Teori Alloh Selalu Ada Dan Bersama Kita: Al-Hikam Pasal 16
سُبْحَـٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ
Mudarosah Al-Hikam Hikmah Pasal 16
Masih menjelaskan perihal contoh-contoh bahan tafakur. Sudah dijelaskan dalam ulasan artikel sebelumnya perihal di antara bukti sifat Qohriyyahnya Alloh yaitu "Alloh bisa menghalangimu dari-Nya (membuat dirimu tidak tau adanya Alloh) dengan penghalang yang tidak ada di sisi-Nya" Baca ulasannya dalam artikel "Analogi Dan Makna Dari Asmaul Husna Al-Qohar".
Penjelasan Maqra' fasal ini juga masih berkaitan dengan Al-Hikam Hikmah Fasal 012 yang menjelaskan tentang "Praktek Tazkiyatun Nafs Dengan Uzlah Yang Dibarengi Tafakur" Baca ulasannya dalam artikel "Teknik Praktek Tazkiyatun Nafs Dengan Uzlah Dan Tafakur".
Lalu dalam fasal 016 ini, Muallif Ibnu 'Athaillah Assakandari membuat penegasan lagi atas makna fasal sebelumnya (Al-Hikam Hikmah Fasal 015). Menegaskan dengan berbagai teori pertanyaan yang mengherankan.
Pertanyaan yang terang benderang bagi Para Ahli Ma'rifat (tidak perlu dijawab, karna saking jelasnya jawabannya sudah diketahui sangat jelas), sekaligus juga dalam pertanyaan itu samar (makin membuat tanda tanya) bagi Para Ahli Ghaflah.
Kalo bisa diloncat maknanya :
"Alloh itu sangat terang benderang wujudnya bagi para Ahli Ma'rifat. Namun Alloh bagi para awam itu samar (tidak tau, tidak sadar, masih banyak bertanya-tanya)".✓ Teks Arab Matan Al-Hikam Pasal 16
- كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ كُلَّ شَيءٍ #؟
- كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ بِكُلِّ شَيءٍ #؟
- كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ فِي كُلِّ شَيءٍ #؟
- كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلِّ شَيءٍ #؟
- كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الظّاهِرُ قَبْلَ وُجودِ كُلِّ شَيءٍ #؟
- كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ أَظْهَرُ مِنْ كُلِّ شَيءٍ #؟
- كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ الواحِدُ الَّذِي لَيْسَ مَعَهُ شَيءٌ #؟
- كَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَهُوَ أَقْرَبُ إلَيْكَ مِنْ كُلِّ شَيءٍ #؟
- وكَيْفَ يُتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبَهُ شَيءٌ وَلولاهُ ما كانَ وُجودُ كُلِّ شَيءٍ #؟
- يا عَجَباً كَيْفَ يَظْهَرُ الوُجودُ في العَدَمِ
- أَمْ كَيْفَ يَثْبُتُ الحادِثُ مَعَ مَنْ لَهُ وَصْفُ القِدَمِ #؟
✓ Bacaannya Al-Hikam Hikmah Pasal 16
![]() |
| Mudarosah Syarah Al-Hikam Hikmah Fasal 016. |
- "Kaifa yutashowaru an yahjubahu syaiun wahuwa ladzi adzharo kulla syai`in?".
- "Kaifa yutashowaru an yahjubahu syaiun wahuwa ladzi dzoharo bikulli syai`in?".
- "Kaifa yutashowaru an yahjubahu syaiun wahuwa ladzi dzoharo fii kulli syai`in?".
- "Kaifa yutashowaru an yahjubahu syaiun wahuwa ladzi dzoharo likulli syai`in?".
- "Kaifa yutashowaru an yahjubahu syaiun wahuwa ad-dzahir qobla wujudi kulli syai`in?".
- "Kaifa yutashowaru an yahjubahu syaiun wahuwa adzharo min kulli syai`in?".
- "Kaifa yutashowaru an yahjubahu syaiun wahuwa al-wahidu alladzi laisa ma'ahu syai`un?".
- "Kaifa yutashowaru an yahjubahu syaiun wahuwa aqrobu ilaika min kulli syai`in?".
