10 Manfaat Uzlah, Khalwat, Dan Tafakur Dalam Proses Tazkiyatun Nafs.
Setelah menjelaskan filosofi, refleksi, dan analogi-analogi Uzlah pada Hikmah Fasal 012, pada artikel ini akan menjelaskan 10 reaksi manfaat dalam hal Tazkiyatun Nafs yang bisa langsung dirasakan oleh seseorang yang sedang menempuh proses Uzlah. Tentu juga bila proses Uzlahnya itu dilakukan dengan benar dan sesuai prosedur pelaksanaannya. Apa saja reaksi yang akan didapat...?!!
1. Terhindar dan selamat dari bahayanya Lisan.
Qultu : "Karena dalam uzlah (khalwat/menyendiri) tidak ada orang yang ngajak ngobrol dan ia juga tidak ngobrol (hawong gak ada temannya ngobrol). Secara otomatis terhindar dari ghibah, berbohong, mudahanah (pura-pura), atau obrolan-obrolan yang tidak berguna. Beda kalo ada temannya, kumpul dengan banyak orang, sudah pasti mbahas aneh-aneh".
Seperti dalam Hadist Nabi S.A.W :
رحم الله عبدا سكت فسلم أو تكلم فغنم
"Rahmat Alloh pada hamba yang diam akhirnya ia selamat, atau andai ia bicara dapat manfaat (ada manfaat dari pembicaraan itu)". ~ Syu'bul Iman lil Baihaqi R.A (no 4934), Hal 4/241.
Qultu : "Jadi, tidak semua pembicaraan atau pembahasan (obrolan atau mengobrol dengan orang lain) itu tidak berguna (tidak manfaat), Namun pada kenyaatan yang sering terjadi, selamatnya lisan itu bisa lebih terselenggara bila ia sendirian daripada saat kumpul dengan banyak orang (sesi mengobrol)".
2. Terjaga dan terhindarnya maksiat mata.
Manfaat Uzlah Terjaga Dari Maksiat. Iqadzul Himam fi Syarhi Hikam.
Terhindar dari bahayanya mata (pengaruh dari dari melihat/kepinginan pada kebeningan hati).
Seperti yang dijelaskan dalam Q.S Al-Hijr, Ayat 88.
"Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman".
Sebagaimana dijelaskan juga dalam Q.S Tha-ha, Ayat 131.
"Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal".
Qultu : "Awal dari segala keruwetan hati itu ya karna dari pandangan. Suka memandang atau suka dipandang. Suka disawang atau suka menyawang. Suka menganggap atau dianggap. Karna dari pandangan atau tatholu' alias lirak-lirik, akhirnya turun ke hati, akhirnya kepingin, akhirnya terjadi tamak, akhirnya permasalahan merembet kemana-kemana.
Andai tidak begitu, minimal dari pandangan itu akan mengacau konsentrasi hatinya alias jadi kepikiran, jadi fomo, jadi khawatir, jadi was-was, jadi tamak dlsb. Yang asalnya ia sudah bisa sabar, sudah bisa taslim, sudah tawwakal, sudah ridho, karna dari pandangan yang turun ke hati akhirnya semua hasil dari mujahadahnya itu jadi kacau.
Bagi murid suluk yang masih tahap proses, bug atau celah-celah memandang atau dipandang itu sudah semestinya harus ditutup rapat".
Sebagian Ahli Adab berkata :
من كثرت لحظته - دامت حسراته
"Barangsiapa kebanyakan lirak-lirik (kepinginan), maka ia akan selalu diliputi kegelisahan".
3. Terjaganya hati dari penyakit hati.
Seperti Riya (pamer), Mudahanah (hipokrit/bermuka dua), dan banyak lagi.
Sebagian Ahli Tasawuf pernah bertanya pada Wali Abdal :
"Bagaimana caranya agar bisa sampai pada Maqam Ahli Tahqiq?".
Dijawab Wali Abdal :
"Kamu jangan memandang makhluk (menganggap/menjadikan mereka sebagai pertimbangan). Sungguh, menjadikan mereka pertimbangan adalah Dzulmah (gelap/jauh dari cahaya keimanan dan kebenaran Al-Haq)".
- "Wahh ya gak bisa?". (Mungkin tugasnya sering berinteraksi dengan orang²).
