Setidaknya ada 6 sebab yang menjadi faktor kuat kenapa hati seseorang itu tertutup dari Hikmah Kebenaran Al-Haq (yang sejati). Tertutup yang dimaksud dalam kontek pembahasan ini adalah tidak bisa melihat (buta) pada kebenaran. Tidak bisa melihat bahwa dibalik yang terlihat itu seringkali ada banyak hikmah kesebalikannya. Yang mana dari sebab error inilah proses Tazkiyatun Nafs tidak bisa berjalan mulus atau bahkan malah berhenti atau macet.
"Allah menganugerahkan Al-Hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)". Q.S Al-Baqarah (2) ayat 269.
Baca ulasan selengkapnya tentang Hikmah dalam artikel "Apa Itu Definisi Dari Hikmah?".
✓ Bisa melihat objek namun memang sengaja tidak mau melihat.
✓ Silau dengan objek yang dilihat (karna saking terangnya objek-digerojok fakta).
✓ Matanya sakit atau error, akirnya objeknya tidak bisa dilihat.
✓ Saking jauhnya mata dari objek akirnya tidak bisa melihat.
✓ Posisinya mata yang melihat dengan objek berseberangan (membelakangi).
✓ Matanya ketutupan sesuatu, akhirnya objeknya tidak kelihatan.
✓ Sudah telanjur nyaman dengan kondisi ketidakbenaran.
Artinya apa? Objek kebenaran sejati atau hikmah itu selalu ada, selalu tampil, selalu nyata, selalu datang, namun mata hati atau posisi kitalah yang seringkali tidak selaras atau tidak siap atau tidak berfungsi. Akhirnya kebenaran yang seharusnya itu A malah difahami sebagai Z.
Perhatikan ayat-ayat berikut :
Kesombongan Religius, Butanya Mata Hati.
Bagaimana orang-orang itu (kuffar) dengan sombongnya saat dibacakan ayat-ayat Alloh. Bukan hanya sombong, namun juga meremehkan, menertawakan, mendustakan, dan berpaling alias mlengoss "ahh rak sudi".
Qultu : Melihat keumuman lafadz "Ayatii", berarti memang ayat-ayat Alloh (Al-Qur'an) itu sendiri, dan/atau beserta juga produk turunannya Ayat. Termasuk hukum-hukumnya Alloh dalam Al-Qur'an, Hadist, berikut ijma' dan qiyasnya. Termasuk larangan, perintah, himbauan, anjuran, atau pemahaman. Ayatii secara umum juga bisa diartikan dengan jejak, tanda, atau bukti. Dalam kontek ini adalah jejak, tanda, atau bukti Kekuasaan Alloh yang tersebar di Alam Dunia ini. ~ Wallohu 'Alam.
"Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan". Q.S Yasin (36) ayat 33.
"Dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan". Q.S Yasin (36) ayat 41.
"Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kpd manusia, supaya mereka bertakwa". Q.S Al-Baqarah (2) ayat 187.
Dibilangin... "Itu haram lo Mas, gak boleh". Hakoq malah jawab..."Aku suka, aku happy, gak ngerugiin orang, urusan apa sama Haram". ~ Ketutup.
=========
Kebenaran atau hikmah yang sudah jelas datang, mau datang, atau tersembunyi (karna saking lembutnya), akirnya malah mental sebab karna ia sudah menutup diri (wis salah, ngeyel). Ilmu Alloh itu luas sekali, hikmah-hikmah yang disembunyikan Alloh itu masih banyak sekali, bila kamu menutup diri pada satu kesimpulan logikamu, ya udah, dapatmu ya cuma itu tok.
Maka dari itu, untuk bisa melihat (objek) kebenaran yang sejati, selain kita harus punya niat kuat atau himmah aliyyah memang mau melihat, juga harus menyingkirkan penghalangnya, harus menyelaraskan diri menghadap ke objek, dan memposisikan diri agar selalu dekat dengan kebenaran (objeknya) alias Harmoni Kebenaran.
Murid suluk juga begitu, untuk bisa cepat dalam menangkap sinyal-sinyal hikmah-hikmah Ketuhanan, pertama ia harus punya niat kuat atau Himmah Aliyyah. Mengatasi error kerusakan pada mata hatinya, mendekatkan pada kebenaran, menyelaraskan posisi dengan kebenaran, menghilangkan penghalang yang menutupi mata hatinya.
"Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus". Q.S Ali-Imran, Ayat 101.
Lalu apa saja 6 penyebab yang membuat mata hati itu tertutup dari Hikmah?.
Penyebab Hati Tertutup Dari Hikmah Kebenaran.
1. عدم الهمة العالية
Tidak ada niat kuat atau tidak punya Himmah Aliyyah untuk melihat kebenaran. Kalo orangnya saja sudah gak ada minat, gak mau, atau gak ada rasa kepingin, lah terus mau apa? Ada banyak hikmah di sekitarnya, ada banyak fakta kebenaran di hadapannya pun gak akan bisa masuk. Hawong memang orangnya sudah menutup mata. Poin ini adalah tambahan Penulis, merujuk pada hadist "innamal 'amaalu binniyat".
Fain qiila (andai ditanyakan)? :
"Kenapa koq gak ada niat, gak ada minat, gak ada rasa kepingin dalam hatinya untuk menerima Hikmah?".
Jawabannya ada di 5 poin setelah ini. Selain itu, juga memang sifatnyanya Hikmah itu lembut dan tersembunyi. Dibutuhkan perenungan, dan ketelitian yang mendalam, dan tentu butuh waktu juga (kesabaran). Lah orang itu biasane gak sabaran, pingin cepet, to the point, pingin instan (itu aslinya sifatnya nafsu). Nah Alloh sebagai Sang Bijak Dan Sang Pengajar itu ingin agar hambanya itu punya perjuangan (suruh mikir). Nah penilaiannya nanti ya di situ itu. ~ Wallohu 'Alam.