- Kaifa yutashowaru an yahjubahu syaiun wa laulahu maa kaana wujudu kulli syai`in?".
- "Ya ajaban!! Kaifa yahzharu al-wujudu fil adami?".
- "Am kaifa yastbutu al-hadist ma'a man lahu washful qidam?".
!! Pada nash asal hanya menyebut 9 kaifa. Nomer 10 dan 11 dihitung pertanyaan lain, dan dimasukkan pada urutan nomer 9. Pada ulasan artikel ini, penulis memisahkannya dengan nomer 10 dan 11, untuk memudahkan dalam penjelasan.
✓ Terjemahnya Hikmah Al-Hikam Pasal 16
1. "Bagaimana bisa dibayangkan ada sesuatu bisa menutupi Alloh, sedang Allohlah yang menampakkan segala sesuatu?".
2. "Bagaimana bisa dibayangkan ada sesuatu bisa lepas dari Alloh, sedang Alloh itu nampak dengan segala sesuatu?".
3. "Bagaimana bisa dibayangkan ada sesuatu bisa keluar dari Alloh, sedang Alloh itu nampak di dalam segala sesuatu?".
4. "Bagaimana bisa dibayangkan ada sesuatu bisa membatasi Alloh, sedang Alloh itu nampak pada segala sesuatu?".
5. "Bagaimana bisa dibayangkan ada sesuatu bisa menghalangi Alloh, sedang Alloh itu yang ada/wujud sebelum segala sesuatu itu ada/wujud?".
6. "Bagaimana bisa dibayangkan ada sesuatu bisa menghalangi Alloh, sedang Alloh itu yang nampak (Ad-Dzahir) dari segala sesuatu.
7. "Bagaimana bisa dibayangkan ada sesuatu bisa menghalangi Alloh, sedang Alloh itu satu-satunya satu yang tidak ada sesuatu lain bersamanya?".
8. "Bagaimana bisa dibayangkan ada sesuatu bisa jauh-menjauhkan dari Alloh, sedang Alloh itu paling dekat denganmu daripada segala sesuatu?".
9. "Bagaimana bisa dibayangkan ada sesuatu bisa tanpa Alloh, sedang segala sesuatu tak akan pernah ada tanpa adanya Alloh?".
10. Sungguh heran mengherankan. "Bagaimana bisa dibayangkan (dikatakan) "ADA" di dalam sesuatu yang tidak ada?".
11. "Atau bagaimana bisa sesuatu yang sifatnya "TIDAK TETAP" (Makhluk/hadist/sesuatu yang berubah-ubah) itu bisa bersama nempel dengan sesuatu yang "TETAP" (Alloh Al-Qidam)?".
✓ Kamus Kata Al-Hikam Pasal 16
✓✓ An Yahjuba (Menghijab)
Sudah dijelaskan dalam ulasan artikel sebelumnya (Al-Hikam Hikmah Fasal 015), bahwa secara bahasa arti hijab itu adalah tutup atau tirai atau tabir atau penghalang. Sedang secara istilah atau makna dari Hijab atau Menghijab (menutupi atau membuat penghalang) itu bisa dengan berbagai macam bentuk yang bisa di indera (Hissi) :
![]() |
| Refleksi Hijab Dalam Al-Quran - Alhikam Fasal 016. |
- Menutupi / ditutupi
- Menghalangi / dihalangi
- Menyelubungi / diselubungi
- Menyembunyikan / disembunyikan
- Membuat tak kelihatan
- Memisahkan / dipisahkan
- Menahan / ditahan
- Melemahkan/ dilemahkan
- Melepaskan / dilepaskan
- Menjauhkan / dijauhkan
- Mengacuhkan / dibiarkan
- Meninggalkan / ditinggalkan
- Memblokir / diblokir
- Memprivasi / diprivasi
- Mengeluarkan / dikeluarkan
- Mengelompokkan / dikelompokkan
- Menyekat / disekati / dibuat sekat / dipagari
- Membatasi / dibatasi
- Melarang masuk / dimutasi
- Memproteksi / diamankan
- Mensegel / Copyrigth / Hak Prerogatif
- Takhshis / Memberi kekhususan daripada yang lain
Seperti halnya bisa dikatakan : Lemah itu adalah penghalang seseorang dari keinginan dan cita-citanya. Seperti halnya bisa dikatakan : Maksiat itu adalah penghalang seorang hamba dengan Tuhannya.