+ "Kalau itu gak bisa, maka jangan kamu dengarkan omongan mereka. Sungguh, omongan² mereka itu membuat hatimu keras (menganggap dan menjadikan mereka pertimbangan itu mengacaukan dan memperkeruh kebeningan dan kestabilan hatimu)".
- "Wahh ya gak bisa?". (Mungkin tugasnya jadi Kyai Konsultan, misale).
+ "Kalau itu gak bisa, maka kamu jangan menjalin ikatan atau hubungan dengan mereka. Sungguh, menjalin ikatan dengan makhluk itu akan berakhir kecewa".
- "Wahh ya gak bisa. Hawong aku malah yang jadi pertimbangan orang-orang, bagaimana mungkin tidak terjadi ikatan?".
+ "Kalau itu masih gak bisa, maka hatimu jangan sampai memberi tempat bagi mereka (hatimu merasa tenang karna mereka)". Karna sungguh, hati yang ada ikatan dengan makhluk itu rusak (kacau balau, karna sering terjadi Syirik Khofi)".
- "Nah itu, mungkin saya masih bisa". (Nawar, milih sing kepenak).
+ "Yaa Hadza (Hai Broo..), kamu sering lirak-lirik (kepinginan) pada orang yang main-main. Kamu sering mempertimbangkan omongan-omongannya para Jahiliin. Kamu keseringan berinteraksi dengan para pengangguran (orang yang hatinya jarang berdzikir). Hatimu merasa tenang dan terikat dengan mereka, terus kamu menginginkan manisnya ibadah, sedang hatimu dalam keadaan terikat pada selain Alloh. Haihata..Haihata..Tangeh Lamun lah Broo..!!. (Bila seperti itu) Manisnya ibadah selamanya tak akan pernah kamu temukan".
- Lalu sang Wali Abdal itu pun berlalu dari Ba'dhu Sufiyyah. ~ Intaha, Iqadzul Himam Fasal 012.
========
Qultu : "Tanya pada Ahlinya, tapi saat dijawab beneran malah nawar, malah gak mau mengamalkan. Seperti ini dalam kode etik murid suluk termasuk Su'ul Adab.
Makanya..., seringkali Para Guru itu kalo ngasih Aurad atau Amalan atau Arahan itu disuruh "wis pokok'e dibaca aja, pokok'e diamalkan aja, udah gini aja". Dan sering juga malah gak diladeni atau gak dijawab atau malah disuruh tanya pada badalnya. Hal ini agar tidak terjadi Su'ul Adab (ngeremehkan atau cuma penasaran). Dan sebaiknya Para Murid itu juga tidak usah tanya-tanya terlalu mendetail perihal arahan Gurunya. Karna kalo terjadi Su'ul Adab, biasane asrarnya atau hikmahnya arahan atau amalan itu gak keluar".
Selengkapnya hal ini akan dibahas lebih lanjut dalam "Bab Adab Bertanya Dan Menjawab".
Imam Abi Qasim Al-Qusyairi R.A berkata :
"Para Ahli Mujahadah itu selalu menjaga hatinya dari lintasan dan letupan-letupan (nafsu) yang jelek. Dan tidak gampang menganggap benar (baik) anggapan dan logika-logika akal dunia. Karena itu adalah dasar pokok dari Mujahadah".
Qultu : "Bagi kebanyakan Ahli Dunia sesuatu yang dianggap bagus, baik, menyenangkan, menentramkan, Namun bagi para Ahli Mujahadah, bisa terjadi sesuatu itu malah tidak dianggap menyenangkan. Karna filosofi dan analogi yang difahami oleh Ahli Mujahadah VS Ahli Dunia itu seringkali berselisih. Seperti misal, harta bagi Ahli Dunia itu keberhasilan menyenangkan, tapi bagi para Ahli Mujahadah malah bisa difahami sebaliknya, malah dianggap ancaman". ~ Intaha.
4. Melatih sikap Zuhud dan sifat Qona'ah.
Dari kedua sikap dan sifat tersebut (Zuhud + Qona'ah), seseorang jadi bernilai di sisi Alloh dan mulia di tengah-tengah masyarakat (tapi bukan jadi tujuan lo ya. Seperti misal, "aku mau zuhud ah, biar dimuliakan masyarakat, biar dianggap orang yang gak hubbu dunya"). Itu namanya ada udang dibalik rempeyekk.
Seperti dawuh dalam hadist (riwayat Al-Hakim, Mustadrok 'ala shahihain, No 7873 - 4/348, Bab Roqoiq).
