Mudarosah Hikmah Al-Hikam Pasal 20
Al-Hikam Pasal 20 ini masih dalam pembahasan terkait Adabul Sulukil Murid. Adab-adab yang seringkali dilewatkan oleh para Murid dalam perjalanan ruhaninya (Suluk). Mulai dari...
Pasal 20 ini : Jebakan kenyamanan spritual dalam ibadah.
Adab-Adab Suluk itu secara aturan memang tidak tercantum dalam protokoler syariat. Yang berarti secara Syari'at kalo adab itu dilanggar tidak masalah (secara hukum syari'at tidak berdosa). Namun beda cerita kalau dalam hal Suluk Tasawuf.
Dalam Tasawuf melanggar adab itu bisa berakibat fatal (kalo ibarat sekolah, bisa bikin tidak naik kelas alias stuck).
Melanggar adab, gak segera sadar, malah ngeremehkan itu seringkali mengakibatkan...
- Sudah dikeluarkan kelas tapi gak nyadar.
- Diprivasi (ma'arifnya tidak ditambah).
- Diskualifikasi Maqam.
- Pemberian, hadiah, atau piagam Ahwal yang sudah pernah diberikan ditarik kembali.
Perihal ini nanti akan ada banyak penjelasannya lagi dalam "
Bab Istidraj" atau dalam kategori "
Bab Adabu Suluk".
✓ Teks Arab Al-Hikam Pasal 20
ما أَرادَتْ هِمَّةُ سالِكٍ أَنْ تَقِفَ عِنْدَ ما كُشِفَ لَها إلا وَنادَتْهُ هَواتِفُ الحَقيقةِ - "الَّذي تَطْلُبُ أَمامَكَ" - وَلا تَبَرَّجَتْ ظَواهِرُ المُكَوَّناتِ إلا وَنادَتْهُ حَقائِقُها - "إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ
✓ Bacaan Al-Hikam Hikmah Pasal 20
 |
| Jebakan Mukasyafah dan Karomah: Al-Hikam Pasal 20 |
"Maa aroodat himmatu Saalikin an-taqifa inda maa kusyifa lahaa illa wanadat-hu hawatiful haqiqoti "alladzi tathlubu amamaka". Walaa tabarojat dhowahirul mukawwanati illa wanadat-hu haqoiquhaa "innamaa nahnu fitnatun, falaa takfur".
✓ Terjemah Al-Hikam Pasal 20
"Himmah seorang Salik tidak akan berhenti pada Mukasyafah kecuali mukasyafah itu berbicara padanya "yang kamu cari masih ada di depanmu". Dan tampilan-tampilan Dunia yang terlihat nyata itu berbicara padanya "Sungguh, kami semua adalah fitnah, maka janganlah kau kufur".
Kamus Kata Al-Hikam Pasal 20
✓ Himmatu Saalikin
Himmah : Secara umum adalah keinginan atau tujuan kuat dalam hati yang sudah bulat pada sesuatu. Ibarat ingin ketemu sesuatu, maka ia tidak akan pernah berhenti bila belum bertemu sesuatu yang ia inginkan. Dan ia tidak lagi memerdulikan apa-apa selain sesuatu tersebut, atau tidak lagi perduli pada apa-apa yang tidak berhubungan dengan sesuatu tersebut. Pokok'e gass..!!
- Himmah bisa juga kamu katakan dengan sebutan "Tekad Bulat". Dalam kontek pasal ini adalah himmah atau tekad bulat dan kuat untuk wushul menuju pada Alloh. Disarikan dari Mausu'ah Musthalahat Tasawuf Al-Islami, Karya Dr. Rofiqul Ajam, Hal 1203.
Saalikin : Seseorang yang memang sedari awal sudah niat memasang diri untuk sejalan dan seirama dengan ketentuan Alloh. Bisa juga kamu katakan "orang yang lagi menempuh/mempraktekkan laku tasawuf (suluk). Bisa juga untuk istilah "Sair ilalloh atau orang yang lagi menempuh perjalanan menuju Alloh." ** Tambahan Penulis
✓ An Taqifa
Bisa berarti berhenti, menghentikan, tidak melanjutkan, atau stuck. Dalam kontek pasal 20 ini, seorang Salik tidak melanjutkan karna merasa sudah cukup, merasa sudah puas, atau merasa sudah berhasil.
✓ Inda maa kusyifa lahaa
- "Saat ketika menemukan Mukasyafah". Mukasyafah dalam kontek pasal 20 ini seperti halnya pameran yang ditemui seorang Salik dalam perjalanan suluknya. Ibarat dari Pati tujuannya ke Jakarta mau ketemu Presiden, maka dalam perjalanan itu akan ada banyak pameran, pertunjukan, atau peristiwa yang seringkali bikin orang terlena hingga lupa pada tujuan awalnya. Semisal pertunjukan pasar malam, pameran sirkus, dan lain sebagainya.