Sedang menghijab (menghalangi) secara maknawi (hanya dalam perasaan/hanya bisa dirasa) juga bisa dengan beragam bentuk (yang intinya menghijab itu dirimu dan sesuatu yang seharusnya kamu itu bisa eksekusi, bisa masuk di, bisa menuju pada, bisa bertemu dengan, bisa kenal, bisa dekat, atau bisa bersama jadi terhalang tidak bisa atau tidak tau) :
- Kamu tidak mengenal (terhijab).
- Kamu tidak menyadari atau tidak merasa (terhijab).
- Kamu tidak tau (terhijab).
- Kamu tidak berfikir dan terfikir sampai ke situ / gak nyangka (terhijab).
- Kamu sedang lupa atau dibuat lupa (terhijab).
- Kamu dibuat sibuk / tersibukkan hingga lupa (terhijab).
- Kamu ragu atau bimbang (terhijab).
- Tersesat atau salah logika berfikir (terhijab).
- Salah kesimpulan atau salah langkah (terhijab).
Seperti Firman Alloh dalam Al-Quran : Q.S Al-A'raf (7) ayat 46.
Penjelasan Al-Hikam Hikmah Pasal 16
1. Tajalli Wujud. Seperti contoh : adanya anak itu bukti adanya bapak-ibu. Adanya tulisan itu bukti adanya yang nulis. Begitu juga, adanya ada (wujudnya alam semesta ini) itu bukti adanya yang mengadakan-yang mewujudkan (yang menciptakan, Alloh). Jadi logika ngaco dan ngawur bila kamu berkesimpulan "anak ini keluar dari batu, atau anak ini tiba-tiba ada".
2. Tajalli Asma' "Bi kulli Sya`i". Seperti contoh : adanya tulisan itu berarti bukti jelas bahwa ada yang menulis. Yang nulis itu dijuluki sebagai Penulis, sedang tulisannya disebut Karya Tulis (jejak pekerjaan dari Si Penulis). Jadi logika ngaco dan ngawur bila kamu menganggap kalo "Karya Tulis ini bukan dari seorang Penulis tapi karya dari pesepakbola, misale).
3. Tajalli Sifat " Fii kulli Sya`i". Seperti contoh : adanya tulisan itu sangat bagus, teratur, dan rapi, itu bukti jelas kalau Sang Penulis adalah seorang yang sangat pandai dan mahir menulis. Jadi logika ngaco dan ngawur bila kamu berkesimpulan bahwa penulis adalah seorang yang bodoh, apalagi berkesimpulan kalo tidak ada penulis, ya malah logika yang lebih ngaco.
4. Tajalli Af'al "Likulli Sya`i". Seperti contoh : adanya tulisan atau karya tulis itu bukti jelas ada kekuatan Penulis dalam menulis. Kekuatan mengangkat dan menggerakkan pena, kekuatan mencetak, kekuatan membuka lembaran, kekuatan menulis - mengadakan media tulisnya, berikut kehebatan dan ketrampilan menulis, dlsb. Jadi logika ngaco dan ngawur bila kamu berkesimpulan kalau Penulis itu tidak hebat. Lebih ngaco lagi kalo kamu menganggap Si Penulis itu tidak pernah ada.
- Poin 4 ini juga bisa diartikan sebagai Sifat Jaiznya Alloh. Memberi hidayah atau tidak memberi, membuka atau menutup, merubah atau menetapkan, dan lain sebagainya.
- Sebagai contoh : Adanya kamu bisa taat, bisa berdzikir dan berdoa itu pada hakikatnya (dalam zaman azali atau dalam Irodahnya Alloh) kamu sudah didesain (ditakdir) bisa taat, bisa berdzikir dan berdoa. Yang berarti juga duluan Af'alnya Alloh daripada usahamu. Yang berarti juga, bila sebelumnya (dalam zaman azali) kamu tidak didesain (tidak ditakdir) seperti itu, ya maka kamu terhalang dari itu semua. Dan kehendak Allohlah yang jadi.
