Analogi Dan Reaksi Praktek Khumul Pada Murid Suluk - Alhikam Fasal 011

Logo Resmi Kampus Mudarosah
Posted By : |
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

سُبْحَـٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

Indikasi Khumul Bereaksi Pada Kerohanian Murid Suluk. 

Setelah sebelumnya menjelaskan filosofi dan refleksi praktek khumul (Alhikam Fasal 011), pada artikel ini akan membedah reaksi-reaksi bila praktek khumul itu dilakukan dengan sebenarnya dan sesuai aturan, maka akan menumbuhkan kesadaran-kesadaran kerohanian baru (secara motivasi berfikir, secara murid itu bersikap, kesadaran, dan tentu bertambahnya keniatannya untuk ikhlas).  

Reaksi Praktek Khumul Pada Murid Suluk - Alhikam Fasal 011
 Reaksi Khumul, Attanbih Syarah Alhikam Hal 198. 

Analogi Reaksi Khumul

Sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa Khumul itu intinya menutup rapat bug atau celah potensi dari Syuhroh atau Keterkenalan. Dengan tujuan menekan seminimal mungkin potensi-potensi yang bisa mencemari keikhlasan, yang mana keterkenalan itu jadi pintu masuk potensi pencemarannya. 

Maka saat ketika seorang murid suluk itu memendam ke-Akuannya (Khumul alias ora dikenal wong alias ora dianggep), dan ia selalu melatih diri dengan Tawadhu' dan Rendah hati, dan itu terus dijalaninya sampai menjadi kesadaran dan perilakunya. Sampai pada tingkat... "tidak dianggap ya gapapa, diremehkan, dianggap rendah "kamu tu siapa" ya gapapa", sama sekali hatinya gak ada rasa berat atau rasa kecil hati (yang artinya, Nafsu ingin dapat tempat di hati makhluk itu sudah bisa ia kendalikan), 

Maka akhirnya nafsunya menjadi bersih (sudah terlatih kalau beramal tidak membawa kepentingan diri), yang tentu akirnya dorongan-dorongan untuk beramal ikhlas itu semakin menguat. Dan akhirnya ia memperoleh kedudukan khusus (ter-stempel orang yang berusaha ikhlas dgn sebenarnya), yang akhirnya juga ia mendapat rasa mahabbah (rasa cinta kalo beramal ikhlas), yang mana rasa Mahabbah ini adalah pemberian khusus dari Alloh. 

Esensi Reaksi Khumul. 

Sebagai seorang hamba tentu sudah menyadari bahwa kedudukan seorang hamba itu rendah atau Dzul (ya karna menyadari tak mampu apa-apa, tak punya apa-apa, karna yang mampu dan yang punya itu hanya Alloh semata), di bawah (tidak tampil ke permukaan/terkenal atau gak dianggap), sampai pada tingkat tak menemukan rasa dalam kerendahan dan tidak dianggap tadi, yang pada kondisi seperti ini akirnya.."dipuji, diapresiasi, disanjung ya biasa. Direndah-rendahkan, gak dianggap ya sudah biasa". 

Andai dipuji, ia merasa bahwa yang mampu dan mengkondisikan dirinya dipuji itu Alloh, maka kalau mau terima kasih ya ke Alloh. Andai ia dihina direndah-rendahkan gak dianggap, ia merasa "ya sudah semestinya, ya karna sifatnya hamba itu memang rendah, digawe bal-balan sama Yang Kuasa". Akhirnya dari kesadaran seperti itu dan test-testsan seperti itu (gak dianggap namun tetap biasa) koq lulus, maka akirnya kebiasaan itu jadi sifat dan perilakunya. 

Bahkan terkadang saking Khumul itu sudah jadi kebiasaan (Khumul sudah jadi sifat dan perilakunya) bisa jadi "tidak konangan wong/tidak terpublish" itu malah jadi kebanggaan. Kalau ngamal koq ketahuan orang, malah blass gak enak. Dan kalau ngamal koq gak ketahuan orang, malah ayem. Bisa terjadi seperti itu. 

Seperti halnya orang yang terbiasa ngamal dilihat orang, harus diposting, harus pake kamera, harus divalidasi orang, harus diketahui orang, kalau ketepatan gak dilihat orang, ia akan demam, atau apalagi ketepatan pendapatnya diremehkan orang, ia bisa langsung mencak-mencak panas demam. Rasanya kalau gak divalidasi orang itu gatel. 

Seperti itu juga orang yang sudah terbiasa Khumul (ngamal gak dilihat orang), kalau ketepatan ia ngamal koq diketahui orang, malah demam alias ora penak blass - ora bebas. Ketahuan orang aja bisa demam, apalagi viral terkenal, ya malah kayak kejerat lehernya. Ia menganggap dan merasa bahwa dibuntuti orang, diikuti orang, atau validitas itu adalah ngrecoki, ngeriwuk'i, dan tentu potensi tercemarnya keikhlasan juga makin terbuka lebar. 


Andai ditanyakan... 

"Koq bisa sampai demam sebegitunya, gimana analoginya?".

Dijawab... 

"Tau orang korupsi kan ya!. Orang korupsi itu supaya korupsinya dapat banyak, aman sampai akir hayat, itu korupsinya harus dirahasiakan serapat mungkin. Kalau bisa, orang terdekat pun jangan sampai tau. Apalagi pada media massa atau pada orang yang mulut ember, ya malah lebih ditutup serapat-rapatnya. 