=== Ibarat anak kecil gak pernah jalan-jalan keluar rumah, suatu ketika diajak emaknya pergi ke pasar, dan ketepatan di pasar itu sedang ada pameran atau atraksi yang sangat menarik dan si anak pun menonton dan menikmatinya. Akirnya si anak ini malah keenakan nonton, gak jadi belanja, gak mau pulang. Di ajak pulang malah ngamuk.
=== Ibarat orang dalam perjalanan dengan tujuan ngirim paket, ketemu yang punya paket. Ketepatan di perjalanan ada pertunjukan, yang main cewek cantik, kenalan, akire keterusan malah mandek di situ. Gak jadi ngirim paket, gagal ketemu yang punya paket.
Kembali ke atas : Bahkan dalam komplek istana presiden, berikut hidangan istana dan ruangan presiden yang begitu mewah bisa ia saksikan dan rasakan, hingga akirnya ia malah terlena (berhenti di ruangan itu) dan lupa tujuan awal (ketemu dan bicara empat mata dengan Presiden). Pameran, kejadian, peristiwa, atau hidangan itu lo yang disebut "inda maa kusyifa lahaa".
Mestinya, kalo niatnya itu bener-bener pingin ketemu dan bericara dengan Presiden, semua pameran, peristiwa, atau semua hidangan mewah itu harus kamu abaikan.
✓ Illa wanadat-hu Hawatiful Haqiqoh
Kecuali himmah atau tekad bulatnya tadi bersuara memperingatkan... "yang kamu cari dan yang kamu tuju ada di depanmu".
Hawatiful Haqiqoh : suara-suara kebenaran atau letupan-letupan hakikat yang muncul dalam hati maupun terasa dalam kesadaran.
✓ Walaa tabarojat Dzowahirul Mukawwanat
Dzowahirul Mukawwanat : Penampilan-penampilan dari apa yang ada (dalam semesta ini). Dalam kontek pasal ini adalah penampilan-penampilan Karomah.
=== Kalau "indamaa kusyifa lahaa" itu mukasyafah (alias terbuka dari sisi bathin), entah berupa ilham, ma'arif ilmu, rahasia-rahasia Ketuhanan, atau datangnya banyak pengetahuan-pengetahuan baru yang sama sekali tidak ia ketahui sebelumnya.
=== Kalau "Dzowahirul Mukawwanat" itu dari sisi ekternal. Semisal orangnya jadi ampuh/jaduk/sakti, bisa menyembuhkan segala penyakit, doanya mustajab, bisa lempit bumi, bisa melihat dan menundukkan Jin, bisa tau kejadian yang akan datang, dan lain sebagainya.
Yang intinya "Dzowahirul Mukawwanat" ini adalah kejadian yang diluar kewajaran umumnya orang, atau sering orang menyebutnya dengan "Karomah". Perihal Karomah akan ada banyak lagi penjelasannya dalam kategori "Bab Karomah dan Mukasyafah".
✓ Falaa Takfur
- Maka janganlah kamu kufur. Kufur dari mustaq kafaro. Bisa berarti ingkar, tidak mengakui, ketutup (dari kebenaran). Dalam kontek pasal 20 ini yang dimaksud adalah "jangan kamu ingkari". Jangan kamu ingkari bahwa kemampuan Mukasyafah dan Karomah yang kamu sandang itu semua atas izin Alloh yang sewaktu-waktu bisa dicabut kembali. Bukan karna mujahadah dan doa-doamu. Baca ulasan selengkapnya tentang pengertian Kafir dan Kufur dalam artikel "Pengertian Kafir dan Kufur dengan Berbagai Jenisnya".
"Bagaimana bisa Mukasyafah dan Karomah itu kamu akui...hawong kamu bisa mujahadah, bisa berdoa, mampu mukasyafah dan punya karomah itu saja atas seizin Alloh?!".
Makanya dalam perjalanan ruhani (perjalanan suluk) yang harus selalu dipegang oleh seorang murid dalam memulai suatu amal yaitu dengan tidak bergantung "istinad" pada amalnya. Karna dengan memulai amal dengan tidak bergantung pada amal, bila suatu ketika dari amalnya itu memunculkan asrarnya (dia dapat mukasyafah atau karomah), ia tidak lantas ngaku-ngaku.
Baca ulasan selengkapnya perihal ini dalam Hikmah Al-Hikam Pasal 01.
Begini logikanya : Kamu bisa mukasyafah, bisa punya karomah, kuat tirakat, kuat mikir, mampu berdoa, mampu berjalan mujahadah, masih kepikiran berdoa, menjalankan kewajiban dan sebagainya, itu kan (wadahnya) kamu harus hidup dulu, bernafas dulu, punya mulut, punya kaki utk berjalan, otaknya jalan, hatinya jalan, dan itu semua harus sehat/berfungsi dgn semestinya. lo itu semua kan modal gratis dari Alloh. Kamu hidup dulu (itu wadahnya), baru apa-apa (fasilitas) yang kamu nikmati dalam hidupmu itu adalah isi atau imdad pemberian-Nya.
