 |
| Maqolah 010, Attanbih Syarah Alhikam. |
Penjelasan Hikmah Fasal 010 Kitab Alhikam.
الأَعْمالُ صُوَرٌ قَائَمةٌ - وَأَرْواحُها وُجودُ سِرِّ الإِخْلاصِ فِيها
Bacaannya Alhikam Fasal 010 :
"Al'amaal shuwarun qoimatun, wa arwahuha wujudu sirril ikhlasi fiihaa".
Terjemahnya Alhikam Fasal 010 :
"Bermacam bentuk Amaliah hanyalah sebentuk gerakan yang bisa dilihat lahirnya, sedangkan ruh yang membuatnya hidup adalah tingkat keikhlasan yang mengisi bathinnya".
Qultu : Sedang tingkat keikhlasan seseorang pada amaliahnya dipengaruhi oleh seberapa mendalam kesadaran ketuhanan yang difahami oleh orang tersebut. Semakin mendalam hak-hak ketuhanan yang difahami dan disadarinya, maka semakin dalam juga tingkat atau level keikhlasannya.
Kamus Kata.
Al-'Amal.
Bentuk-bentuk Amaliah seseorang. Dalam konteks fasal ini adalah berbagai macam bentuk amaliah kebaikan yang bisa dilakukan oleh setiap orang. Umum, entah itu kebaikan berupa wajib sunnah atau mubah. Amaliah semisal bentuk sholat wajib, atau puasa, zakat, haji, dan lain sebagainya. Amal sunnah semisal sedekah, sholat malam, berdoa, puasa sunnah, menolong orang, berbuat baik, dan buanyak lagi. Itu bentuk Amal (pekerjaan baik). Intinya amaliah kebaikan yang biasa dilihat orang atau tidak biasa dr ilihat orang (semisal Dzikir atau Puasa dan semisalnya).
Shuwarun Qoimatun.
Berbagai macam bentuk amal/pekerjaan/rutinitas/aktivitas kebaikan seseorang yang sudah dijelaskan di atas tadi, itu adalah bentuk yang bisa dilihat lahirnya.
Oh orang itu lagi sholat, Oh orang itu lagi sedekah, Oh orang itu yang membantu. Ya karna yang nampak-yang kita lihat memang orang itu yang membantu.
Ya karna yang kita lihat nyata-nyata bungkusnya-wadahnya memang kaleng Khonghuan, soal isinya rempeyek, ya itu urusan beda lagi.
Wa Arwahuha.
Arwah = ruh, nyawa, inti, esensi, pokok, prinsipil, hakikat atau mungkin padanan bahasa lainya. Dalam konteks fasal ini adalah inti atau esensi yang mengisi/keniatan yang mendorong/yang memotivasi/yang menyemangati daripada amaliah-amaliah kebaikan yang dilakukan oleh setiap orang. Bentuknya sama-sama membantu-menolong, namun falam isi kepala motivasi atau keniatan dalam membantu itu bisa beda-beda.
Wujudu Sirril Ikhlas.
Wujudnya (Rahasia) Keikhlasan dalam hati.
Kenapa disebut Sirr/Rahasia..?
Ya karena keikhlasan itu tempatnya dalam hati, tidak bisa dilihat, bisa berubah-ubah, bisa full 100%, 80%, 50%, 10% atau bahkan malah 0%. Terkadang ada yang tidak tau kalo dirinya ikhlas atau malah sebaliknya. Yang tidak tau malah ikhlas, yang tau malah tidak ikhlas. Semenit yang lalu ia bisa ikhlas, di menit sekarang ikhlasnya gagal atau terkontaminasi, itu bisa terjadi.
Ikhlas / Kholish = Murni 100%.
Ibarat level kemurnian minyak itu ada yang memang 100%, ada yang campuran 10%, 20%, 50%, 80%, atau bahkan malah palsu atau imitasi. Atau bahkan saking palsunya sifat kemurnian minyak itu bisa jadi berbahaya kalo dipake penggunanya. Kesalahan komposisi dan kesalahan S.O.P.
Amal juga seperti itu, karna saking palsunya dan banyak campuran (motivasi berbahaya) bisa terjadi kalo dilakukan terus-menerus malah merusak organ dalam si Penggunanya. Dalam konteks ini, amal dikerjakan terus-menerus bukan tambah khusyuknya, bukan tambah khosyahnya pada Alloh, tapi malah bikin sombongnya makin menjadi.
إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُور
Sungguh Alloh Maha Mengetahui (maksud) apa yang tersimpan di kedalaman hati.
Syarah Penjelasan Alhikam Fasal 010.
Qultu : Setelah menjelaskan analogi bagaimana level ma'arif billah itu sangat mempengaruhi seseorang dalam kesungguhannya beramal atau katakanlah keikhlasan itu sangat mempengaruhi bobot atau nilai dalam beramal ( Baca penjelasan
hikmah Fasal 009 ), Pada Fasal ini Muallif Ibnu Athoillah menjelaskan Filosofi dan Analogi Keikhlasan dalam suatu Amal.
Ikhlas itu murni tanpa motif, tanpa syarat, tanpa membawa kepentingan apapun yg kembali pada si Pengamal atau yang melakukan. Ikhlas itu juga ada level dan tingkatannya. Ada yang 100%, 80%, 50%, 10% atau bahkan malah 0% atau malah bukan 0% tapi malah palsu atau imitasi atau cuma bungkusnya saja yang asli atau bungkus dan isinya sedari awal sudah palsu atau imitasi.
Kronologi Pembahasan.
Orang bisa saja kuat atau mampu beramal atau melakukan sesuatu (kebaikan) dengan sungguh-sungguh, namun motifnya apa dulu?, punya kepentingan apa dulu?
Sering bersedekah, sering membantu tapi ternyata motifnya pingin nyalon lurah, pingin menaikkan Engagement, Pingin dapat nama di tengah² masyarakat.
Kuat puasa, kuat wiridan aneh-aneh, tapi ternyata punya kepentingan pingin ampuh, pingin sugih, pingin untuk melancarkan proposal. Dan contoh-contoh yang lain.
Kalo flashback pada hukum acara pidana, Motif atau Keniatan atau Kepentingan seseorang dalam melakukan sesuatu (kebaikan atau kejahatan) itu penting sekali. Karna dari motif itu nanti akan sangat mempengaruhi ketepatan eksekusi selanjutnya.
Ada yang mendobrak rumah, tapi motifnya karna penyelamatan.
Ada yang pelan dan santu, tapi motifnya karna mau memangsa.
Orang bisa kumpul bersama dalam satu majelis, tapi motif atau keniatan yang dibawa dalam isi kepala (niat hati) mereka bisa jadi berbeda-beda.
Sasaran Pembahasan.
Mungkin bagi orang awam (orang awam itu ya kayak kita-kita ini) akan sulit sekali lepas dari motif dan kepentingan dalam beramal, Its okelah yang penting beramal dulu, soal bisa ikhlas atau belum bisa itu urusan belakangan. Ibarat ikhlas itu isi, yang penting kita siap-siap wadahnya dulu, Semoga suatu saat diberi kemampuan oleh Alloh untuk Ikhlas. Kalau wadahnya saja belum ada, lah terus isinya (ikhlasnya) diwadahi apa?
Ibarat ikhlas itu isi (hakikat), maka agar bisa diedarkan atau pantas dijual, maka harus dibungkus dengan wadah, kemasan, atau packing (syari'at). Nah dalam ketentuan dan tatacara packing itu nanti juga ada aturan, kebijakan, atau disclaimer dari Otoritas yang ada (dalam hal ini adalah aturan-aturan Syari'at).
Namun karna pembahasan fasal kitab ini itu menyasar atau menjelaskan kronologi keikhlasan pada murid suluk (atau orang yang memang sedari awal sudah niat untuk upgrade ruhani mendekat pada Alloh), maka perincian dan disclaimernya juga semakin ketat.
Dan tidak berarti bungkus atau amal kebaikannya itu buruk lo ya. Tidak juga untuk menuduh seseorang tidak atau belum ikhlas, Karena bagaimanapun juga semua amaliah kebaikan itu baik dan bisa mengerjakan kebaikan itu juga hadiah dari Alloh. Minimal, orang itu tau, kalo niat yang aneh-aneh itu (niat kejahatan atau keburukannya) kalo dibungkus dengan kebaikan kan hasilnya lumayan. Ia masih tau atau masih bisa membedakan kebaikan dan keburukan. Masih ada setrum atau bias cahaya pertolongan Alloh di situ.