إزهد في الدنيا يحبك الله - وأزهد فيما في أيدي الناس يحبك الناس
"Zuhudlah pada Dunia, maka kamu akan dicintai Alloh. Dan zuhudlah pada apa yang dipunyai orang-orang, maka kamu akan dicintai orang-orang".
Bila ditanyakan.. "kenapa bisa dicintai orang-orang?".
Qultu : "Maksudnya, Ojo kemilikan lan ojo kepinginan". Karna orang Zuhud itu tidak punya kepentingan. Gak pingin ngerebut, nerimonan, apa adanya, apalagi pingin saingan. Semua dijalani berdasar kewajiban bahwa "ini posisiku, ini tugasku, ini kewajibanku, Alloh yang perintah, sekuat dan semampunya ia jalani. Bila tidak mampu, ya berarti bukan tugasnya dia. Soal rezeki, Alloh yang ngatur. Seberapa Alloh ngasihnya, ya itulah yang harus ia terima sebagai hamba.
Orang zuhud itu sudah gabisa ditakut-takuti dengan kemelaratan atau kehilangan. Tapi bukan berarti juga orang Zuhud itu gampang dimanfaatkan atau diapusi. Justru malah karna ia Zuhud itu malah gak bisa digoyang atau ditawar. Ya karna dia melangkah maju atau mundur, ke kanan atau kiri itu berdasar ini haq benar atau bathil (pendiriannya teguh). Sekilas memang bagi pandangan orang umum, orang Zuhud itu kayak orang bego atau kampungan, namun begitulah memang perilakunya orang Zuhud". ~ Intaha
Perihal Zuhud, Silahkan muroja'ah dalam "Bab atau Fasal Zuhud".
Dan sudah diketahui, bahwa hanya dengan cara menyendiri (menjauh atau membatasi pertemanan/trending topik/pemberitaan) seseorang itu akan jauh dari "nyawang atau disawang, dipertimbangkan atau mempertimbangkan, kepinginan atau kemilikan seperti Ahli Dunya. Akhirnya ia selamat dari ikut-ikutan (Hubbu Dunya) atau minimal ia akan selamat dari fitnah atau pengaruh-pengaruh buruk dan akhlak yang tidak terpuji. Karena itu nanti kalo diterus-teruskan, sedikit banyak akan mengacaukan mujahadah keikhlasan yang selama ini ia tekuni.
5. Selamat dari pertemanan buruk dan interaksi para Ahli Dunya.
Manfaat Uzlah Selamat Dari Pengaruh Buruk. Ref. Iqadzul Himam fii Syarhi Hikam.
Karna bercampur atau berinteraksi dengan mereka itu ada bahaya pengaruh yang sangat kompleks (bagi murid suluk). Entah interaksi dari cara berfikirnya, analoginya, omongan²nya, cara mereka menilai, menimbang, mengambil keputusan dan banyak lagi.
Dawuh Ba'dhu Arifiin :
مثل الجليس السوء كمثل الكير - إذا لم يحرقك بشرره علق بك من ريحه
"Perumpamaan teman yang buruk seperti cerobong pandai besi—jika percikan apinya tidak membakarmu, baunya yang busuk akan menempel padamu". ~ Ihya' Ulumuddin Bab Suhbah.
Dawuh Syaikh Abdurrahman Al-Majdzub :
الجلسة مع غير الأخيار ترذل ولو تكون صافيا
"Duduk (bergaul) dengan orang-orang yang tidak baik itu merendahkan (kualitas diri), meskipun engkau adalah orang yang berhati bersih.".
Syaikh Junaid Al-Baghdadi berkata :
إذا أراد الله بعد خيرا أوقعه إلى الصوفية ومنعه صحبة القراء
"Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan mempertemukannya dengan kaum Sufi dan menghalanginya dari bersahabat dengan al-Qurra'."
Qultu : Al-Qurra' di sini yaitu bukan sekadar orang yang membaca Al-Qur'an, melainkan ahli ibadah yang hanya terpaku pada formalitas lahiriah (aspek fisik ibadah).
Kenapa dijauhkan dari Qurra'?
Karena mereka rajin salat dan zikir, tetapi hatinya sering kali belum tersentuh oleh kesadaran sebagai seorang hamba atau rasa cinta yang mendalam (mahabbah), kesadaran/makrifat, serta pembersihan diri dari penyakit hati seperti riya dan sombong.