2. غلبة أحكام الطبع عليه
Ia terkalahkan oleh kebiasaan logika akal dan hawa nafsunya. Kebiasaan logika akalnya kalo hasil 8 itu harus dari 4+4, dibilangin kalo ada 5+3 , 2+6, 1+7 itu juga bisa menghasilkan 8, gak bakal masuk. Dibilangin kalo harta Dunia itu menipu dan Akhirat itu lebih baik dan langgeng, gak bakal masok. Dibilangin nikmat bisa membawa sengsara dan sengsara bisa membawa nikmat, gak bakal masok kamus.
3. صحبة الأضداد
Kesalahan posisi dan logika. Ia menempatkan diri pada posisi dan kondisi yang berlawanan dengan kebenaran alias membelakangi kebenaran. Atau, ia sering berkumpul dengan orang-orang yang sering membelakangi kebenaran, akhirnya itu mempengaruhi menular pada dirinya. Dan itu sudah menjadi aktivitas dan rutinitas sehari-harinya. Entah dari cara ia berfikir, cara ia menyimpulkan, hingga cara ia mengambil tindakan. Akhirnya mempengaruhi juga pada cara ia beramal.
Orang sudah terbiasa kalo beramal itu harus ada kembalian (pamrih), disuruh beramal dengan sukarela, ya gak bakal masok. Sudah terbiasa kalo beramal itu harus ada validasi dari orang-orang, dibilangin kalo beramal itu yang ikhlas, gak bakal masok. Sudah terbiasa dapat pelayanan dengan segera, saat ketika ada kendala dan disuruh sabar, ya malah ngamok.
4. ووقوفه مع المعتاد
Ia berhenti pada kebiasaan (definisi dan kesimpulan umume piye). Ia berhenti pada definisi bahwa, kalo banyak harta itu hidupnya kepenak-bahagia, berarti kalo pingin hidup bahagia harus punya banyak uang. Punya banyak uang itu karna bayarannya banyak. Bayaran banyak itu orangnya harus pinter. Dan orang-orang pintar itu karna sekolahnya tinggi. Berarti kalo pingin hidup bahagia, sekolahnya harus tinggi.
Akhirnya ia sekolah (menuntut ilmu) ya karna berdasar dorongan obsesi pingin banyak uang dan hidup kepenak-bahagia. Hikmah-hikmah kebenaran Ketuhanan bahwa yang bikin hidup kepenak-bahagia itu Alloh dan bisa dengan berbagai cara dan kemungkinan, itu gak bakal masok. ** Ini hanya contoh kasus.
5. إنقياده الى هوى النفس
Kesenangan hawa nafsunya sudah kadung jadi pertimbangan. Tidak perduli apa yang dilakukannya itu benar atau salah. Ia mendefinisikan kebenaran dan keburukan hingga mengambil kesimpulan dan tindakan itu berdasar hawa nafsunya. Asal gue happy, ya berarti bagus benar.
"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?". Q.S Al-Jatsiyah (45) ayat 23.
6. أنسه بعالم الحس
Ia sudah kadung nyaman dengan definisi dan kesimpulan yang terlihat mata. Hitungan pahala, dosa, akhirat, alam ghaib, sudah gak masok kamus akalnya. Itu aja sudah gak masok, lah apalagi Hikmah Ketuhanan yang sifatnya lembut dan harus melalui proses perenungan mendalam, ya malah gak masok blass.
Kesimpulan Mudarosah.
Bagi yang BUKAN Murid Suluk, ulasan-ulasan di atas mungkin biasa saja atau mungkin agak musykil atau malah bertentangan dengan definisi dan kesimpulan yang selama ini ia fahami. Namun bagi para Murid Suluk (orang yang memang sudah niat memasang diri untuk upgrade rohani, sejalan seirama dengan kebenaran dan irodahnya Alloh) hal-hal di atas itu merupakan faktor kuat yang menghalangi hikmah yang akan singgah dihatinya (Proses Tazkiyatun Nafs).
Fayanbaghi - Maka sudah semestinya dan seharusnya bagi seorang Murid Suluk untuk menghilangkan penghalang tersebut dengan berbagai cara dan usaha (mujahadah). Apalagi ia dalam proses suluk (Proses Tazkiyatun Nafs).
Nah cara atau teknik Mujahadah yang paling tokcer (cepat, tepat, dan efisien) menurut Muallif Al-Hikam Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandari Rahimahulloh adalah dengan cara Uzlah yang dibarengi Tafakur.
1. Buka aplikasi e-wallet kamu. 2. Klik menu "Pay atau Qris" yang biasanya berada di tengah bawah pada halaman utama akun e-wallet kamu. 3. Lalu Scan gambar QRIS QR di atas. 4. Masukkan nominal yang akan kamu donasikan dan lanjutkan transaksi sampai selesai.
Bila akun e-wallet kamu belum premium!
1. Download dan simpan dulu gambar QRIS QR di atas dalam gallery kamu. 2. Buka aplikasi e-wallet kamu. 3. Klik menu "Pay atau Qris" yang biasanya berada di tengah bawah pada halaman utama akun e-wallet kamu. 4. Lalu klik icon gambar, lalu upload gambar QRIS QR yang sudah kamu simpan tadi. 5. Masukkan nominal yang akan kamu donasikan dan Lanjutkan transaksi sampai selesai.
Donasi akan digunakan untuk pengembangan web, Kelancaran kegiatan mudarosah dan Operasional mudarosah via Live Streaming. Terima kasih atas dukungan anda ❤️.