- Fa in qiila (andai ditanyakan)?
"Lebih baik ikhlasnya dulu atau amalnya dulu?"
"Baiknya isinya dulu atau wadahnya dulu?"
+ Dijawab :
"Bisa bebarengan-beriringan, bisa salah satunya dulu. Semoga dengan kesungguhanmu dalam mengikhlas-ikhlaskan diri, Alloh akan mengimplementasikan pada amaliah yang ikhlas. Atau sebaliknya, Semoga dengan kesungguhanmu beramal, Alloh akan mengisi hatimu dengan keikhlasan".
Filosofinya : Kalau dilihat isiannya bagus, burungnya ngocehnya bagus, ya Empunya gak tega to kalau wadahnya sangkarnya jelek dan terlantar. Sebaliknya, kalau dilihat wadahnya bagus, sangkarnya bagus, ya sayang to kalau cuma diisi untuk wadah burung yang receh-receh, tetep nanti akan dicarikan yang sepadan. In Syaa Alloh.
Selengkapnya perihal di atas, akan dibahas lebih lanjut di fasal 066.
Implementasi Alhikam Fasal 010.
Ikhlasnya Para Abror.
Para Abror yaitu para pekerja Akhirat. Melakukan suatu amal-kebaikan dengan motif dan kepentingan² Akhirat. Punya kepentingan juga, tapi kepentingan Akhirat.
Bagi selevel awam, Para Abror itu termasuk sudah level atas, para elit surga, sudah tingkatan Joz-Jiz (dari kalangan Para Zaahidiin dan Lara 'Abidiin), sudah jauh di atas daripada orang beramal yang membawa motif kepentingan-kepentingan Duniawi.
Seperti dalam Q.S Infithar, Ayat 13.
إِنَّ ٱلْأَبْرَارَ لَفِى نَعِيمٍۢ
Atau selevel dengan julukan Ashabil Yamiin dalam Q S Waqi'ah, Ayat 90-91.
وَأَمَّآ إِن كَانَ مِنْ أَصْحَـٰبِ ٱلْيَمِينِ # فَسَلَـٰمٌۭ لَّكَ مِنْ أَصْحَـٰبِ ٱلْيَمِينِ
Yaitu orang-orang yang dipercaya (terpercaya) menjaga hak-hak Ketuhanan dan hak-hak Kemanusiaan. Para Abrar dan Ashabil Yamiin itu selevel (sejulukan). Wallohu ''Alam.
Puncak Ikhlasnya Para Abror yaitu asal amaliahnya selamat dari riya' khofi (samar) atau riya' jali (riya' yang terang-terangan) dan selamat dari kepentingan-kepentingan diri sendiri (nafsu). Semua itu dilakukan bermotif mengharap ganjaran yang telah dijanjikan oleh Alloh dan menghindar dari ancaman dan siksanya Alloh.
Motif utamanya Para Abror yaitu merefleksi dawuh Alloh "Iyyaka Na'budu (hanya kepadamulah ya Alloh kami menghamba)".
Dari refleksi kesadaran "Iyyaka Na'budu" itu, akhirnya memunculkan kesadaran tidak menyekutukan Alloh (termasuk tidak membawa kepentingan-kepentingan duniawi dalam amal atau ibadahnya. Sudah tidak mempertimbangkan makhluk dalam amal kebaikannya). Hanya saja, para Zahidiin dan Abidiin ini ternyata masih punya kepentingan pada Akhirat (mereka menjaga ibadah dan kebaikannya dari Riya' dan Syirik, karna ternyata masih menganggap bahwa amalnya itu nanti di akhirat punya potensi untuk meraih kedudukan di akhirat atau nganggap amalnya itu punya potensi untuk dijadikan alat untuk mendekat pada Alloh). Yang seharusnya adalah selain Alloh Ta'ala, Rahmat, serta Anugerahnya tidaklah punya potensi apapun.
Refleksi Para Abror dari Q.S Al-Maidah, Ayat 27 :
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِين
"Alloh hanya akan menerima (amal/kurban) dari para orang yang bertakwa".
Ikhlasnya Para Muqarrabiin.