- Sebagai contoh : Adanya kamu kaya atau miskin, adanya kamu berhasil atau sukses, itu semua karna dalam Azali kamu sudah didesain (ditakdir) untuk itu semua. Karna andai tidak ditakdir seperti itu, maka kamu tidak akan pernah bisa mampu begitu. Yang artinya duluan kekuatan Alloh (Af'alnya Alloh) daripada kekuatan dan usahamu.
- Sebagai contoh lagi dawuh dari Abi Yazid Al-Busthomi R.A saat ketika baru-baru memulai perjalanan suluknya. Beliau berkata : "Aku keliru dalam 4 perkara :
1. Aku menyangka bahwa diriku yang berdzikir pada Alloh, 2. Aku yang mengenal (ma'rifat) pada Alloh, 3. Aku yang cinta pada Alloh, 4. Aku yang berjalan, mencari, dan menuju Alloh.
Maka saat ketika aku sudah sampai, aku baru mengerti bahwa : 1. Alloh yang lebih dulu ingat aku, 2. Alloh yang lebih dulu mengenalku, 3. Alloh yang lebih dulu mencintaiku, 4. Alloh yang lebih dulu mencariku". At-Tanbiih Mawahib Ghaitsul Aliyyah, Syarah Al-Hikam Athaiyyah, Hal 1018.
5. Manifestasi Al-Awwal (Yang Maha Awal-Mengawali). Seperti contoh : adanya tulisan itu berarti bukti jelas bahwa sebelumnya ada yang menulis. Adanya jejak itu bukti jelas bahwa ada yang mengawali sebelumnya. Adanya perubahan itu bukti jelas bahwa sebelumnya ada yang merubah. Logika ngaco bila kamu menganggap ada jejaknya tapi tidak ada yang mengawali. Lebih ngaco lagi kalau menganggap kalo tak pernah ada yang mengawali.
6. Manifestasi Adz-Zhahir (Yang Maha Tampak) juga Al-Mubdi`u (Yang Maha Memulai-Mm embuat Permulaan). Seperti contoh : adanya tulisan-tulisan-tulisan dan banyaknya karya tulis itu bukti jelas bahwa semua bersumber-berawal-bermula dari Ilmu yang dimiliki Si Penulis. Logika ngaco bila sampai kamu menganggap semua karya tulis itu bersumber-bermula dari Ilmunya si Pesepakbola, misale. Lebih ngaco lagi bila kamu menganggap kalo tak pernah ada Penulis.
7. Manifestasi Al-Wahid (Yang Maha Satu), Al-Ahad (Maha Esa, satu-satunya satu). Seperti contoh : adanya banyak karya tulis yang berbeda-beda namun sangat indah, sangat menakjubkan, sangat teratur, namun juga dengan pola yang sama atau sunnatulloh (kecil-dewasa-tua-mati. Dari yang asalnya tiada jadi ada lalu jadi tiada lagi), bukti jelas mengerucut bahwa itu adalah karya dari satu orang dan orangnya sangat pandai dalam segala hal. Baca ulasan selengkapnya perihal Asmaul Husna dalam kategori "Bab Syarah Asma'".
8. Manifestasi Al-Qariib (Yang Maha Dekat). Seperti contoh : saat ketika seorang Penulis itu menulis, dan tidak berhenti menulis, maka secara otomatis itu jadi bukti jelas dan shahih bahwa Si Penulis itu selalu dekat dengan karya tulisnya. Selalu mengawasi, merapikan, mengarahkan, mengatur, mengetahui, dan lain sebagainya. Jadi logika ngaco dan ngawur bila kamu bayangkan dan kamu simpulkan kalau Si Penulis itu jauh atau berada jauh dari karya tulisnya (terhalang atau dihalangi oleh karya tulisnya sendiri).
9. Manifestasi Al-Khaliq (Yang Maha Pencipta). Seperti contoh penjelasan pada poin nomer 1. Adanya anak itu bukti jelas akan adanya ayah dan ibu. Adanya makhluk (ciptaan) itu bukti atau fakta jelas akan adanya Al-Kholiq (yang Maha Pencipta). Dari mulai membentuk, merawat, melengkapi, dengan segala rumit-rumitnya. Jadi logika ngaco dan ngawur bila ada statement yang mengatakan ibunya tak pernah ada. Ya karna dari ibulah seorang anak itu berasal.
