Esensi Dan Praktek Khumul Para Tokoh Tasawuf: Al-Hikam Pasal 11

Logo Resmi Kampus Mudarosah
Posted By : |
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلرَّحِيمِ

سُبْحَـٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

Esensi Dari Praktek Khumul: Al-Hikam Pasal 11  

Sudah dijelaskan pada artikel sebelumnya (Hikmah Alhikam Fasal 011) yang mengulas filosofi dan analogi-analogi dari praktek khumul secara umum, pada artikel ini penulis akan menegaskan sekali lagi Esensi Khumul beserta Contoh Praktek Khumul yang dijalani oleh sebagian Para Tokoh Tasawuf. 

Penegasan esensi dengan tujuan agar supaya para murid suluk bisa mengukur dirinya sendiri, "sudah sampai manakah praktek khumul yang ia jalani?", "sudah sesuaikah analogi dan filosofi praktek khumul yang selama ini ia fahami?". 

Esensi Praktek Khumul Para Tokoh Tasawuf - Alhikam Fasal 011
 Esensi Dan Praktek Khumul. Iqadzul Himam Syarh Hikam, Hal 48. 

Syaikh Ibnu Ajibah R.A dalam kitabnya "Iqadzul Himam Fii Syarhi Hikam, Hal 48" menjelaskan Esensi Khumul secara spesifik dan lebih mendalam, bahwa "inti dan esensi Khumul yaitu jatuhnya martabat kedudukannya dari pandangan orang-orang (masyarakat), beserta juga menyembunyikan rahasia kewaliannya". 

Qultu : Jatuhnya kedudukan yang dimaksud bisa nama baiknya yang jatuh, martabatnya, atau pengaruhnya. Yang intinya asalnya tinggi jadi rendah, asalnya terpandang jadi jatuh, asalnya jadi pertimbangan orang jadi gak dianggap lagi. Entah jatuhnya tadi karna suatu masalah yang memaksa martabatnya jadi jatuh, atau memang sengaja menjatuhkan martabatnya sendiri (karna niat khumul). Rahasia kewalian yang dimaksud adalah Ma'arif Ilahiyyah (Para Auliya' itu selalu diliputi Kesadaran-Kesadaran Ketuhanan), nah itu juga harus dirahasiakan. Sampai pada tingkat..."adanya, gak dianggap. Bila tidak ada, gak ada yang nanyakan". ~ Intaha. 

Syaikh Ibnu Ajibah R.A berkata... "Setiap yang martabatnya jatuh di mata masyarakat dan rahasia kewaliaannya juga masih tertutup rapat itu namanya Khumul, meski secara dzahir ia masih beraktivitas di tengah-tengah masyarakat". 

Contoh Praktek Khumulnya Para Tokoh Tasawuf. 

1. Khumulnya Imam Abu Hamid Al-Ghazali R.A 

- Jadi kuli panggul kulit sapi. 
- Jadi petugas kebersihan pasar. 
- Jadi kuli bawa air. 

Bagaimana Al-Ghazali seorang terhormat Alim Terkenal jadi rektor dari Universitas Nidzomiyyah saat itu, saat mau suluk harus rela meninggalkan atribut kehormatannya. 

2. Khumulnya Imam Syasytari R.A beserta Gurunya Ibnu Sab'in R.A

Asalnya Syaikh Syasytari (Pendiri Thoriqoh Syasytariyyah) ini adalah putra seorang Amir (tokoh pemimpin), dan beliau sendiri adalah seorang Waziir (Menteri). Saat ia mau masuk Tasawuf oleh gurunya diberi test ujian. Beliau diperintah untuk meninggalkan atribut Nama, kekayaan, dan kekuasaannya. Lalu Beliau diperintah untuk (jadi pengemis gila) memakai pakaian bekas dan membawa kentongan (tabuhan rebana) untuk bertabuhan di lorong-lorong pasar. 

Bagaimana seorang yang asalnya terhormat berkedudukan tinggi di mata masyarakat, lalu saat mau memasuki suluk, ia harus rela meninggalkan semua atribut itu. 

3. Khumulnya Murid dari Abu Yazid Al-Busthomi R.A

Saat ketika sang murid yang sudah 30 tahun ikut pada Abu Yazid mengadu ke gurunya perihal sudah sekian lama ia ikut Abu Yazid koq masih belum nemu halawah dalam Dzikirnya. Dijawab Abu Yazid... "Karna kamu terhijab oleh nafsumu sendiri".

Lalu sang guru menyarankan untuk.."cukur rambut dan jenggotnya (gundul), lalu pake pakaian lusuh, lalu make kalung kurma (kalung dari kurna yang diikat-ikat), lalu disuruh untuk berteriak manggil-manggil anak-anak kecil. 

"Siapa yang mau ngetak kepalaku, aku kasih kurma", lalu ia disuruh seperti itu di lorong-lorong pasar tempat ia dihormati orang-orang. Sampai orang² itu menyebut kalo dia sudah gak waras. Namun akhirnya, si murid itu gak sanggup. 

