Sahabat Saad Ibn Abi Waqash R.A : 
إن الله يحب العبد التقى الغنى الخفى
"Sesungguhnya Alloh mencintai hamba yang takwa yang kaya (tidak butuh dari selain Alloh) yang samar (jauh dari keterkenalan)". 

Kesimpulan Alhikam Fasal 011. 

Dari uraian yang telah dijelaskan, bisa diambil kesimpulan bahwa keterkenalan (suka terkenal) itu bisa mencemari (aqdaha-yuqdihu) keikhlasan seseorang menurut kadarnya masing-masing. Tapi bukan berarti amal kebaikan yang dikerjakannya itu jelek/buruk lo ya!!. Hanya saja nilai atau value amaliah kebaikan itu jadi tercemar, berkurang, atau bahkan malah sampai menghilangkan atau merubah nama aslinya (karna pencemarannya terlalu masif). 

Ibarat keikhlasan seseorang itu nilainya ada yang 90%, 50%, 20%, atau bahkan 0%, lah keterkenalan itu nilai pencemarannya 50%. Akhirnya yang asalnya ikhlas 90% karna tercemar 50% jadi cuma 40%. Yang asalnya ikhlas 50% jadi zonk 0%. Apalagi yang asalnya cuma ikhlas 20% - 0%, akirnya malah jadi defisit (ora ikhlas blass). Atau bahkan sampai 100% merubah keniatannya (full melenceng dari tujuan awal). 

Bagi orang awam, masalah keikhlasan berikut hal yang bisa mencemari keikhlasan beramal mungkin suatu hal yang biasa, tapi bagi murid suluk yang memang sedari awal sudah niat upgrade rohani, yang mana keikhlasan itu sudah jadi tujuannya, maka sudah barang tentu perkara-perkara yang bisa merusak atau berpotensi menggagalkan atau mencemari tujuannya itu harus ditutup rapat-rapat. 

Wallohu 'Alam bi Shawabih. 
Intaha, Ulasan Admin. 

Referensi : Attanbih Syarah Alhikam Fasal 011. 



Artikel Terkait

Mudarosah Interaktif

Share Vote Comments And Other

Author Catatan Mudarosah.

Terima Kasih telah membaca Catatan Mudarosah
[ Khumul Praktek Mujarab Untuk Melatih Keikhlasan - Alhikam Fasal 011 ], Semoga bermanfaat.

Save as FAVORIT Bagikan Artikel

Halaman Catatan Favorit ada di kolom pojok kanan atas.
Contact and Support : admin.mudarosah@gmail.com

Vote
Kirim Donasi
Post Location :
Kuta Lang Lang, Kec. Bambel, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, Indonesia

Bab Dan Fasal

Komentar

Kirim Email
Buka Disqus

Komentar

Kebijakan berkomentar.
  • Berkomentar dengan bahasa baik dan patut.
  • Jangan menyertakan link (selain link catatan pembahasan terkait).
  • Disclaimer Kampus Mudarosah lebih lanjut bisa dibaca Di SINI.
  • Kontak dan dukungan bisa hubungi admin.mudarosah@gmail.com.