Mengapa Dipertemukan dengan Sufi Lebih Baik?
Kaum sufi itu membimbing menuju esensi ibadah, yaitu gerakan hati dan ruh (tazkiyatun nafs), bukan sekadar tubuh. Jika seseorang (murid) berteman dengan sufi, dia akan diajari cara membersihkan penyakit hati, ikhlas, dan berakhlak mulia.
Ba'dhu Sufiyyah berkata :
والله ما أفلح من أفلح إلا بصحبة من أفلح
"Demi Alloh, Tidak beruntung orang yang beruntung kecuali dengan berteman dengan orang yang beruntung".
Qultu : "Maksudnya, meskipun saat ini kamu orang beruntung, kamu masih harus tetap berteman atau berhubungan dengan orang yang beruntung juga. Kamu beruntung (baik) tapi teman-temanmu orang yang rusak (tidak beruntung), lambat laun akhirnya kamu juga jadi gak beruntung (ikut rusak)".
6. Waktu Dan Kesempatan Ibadah Terbuka Lebar.
Qultu : "Karena posisinya sedang Uzlah (sendirian), akhirnya waktu dan kesempatan "nggetu ngibadah" terbuka lebar. Mulai dari sholat, dzikir, baca qur'an dan amaliah kebaikan lainnya. Karena pada posisi dan kondisi sendiri dan memang sudah diniati menyendiri, akhirnya hatinya pun gak terbebani keruwetan-keruwetan Dunia. Tidak ada yang di iri, tidak ada yang mengganggu". ~ Intaha
✓ Lalu apakah ketika Uzlah itu cuma menyendiri baca dzikir tok?
✓ Atau ada rukun dan ketentuan yang harus dijalani saat Uzlah?
✓ Dan apakah Uzlah dan Khalwat itu sama?
Tentu ada peraturan dan tatakrama yang harus dipegang saat ketika Uzlah. Keterangan lebih lanjut, bisa muroja'ah dalam artikel : "Ketentuan dan adab seorang murid saat ketika Uzlah". Sedang Bab Khalwat, bisa muroja'ah dalam kategori "Bab Khalwat".
7. Manisnya ibadah dan munajat.
Syaikh Abu Thalib Al-Makki dalam Kitabnya Quutul Quluub berkata :
"Seorang murid suluk belum dikatakan jujur (dalam kesungguhannya bersuluk) sebelum ia menemukan rasa manis di dalam Uzlah atau Khalwatnya (dalam kesendiriannya). Menemukan sebentuk rasa gairah dan kekuatan yang itu tak akan ia dapatkan kalau tidak sendirian (ada temannya atau dalam keramaian)".
Qultu : Orang tipe ini (kalo sudah sampai ahwal ini), itu kalo sendirian itu malah tentram ayem dan produktif. Tapi kalo ada temannya atau ada orang yang mengetahuinya atau membuntutinya malah "klisak-klisik" (resah gelisah, gak nyaman). Hahaa..
8. Istirahatnya hati dan badan.
Maka sungguh saat ketika ia bercampur (berinteraksi) dengan orang-orang itu seringkali mengacaukan konsentrasi hati dan melelahkan badan. Meskipun banyak pahala di situ namun seringkali malah menghilangkan yang lebih istimewa, yaitu konsentrasinya hati bersama Rabbnya.
Qultu : Uraian di atas semuanya itu hanya hanya proses lo ya!! Nanti saat seorang murid itu sudah Wushul (piawai mengelola hati dan mengendalikan nafsunya), maka nanti akan dilepas. Baca artikel selanjutnya pada Bab Para Salikiin Dan Washiliin.
9. Terjaganya diri dan agamanya dari perselisihan.
Karena saat bercampur dengan orang-orang itu ibarat memposisikan diri sendiri untuk menerima sasaran berbagai keburukan (perselisihan, perdengkian, perolok-olokan, berbagai perdebatan, dan permusuhan). Karena sifat nafsu itu puualing cepat pingin nimbrung kalo ada permainan kata-kata/pembicaraan (haudhihim yal'abuun).
Entah mengomentari, opini, interupsi, atau malah eyel-eyelan berselisih faham. Yang kalo diteliti lebih dalam, permainan kata-kata (pembicaraan dan pembahasan yang sedang ditimbrungi) itu sendiri adalah sesuatu yang sia-sia (ora penting lan ora wajib). Lah kalau inti.