4. Khumulnya Abi Umron Al-Barda'i R.A Dari Gurunya. 

- Oleh gurunya disuruh untuk cukur gundul, lalu make jubah bongsor (onder/rok) dan jualan roti jelek (yang gak layak jual) di lorong-lorong pasar. 

5. Khumulnya Abdurrahman Al-Majdzub. 

- Jadi penyanyi di lorong-lorong pasar. 

6. Khumulnya Ibrahim Ibn Adham R.A

- Jadi buruh tani (jaga kebun). Jadi kuli panggul. Padahal Syaikh Ibrahim Ibn Adham ini adalanya adalah seorang putra mahkota (putra seorang gubernur). 

- Dan masih banyak contoh kisah praktek khumulnya para tokoh-tokoh tasawuf saat beliau-beliau mau masuk proses suluk. Keterangan lebih lanjut, silahkan muroja'ah pada kitab-kitab tasawuf yang membahas bab khumul. 

Kesimpulan Esensi Khumul 

Dari uraian esensi dan contoh-contok praktek khumulnya para tokoh tasawuf di atas,  bisa diambil kesimpulan bahwa "Khumul itu bukan seperti yang dibayangkan dan ya g sering difahami oleh kebanyakan orang, yaitu menyendiri di rumah, jauh keramaian atau sampai berdiam di tempat-tempat sepi seperti tinggal di gunung, bukan". Secara lahir (tidak berinteraksi dengan masyarakat) mungkin iya dinamakan Khumul. 

Namun seperti yang didawuhkan Syaikh Zaruq R.A, bahwa inti dari Khumul yaitu mendidik dan menempatkan nafsu pada tempat aslinya (tempat nafsu pada kerendahan) dan kesadaran dan menyadari atas kerendahan nafsunya itu secara berkesinambungan (sadar kalau nafsunya itu harus rendah, dan jangan sampai merasa tinggi). 

Qultu : Jadi Khumul itu yang jadi titik perhatian untuk dieksekusi itu suasana bathinnya, kefahaman dan kesadaran orangnya. Namun eksekusi itu tidak akan sempurna kalau tidak dibarengi dengan praktek pada lahirnya. Semisal mungkin orangnya tidak diketahui publik, tapi dalam rasa kesadaran bathinnya masih merasa tinggi, merasa sudah suci, merasa sudah berjasa, ya pada bae (nyepinya itu gak ngefek). 

Semua itu dengan tujuan agar supaya nafsu itu bisa diajak untuk selalu tawadhu' (tidak merasa berjasa, tidak merasa suci, tidak merasa mampu dan punya pengaruh), yang mana inti tujuan utamanya adalah refleksi keikhlasan dalam beramal dengan sebenar-benarnya dan semampu-mampunya. 

Tanbiih Praktek : 
Dari uraian, penjelasan, dan contoh praktek yang sudah dipaparkan, tindakan Khumul ini hanya bagi orang yang sakitnya (cacat bathinnya) terlalu kronis. Semisal ia punya penyakit sifat sombong, suka pamer, suka validasi, dan semisalnya. Namun bagi orang yang sakitnya tidak kronis (dilihat orang atau gak dilihat orang itu tidak mempengaruhi amalnya, kesadarannya), maka praktek khumulnya nanti juga beda lagi, berdasar arahan dari guru pembimbingnya masing-masing. 

Dawuh Abu Abbas Al-Marsi R.A : 
من أحب الظهور فهو عبد الظهور - ومن أحب الخفاء فهو عبد الخفاء - وعبد الله سواء عليه أظهره أم أخفاه 
"Barangsiapa yang suka diketahui publik, maka ia hambanya publik. Barangsiapa yang suka tidak diketahui publik (nyamar), maka ia hambanya kesamaran. Sedang hamba Alloh (yang sebenarnya) itu antara diketahui lublik atau tidak diketahui publik itu sama saja (tak mempengaruhi amalnya, rasa hatinya, atau kesadarannya pada Alloh)". 

===========
Wallohu 'Alam bi Shawabih. 
Intaha, Ulasan Admin. 

Referensi : 
Iqadzul Himam Fi Syarhi Hikam, Hal 47 - 50. 




Artikel Terkait

Mudarosah Interaktif

Share Vote Comments And Other

Author Catatan Mudarosah.

Terima Kasih telah membaca Catatan Mudarosah
[ Esensi Dan Praktek Khumul Para Tokoh Tasawuf: Al-Hikam Pasal 11 ], Semoga bermanfaat.

Save as FAVORIT Bagikan Artikel

Halaman Catatan Favorit ada di kolom pojok kanan atas.
Contact and Support : admin.mudarosah@gmail.com

Vote
★ ★ ★ ★ ★
Post Location :
Karaban, Kec. Gabus, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Indonesia

Bab Dan Fasal

Komentar

Kirim Email
Buka Disqus

Komentar

Kebijakan berkomentar.