10. Sungguh aneh heran dan mengherankan "sesuatu yang nyata ada (Alloh) namun bisa menyatu pada sesuatu yang tidak ada (Makhluk)". Seperti contoh : Sekilas yang nampak manusia itu bisa berdiri sendiri, punya keinginan sendiri, punya kekuatan sendiri, bisa menentukan untuk dirinya sendiri. Namun pada hakikatnya itu selalu ada Alloh di dalam diri manusia. Irodah keinginannya Alloh, Kekuatannya Alloh, menjalani Ketentuannya Alloh, dan lain sebagainya.
Kayak gak bisa diterima logika kan ya!! Lah ya jelas, hawong masuk tafakur fasal ini itu harus dengan membawa keimanan. Seperti yang sudah dijelaskan di awal tadi (muqoddimah fasal ini), bahwa bagi Ahli Ghaflah fasal ini akan membuat semakin bertanya-tanya, ragu dan bimbang. Namun bagi yang sudah membawa keimanan, maka InsyaAlloh akan semakin Yaqin.
Pertanyaan di atas terusan dari pertanyaan poin nomer 10. Seperti contoh : Alam semesta dengan dinamika perubahannya, diri manusia dengan berbagai perubahannya juga, Alloh tetaplah Alloh yang Abadi, yang Awwal, yang Mengatur, dengan segenap kekuasaan dan berbagai sifat-sifat mulia-Nya.
Begini..Makhluk itu kan tiada (pada hakikatnya) dan hanya Allohlah yang ada. Lah koq bisa berstatement seperti itu (statement poin 11), sedangkan makhluk itu nyatanya ada (secara hissi atau secara bentuk bisa dilihat), lah koq kamu katakan tidak ada?".
"ADA TAPI TIADA. TIADA TAPI ADA"
Ada tapi tiada : Makhluk secara bentuk ada-bisa dilihat, tapi secara hakikat tidak ada.
الكون والأكوان قريب حسيا و بعد حقيقة
والمكوّن قريب حقيقة وبعد حسيا
Justru malah, adanya alam semesta dan berbagai dinamika perubahannya, berikut makhluk yang ada di dalamnya, berikut kelengkapan dan berbagai kecukupan kebutuhannya itu sebagai bukti bahwa Alloh Sang Maha Pencipta itu mempunyai (lekuatan) Asma', Sifat, dan Af'al yang berbeda-beda pula.
Kesimpulan Mudarosah
✓ Ada lemah - Ada kuat. Berarti Alloh bisa melemahkan dan bisa menguatkan.
✓ Ada mulia - Ada hina. Berartu Alloh punya Af'al Al-Mu'iz dan Al-Mudzil.
✓ Memberi akal pikiran, memberi nafsu keinginan, menggerakkan, menguasakan, memampukan, dan lain sebagainya.
✓ Alloh memberi perintah pada jin dan manusia untuk menghamba pada-Nya, Alloh juga menyediakan melengkapi menguasakan memampukan sarana dan prasarana untuk tugas kehambaan itu.
Dari uraian yang sudah dijelaskan, andai kita bisa melihat dengan kacamata hakikat (kesadaran keimanan), Alloh itu nyata ada baik secara hissi ataupun maknawi. Yang mana bisa diartikan juga bahwa Alloh itu selalu ada dan selalu bersama kita.
✓ Fasal 016 Dari Hikmah Makna Al-Quran :
Keterangan lebih lanjut perihal Asma' dan Sifat bisa Muroja'ah klik Kategori "Bab Syarah Asma'".
Artikel Terkait
Mudarosah Interaktif
Share Vote Comments And Other
Author Catatan Mudarosah.
Terima Kasih telah membaca Catatan Mudarosah
[ Teori Alloh Selalu Ada Dan Bersama Kita: Al-Hikam Pasal 16 ], Semoga bermanfaat.
Halaman Catatan Favorit ada di kolom pojok kanan atas.
Contact and Support : admin.mudarosah@gmail.com