"Mbahas apa coba, koq sampai direwangi eyel-eyelan?". Bagi para murid suluk, hal-hal seperti ini sudah semestinya harus dijauhi dan ditinggalkan.
10. Kesempatan tafakur dan merenungi/mengambil hikmah.
Ini adalah maksud tujuan utama dari proses uzlah dan khalwat. Karena dari tafakur dan merenungi hikmah, seorang murid itu akan sampai pada...
✓ Hakikat dibalik sesuatu (entah apapun itu).
✓ Akan ketahuan mana yang benar, mana yang salah.
✓ Akan ketahuan ancaman dan tipuan-tipuan nafsu.
✓ Akan ketahuan penyakit-penyakit hatinya.
✓ Akan ketahuan tipuan-tipuan Dunia.
✓ Akan ketahuan cara untuk menghindar, menjaga, menyelamatkan, dan membersihkan dari itu semua.
Selengkapnya ulasan-ulasan perihal tafakur, bisa muroja'ah dalam kategori/label "Bab Tafakur".
Kesimpulan Bab Uzlah :
Ulasan 10 manfaat Uzlah (menyendiri) di atas itu adalah proses dan hasil yang akan diperoleh Para Salikiin (Ahli Bidayah/masih memproses diri).
Namun bagi para Ahli Nihayah (Orang yang sudah Wushul/Para Washiliin), dalam keadaan sendiri maupun berinteraksi di tengah masyarakat itu sama saja. Karna Uzlahnya para Washiliin itu sudah jadi kesadaran. Akhirnya, meski berinteraksi di tengah-tengah keramaian masyarakat (Maqam Farqu) tidak akan menghalangi hatinya dari selalu berdzikir bersama Alloh (Maqam Jam'u).
Apa-apa yang sedang dihadapi, yang dilakukan, yang terjadi, yang sedang menimpa (Maqam Hissi), Bagi para Washilin akan selalu melihat hakikat/makna apa yang dibaliknya. Dan itu otomatis, sudah kayak seperti sensor pemindai otomatis.
Kalo orang awam atau murid suluk terkadang agar bisa mendeteksi hakikat atau agar menemukan hikmah dari suatu kejadian itu harus dipancing-pancing dulu (harus mikir dulu. itupun seringkali lama ketemu hikmahnya. Dan itupun kalo ia mau mikir), tapi kalo para Washiliin (Ahli Nihayah) itu sudah seperti sensor otomatis.
Ibarat, yang sedang terjadi itu soal ujian kasus A dengan pilihan jawaban B-C-D. Kalo orang awam, malah bisa bikin opsi sendiri pilih F (tersesat). Kalo orang suluk terkadang masih ragu milih B, C atau D ya?. Tapi kalo Para Ahli Nihayah itu bisa langsung ketemu jawabannya. Ya karna latihannya memang sudah lama, sudah terbiasa dikasih soal yang mirip atau soal-soal jebakan. Beliau-beliau itu wis terlatih.
Ibarat seorang yang sudah ahli perbengkelan, baru denger suara knalpotnya aja, sudah tau motor itu sehat atau sakit, kerusakannya bagian apa, sebelah mana, dan penanganannya seperti apa. Bukan Ilmu Kanuragan atau Karomah tapi memang latihane wis suwe.
Selengkapnya tentang Para Washiliin, bisa muroja'ah pada kategori atau label "Bab Para Washiliin".
1. Buka aplikasi e-wallet kamu. 2. Klik menu "Pay atau Qris" yang biasanya berada di tengah bawah pada halaman utama akun e-wallet kamu. 3. Lalu Scan gambar QRIS QR di atas. 4. Masukkan nominal yang akan kamu donasikan dan lanjutkan transaksi sampai selesai.
Bila akun e-wallet kamu belum premium!
1. Download dan simpan dulu gambar QRIS QR di atas dalam gallery kamu. 2. Buka aplikasi e-wallet kamu. 3. Klik menu "Pay atau Qris" yang biasanya berada di tengah bawah pada halaman utama akun e-wallet kamu. 4. Lalu klik icon gambar, lalu upload gambar QRIS QR yang sudah kamu simpan tadi. 5. Masukkan nominal yang akan kamu donasikan dan Lanjutkan transaksi sampai selesai.
Donasi akan digunakan untuk pengembangan web, Kelancaran kegiatan mudarosah dan Operasional mudarosah via Live Streaming. Terima kasih atas dukungan anda ❤️.