 |
| Fasal 009, Attanbih Syarah Alhikam. |
Penjelasan Hikmah Fasal 009 Kitab Alhikam.
تنوّعت أجناس الأعمال، لتنوّع واردات الأحوال
Bacaannya Hikmah Fasal 009 Alhikam.
"Tanawwa'at ajnasul 'amaali, li tanawwu'i waaridatil ahwaali".
Terjemahnya Hikmah Fasal 009 Alhikam.
"Berbeda-bedanya jenis amal (bentuk atau praktek amaliah kebaikan) itu karena (dipengaruhi) berbeda-bedanya (kefahaman atau) kesadaran bathin (akan Alloh sebagai Tuhan atau kesadarannya sebagai Hamba) yang disadari oleh di Pengamalnya".
- Ada yang beramal sungguh-sungguh, ada yang sekedarnya saja.
- Ada yang ikhlas 70%, 50%, 10%, ada yang 0%.
- Ada yang imitasi, ada juga yang cuma pura-pura.
- Ada yang rajin, tapi ada pamrih.
- Ada yang rajin ibadah sunnah, tapi malas ibadah wajib.
Dan buuanyak lagi kasus-kasus perbedaan amal. Akan dibahas lebih lanjut dalam Bab Tazkiyatun Nafs, In Syaa Alloh.
Kamus Kata :
1. Ajnasul 'Amal.
Jenis amal kebaikan yang berbeda-beda, dalam konteks fasal ini adalah level kesungguhan dalam beramal atau tingkat keikhlasan dalam beramal.
Ada orang yang mengerjakan kebaikan hanya sekedarnya saja, ada yang sungguh-sungguh, ada yang dengan pamrih, ada yang loyo bahkan berhenti bila gak sesuai ekpektasi, bahkan sampai tingkat keikhlasan seseorang pun berbeda-beda, atau malah sudah sedari awal gak mau, gak percaya, mengingkari atau sebelumnya sudah mau berbuat baik namun akirnya sudah gak mau berbuat baik lagi.
Selengkapnya perihal Filosofi Keikhlasan akan dijelaskan lebih lanjut dalam
Maqolah 010 setelah ini, In Syaa Alloh.
Hal ini sesuai dengan firman Alloh dalam Al-Qur'an Surah Fathir Ayat 32.
ثُمَّ أَوْرَثْنَا ٱلْكِتَـٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌۭ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌۭ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِٱلْخَيْرَٰتِ بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَضْلُ ٱلْكَبِيرُ
"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar".
2. Waridat.
Suatu pengertian pengetahuan atau kefahaman Ketuhanan yang masuk pada kesadaran pada setiap orang. Yang mana tingkat atau level kesadaran Ketuhanan itu nanti akan sangat mempengaruhi tiap-tiap orang dalam mengerjakan berbagai kebaikan. Semakin mendalam kesadaran Ketuhanan yang ia dapat (fahami), maka semakin serius juga ia dalam beramal kebaikan.
Selengkapnya perihal ini bisa muroja'ah dalam Bab Wirid Warid Dan Waridat.
3. Ahwal.
Suasana kerohanian (hati) pada tiap-tiap orang. Kesadaran dalam hati atau perasaan hati, dalam kontek fasal ini adalah tingkat kesadaran tentang Allohnya.
** Fasal ini hanya menjelaskan sebuah proses pertumbuhan kerohanian (kesadaran ketuhanan dalam hati), ONLY PROSES, jadi belum final.
Syarah Penjelasan Fasal 009.
Pada fasal ini Muallif Alhikam Imam Ibnu Athoillah As-Sakandari Radhiyallohu Anhu menjelaskan sebuah proses bahwa amal kebaikan yang dilakukan seseorang yang berbeda-beda (dalam konteks ini adalah perilakunya para murid-salik) itu sangat dipengaruhi oleh pengertian kefahaman keyakinan atau kesadaran akan Alloh (sifat dan af'alnya Alloh) yang berbeda-beda yang disadari dan difahami oleh murid-salik itu sendiri.
✅ Bila yang disadari dan difahami (kesadaran yang memenuhi hatinya) itu adalah Alloh maha kuasa, maha perkasa, maha memaksa (sifat dan Af'al Jalaliyyah) maka akan mempengaruhi amal kebaikan berdasar haibah (rasa segan, rasa sungkan, rasa takut, rasa ta'dzim).