Para Muqarrabiin yaitu para kalangan elit orang-orang terdekatnya Alloh, Jaarulloh (tetangga atau orang-orang dekat, dari kalangan Arifiin, Muhibbin, Asyiqiin).
Ikhlasnya Para Muqorrobiin yaitu sudah mampu melihat (masuk kesadaran penuh) bahwa hanya karena Allohlah semata (Rahmat, Pertolongan, Penjagaan, dan Anugerahnya) semua amal dan kebaikan-kebaikannya itu bisa terselenggara. Dari kesadaran dan analoginya itu, akhirnya ia mampu untuk tidak melihat kepentingan-kepentingan nafsunya dan potensi-potensi amalnya. Akirnya, ia mampu berbuat ikhlas, namun dari kesadaran karna Pertolongan dan Rahmatnya Alloh. Beda dengan Para Zahidiin dan Para Abidiin di atas tadi.
Motif utamanya Para Muqorrobiin yaitu menyatakan Firman Alloh Ta'ala "iyyaka nasta'iin" hanya kepadamulah kami meminta pertolongan. Dengan arti, untuk bisa menyembah, menghamba, beramal dan beribadah itu karna pertolongan Alloh. Demikian juga dalamannya amal, untuk selamat dari riya' (tidak membawa kepentingan nafsu), untuk bisa ikhlas itu juga ternyata masih butuh pertolongan dan anugerahnya Alloh. Dan itu masuk penuh dalam kesadarannya Para Muqorrobiin, bahwa tidak ada daya dan kekuatan untuk itu semua kecuali atas izin Alloh.
Dari Refleksi di atas, sebagian Ulama memberi label pada maqam di atas (Maqam Muqorrobiin) dengan sebutan "Maqam Shiddiq" (benar-benar jujur menghamba).
Kesadaran Para Muqorrobiin merefleksi dari Q.S Al-Bayyinah, Ayat 5 :
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus".
Kesimpulan Hikmah Alhikam Fasal 010.
Dari uraian di atas, maka diketahuilah bahwa level keikhlasan itu memang ada tingkatan-tingkatannya. Jangankan orang awan, sekelas para Abrar dan Para Muqorrobiin pun level keikhlasannya pun berbeda (nisbat kemuliaan dan kedudukan levelnya.
Bisa dikatakan juga :
- Para Abrar itu Amalnya Lillah (Karna diperintah dan dijanjikan pahala oleh Alloh).
- Para Muqorrobiin itu Amalnya Billah (dengan irodahnya Alloh).
- Lillah itu menetapkan pahala yang dijanjikan,
- Billah itu menetapkan kedekatan pada Alloh.
- Lillah itu menetapkan hak-hak ibadah dengan sebenar-benarnya.
- Billah itu menetapkan Tashihul Irodah (Semua dengan RahmatNya).
- Lillah itu sifat pembawaannya para Abidiin (Ahli Ibadah),
- Billah itu sifat pembawaannya para Qashidiin (hanya Alloh yang jadi tujuan).
- Lillah itu menunaikan hukum-hukum Syar'at lahir dgn sebenar-benarnya.
- Billah itu menjaga dan menepati hukum-hukum bathin dengan sesungguh-sungguhnya (kesadaran semua ini karna Alloh dengan sesungguh-sungguhnya).
Dari uraian di atas bisa disimpulkan, bahwa keikhlasan seseorang itu adalah esensi atau ruh dari setiap amalnya (kebaikannya). Dan dari keikhlasan itulah, nilai amal itu patut diterima dan layak untuk bisa semakin dekat dengan Alloh. Dan dari tidak adanya ruh keikhlasan dalam amal, amal itu jadi mati (tidak dianggap/tidak dihitung). Seperti halnya jasad tanpa nyawa atau bentuk tanpa makna.
Sebagian Ulama berkata :
صحح عملك بالإخلاص - وصحح إخلاصك بالتبري من الحول والقوة
"Shahihkan amalmu dengan keikhlasan. Dan shahihkan keikhlasanmu dengan melepas dari potensi cara dan kekuatanmu".
=======
Wallohu 'Alam Bis Shawabih.
Intaha, Ulasan Admin.
- Ref, Attanbih Mawahib Ghaitsul Aliyyah (Syarah Alhikam) Halaman 194.