Nah seperti itu juga orang ngamal. Bila pingin jarahan ngamalnya itu dapat banyak dan aman sampai akhir hayat, ya jangan sampai ada orang yang tau. Bila koq terpaksa tau, ya jangan sampai tau ngamal yang poin-yang andalan. Kalau terpaksa tau ngamal yang receh-receh, its okelah. 

Intinya, selama ia bisa menghindar dari pemberitaan orang, bagi orang yang Ahli Khumul pasti akan dilakukannya, ia akan melakukan berbagai cara (selama cara itu tidak melanggar syari'at) untuk menutup itu, hawong diketahui orang (pada amal yang sedang dilakukannya) itu juga gak wajib". 

Bahkan ada dari sebagian ulama ahli tasawuf yang menekuni di bidang ini (dalam menangani keterikatan hati pada keterkenalan atau kedudukan), itu sampai mengambil tindakan extrim sebagai penanganannya. Semisal dengan melakukan aktivitas atau pekerjaan yang bagi umumnya orang itu dianggap rendahan (selama aktivitas itu tidak melanggar syari'at). Ya semata untuk mengamankan korupsi ngamalnya itu tadi. Haha..

Untuk perihal di atas, baca ulasan selanjutnya tentang "Contoh Praktek Khumul Oleh Para Tokoh Tasawuf". 

Bila disangkakan...

"Berarti orang Khumul itu Introvert ya?". 

Dijawab... 

"O tentu tidak. Orang Khumul itu sudah ada keniatan sebelumnya dan punya himmah/tujuan yang ketepatan memang prosesnya begitu (seperti introvert dalam hal sosialisasi, tapi tidak sama). Selain itu, orang Khumul juga punya kefahaman dan kesadaran atas apa yang sedang ia lakukan itu. Selain itu juga, Orang Khumul saat menyendiri itu juga punya tugas/aktivitas kerohanian (wirid/tafakur/arahan dari guru pembimbingnya).  

Sedang orang introvert (menurut penulis pribadi)  itu madesu (masa depan suram). Ia tidak tau apa yang sedang dilakukannya, gak ada tujuan, gak ada himmah, gak ada keniatan, tidak tau posisi. 

Ibarat, sama-sama menahan lapar/tidak makan, namun value dari orang yang tidak makan karena berhemat/gak ada makanan itu akan beda dengan orang yang nahan lapar yang sedari awal memang niat puasa. 

Ibarat, sama-sama suka begadang malam/terjaga malam, begadangnya orang yang memang niat mau qiyamul lail itu beda jauh nilainya dengan orang yang bergadangnya karna hiburan". ~ intaha.

Kesimpulan.

Intinya, selama sesuatu itu (entah itu amalmu, kelebihanmu, titelmu, kekhususanmu, karomahmu, privilege-mu, niat dan cita-citamu, atau bahkan pengalaman-pengalaman rohanimu ), itu gak wajib untuk ditampilkan atau gak wajib diketahui publik, maka sembunyikanlah, rahasiakanlah. 

Bila pingin curhat, curhatlah pada...

1. Gurumu (mursyid yang kamu percaya, bila punya), atau...

2. Orang yang kamu yakini (terbukti) ahwal kerohaniannya itu lebih baik dari kamu. (Ahwal kerohanian = Syariatnya tertib, tawadhu', sabar, bisa dipercaya, gak aneh-aneh, gak mulut ember, dan tidak pamrih tentunya). 

3. Sahabat yang kamu percaya. (Shahib yaitu orang yang bila dihadapkan yang tidak baik-yang buruk-yang melanggar, ia mampu menghindar. Dan bila dihadapkan dengan kebaikan, ia akan cepet-cepet mangkat). 

** Antara 3 jenis orang itulah yang bisa kamu ajak musyawarah. Perihal Shahib akan dijelaskan lebih lanjut dalam Bab Adabu Suhbah dan dalam Bab Memilih Guru. 

Sebagaimana dawuh dalam Q.S An-Nahl Ayat 43 dan Q.S Al-Anbiya' Ayat 7 : 

فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Dan juga Q.S Yasin Ayat 21 : 

ٱتَّبِعُوا۟ مَن لَّا يَسْـَٔلُكُمْ أَجْرًۭا وَهُم مُّهْتَدُونَ

"Ikutilah (petunjuk/arahan) orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk". 

===========

Wallohu 'Alam bi Shawabih. 

Intaha, Ulasan Admin. 


Artikel Terkait

Mudarosah Interaktif

Share Vote Comments And Other

Author Catatan Mudarosah.

Terima Kasih telah membaca Catatan Mudarosah
[ Analogi Dan Reaksi Praktek Khumul Pada Murid Suluk - Alhikam Fasal 011 ], Semoga bermanfaat.

Save as FAVORIT Bagikan Artikel

Halaman Catatan Favorit ada di kolom pojok kanan atas.
Contact and Support : admin.mudarosah@gmail.com

Vote
Kirim Donasi
Post Location :
Karaban, Kec. Gabus, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Indonesia

Bab Dan Fasal

Komentar

Kirim Email
Buka Disqus

Komentar

Kebijakan berkomentar.
  • Berkomentar dengan bahasa baik dan patut.
  • Jangan menyertakan link (selain link catatan pembahasan terkait).
  • Disclaimer Kampus Mudarosah lebih lanjut bisa dibaca Di SINI.
  • Kontak dan dukungan bisa hubungi admin.mudarosah@gmail.com.