✅ Bila yang disadari dan difahami (kesadaran yang memenuhi hatinya) itu adalah Alloh maha penyayang, maha pemberi nikmat, maha dermawan, maha asih (sifat dan Af'al Jamaliyyah) maka akan mempengaruhi amal kebaikan berdasar Unsu (rasa ayem, rasa syukur rasa tenang, rasa, rasa suka cita).
✅ Bila yang disadari dan difahami (kesadaran yang memenuhi hatinya) itu adalah Alloh maha sempurna, maha mengatur, maha mengetahui, maha penolong, maha melapangkan (sifat dan Af'al Kamaliah) maka akan mempengaruhi amal kebaikan berdasar basthu (rasa lapang dada, rasa ceria, rasa seperti tidak ada yang perlu dikhawatirkan), ya karna sudah diatur oleh Alloh.
✅ Bila yang disadari dan difahami (kesadaran yang memenuhi hatinya) itu adalah Alloh maha mencegah (Al-Mani') maha mempersempit (Al-Qabidh) (dari sifat dan Af'al Jalaliyyah) maka akan mempengaruhi amal kebaikan berdasar Qabdu (rasa segan, rasa sungkan, rasa takut gak diterima).
Alloh itu maha penolong (An-Nashir) tapi juga bisa tidak menolong (Ad-Dhor), terus kalo Alloh gak menolong, siapa yang bisa protes? Apa kamu gak takut?
Alloh itu maha melapangkan (Al-Basith), tapi juga maha menyempitkan (Al-Qabidh), terus kalo Alloh sedang membuatmu sempit, siapa yang bisa protes?
Akirnya, suasana kerohanian hati itu jadi ciut, susah, terasa buntu. Namun karna ia juga menyadari bahwa Alloh itu Al-Basith (Maha Melapangkan) maka suasana hatinya kesadarannya menjadi lapang lagi.
مَّا يَفْتَحِ ٱللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍۢ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦ ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ
"Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".
~ Q.S Al-Fathir, Ayat 2.
Bila teringat Jalaliyyah-Nya, rasa hati jadi segan sungkan takut sempit.
Bila teringat Jamaliah-Nya, rasa hati jadi lapang gembira suka cinta.
Kadang tiba-tiba senang, kadang tiba-tiba susah. Adaa aja sebabnya.
Implementasi Praktek.
Fasal ini menyasar semua orang pada umumnya, khususnya bagi para murid-salik. Karna tidak bisa dipungkiri, semua orang dalam menjalani kehidupan ini akan bertemu berpapasan dengan hal atau sebab yang pada suatu waktu bisa membuat dirinya susah hatinya sempit merasa jengkel marah merasa buntu, dan pada suatu waktu juga akan ada hal atau sebab yg membuatnya lapang senang bahagia suka cita.
Dari berbagai perubahan suasana hati itulah nanti akan sangat mempengaruhi seseorang dalam berbuat amal kebaikan. Semakin mendalam pengertian kefahaman dan kesadaran akan Asma' dan Af'alnya Alloh, maka semakin dalam juga rasa (makin berasa) ia dalam menjalani amal kebaikan (dalam kehidupan sehari-hari).
Pertanyaan.
Apakah ada suasasa hati yang stabil?
Tidak susah juga tidak bungah, namun juga tetap beramal lillah dan billah?
Jawabnya : ADA. Yaitu Nafsu Muthmainnah, Nafsu Rodhiyah, Nafsu Mardhiyah, Nafsu Kamilah.
Selengkapnya bisa dibaca pada Bab Perilaku Hati Dan Nafsu.
Kesimpulan.
Dari penjelasan di atas, sangat wajar dan tidak mengherankan bila ada orang pada umumnya atau khususnya murid-salik yang terkadang hatinya terasa sempit atau dalam kesempitan namun ia tetap ikhlas beramal. Dan ada pula yang hatinya terasa lapang fine-fine saja namun juga tetap ikhlas beramal.
Ibarat universitas (sekolah wali), ada yang masuk dari fakultas sabar, ada yang masuk fakultas syukur, dan nanti bila lulus juga sama-sama jadi Sarjana. Dan bila ketepatan ia nanti jadi Dosen (dikasih kewenangan untuk bimbing umat) maka juga akan mempengaruhi teori logika metode dan cara mengajar bagi murid-muridnya. Selengkapnya perihal ini bisa dibaca pada Bab Para Washilin Dan Auliya'.
Wallohu 'Alam.
Intaha Ulasan Admin.