Al-Hasil : Wadah beserta isinya itu pada hakikatnya adalah kepunyaan Alloh. Namun karna kamu yang ketepatan jadi penampilan kebaikannya Alloh, maka nanti yang dapat penilaian baik ya kamu. Yang dapat pahala dan surga ya kamu, bukan orang lain. Al-hasil...wadah, isi, berikut penilaian dan ganjarannya pada hakikatnya itu semua pemberian Alloh.
Penjelasan Al-Hikam Pasal 20
Diketahui bahwa seorang Salik atau orang yang sedang mengadakan perjalanan ruhani itu terkadang akan menemui berbagai rintangan dan/atau ditemui berbagai penampilan-penampilan yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Entah dari sisi internal (mukasyafah) atau dari sisi eksternal (karomah).
Yang mana penampilan tersebut seringkali membuat tekad seorang Salik itu melemah atau membuat terpana hingga akhirnya si Salik tersebut berpindah arah niatnya, berhenti, atau menghentikan mujahadahnya. Atau penampilan tersebut membuat seorang Salik salah faham dan menganggap bahwa perjalanannya menuju Alloh sudah sampai, hingga akirnya juga ia berhenti atau menghentikan mujahadahnya (karna merasa sudah sampai).
Bila hal tersebut dialami oleh seorang Salik, maka Himmah Aliyyahnya akan bersuara dan berkata memperingatkan "bahwa apa yang kamu cari, masih ada di depanmu". Maka hendaknya bagi seorang Salik tidaklah memerdulikan penampilan-penampilan seperti itu dan terus melangkah melanjutkan mujahadahnya.
Melanjutkan mujahadah dalam arti hendaknya seorang murid suluk itu niat dan mujahadahnya fana' ilalloh. Niat dan mujahadahnya selalu disandarkan pada Alloh, yang mana hanya Allohlah yang menjadi tujuan akhir. Bersandar dan menyadari bahwa keniatan untuk wushul berikut kekuatan bisa mujahadah dan kemampuan bisa wushul itu semata atas pertolongan Alloh.
Maksudnya, ia bisa tau bahwa penampilan-penampilan karomah dengan berbagai pesonanya itu bukan tujuan, bahkan malah seringkali menganggu perjalanan menuju Alloh. Bisa tau itu lo bukan karna mujahadahmu tapi semata karna pertolongan Alloh. Itu yang dimaksud dengan fana' fii suluk. Karna andai bukan karna fadhol dan rahmat Alloh, kamu selamanya tak akan mampu.
Seperti firman Alloh dalam Al-Quran :
 |
| Jebakan Mukasyafah dan Karomah: Al-Hikam Pasal 20 |
Qultu : Penulis punya rumus simpel yang berkaitan dengan perihal "fana' fii suluk". Yaitu :
Saat kamu merasa sudah, bisa berarti belum.
Saat kamu merasa belum, bisa berarti sudah.
- Fain qulta / andai kamu bertanya :
"Bagaimana caranya agar bisa tau, atau bagaimana orang bisa tau bahwa ada "hawatiful haqiqoh/bisikan-bisikan kebenaran yang bersuara memperingatkan seorang Salik?".
+ Qultu : Jadi orang yang suluknya itu bener-bener, dalam arti secara keniatannya suluk shahih, secara praktek amaliah suluknya shahih (mujahadah dan muhasabahnya shahih), itu nanti biasanya akan ada bimbingan lanjut dari Alloh, ditandai dengan datangnya hatif yang seringkali muncul memperingatkannya atau terasa selalu ada yang mengawasi keshahihan amalnya.
Semisal contoh : Ketika ia mau infaq sedekah terus nafsunya nebeng pingin pamer dengan berbagai trik dan alasan nafsu, maka akan ada hatif yang bersuara memberi peringatan "infaq jangan seperti ini. Itu termasuk pamer. Dan pamer itu membatalkan amal. Padahal niatmu kan karna Alloh?". Yang intinya, hatif itu selalu menuntun, mengawasi, dan memperingatkan pergerakan amalnya.
Berkaitan dengan pertanyaan di atas, Syaikh Abu Hasan Asy-Syadzili R.A memberi contoh alur kronologi bagaimana seseorang bisa sampai pada keadaan tersebut. Mafakhir Al-Aliyyah, Hal 60, Dalam Pasal Muroqobah. Qoola...
Faidatun : Bila kamu pingin dapat jatah Maqam Kewalian
Bila kamu pingin dapat jatah dari Maqam Kewalian, maka lakukan langkah-langkah di bawah ini : At-Tanbiih Mawahib Ghaitsul Aliyyah, Syarah Al-Hikam Ibnu Abbad R.A, Hal 239.
1. Rafdun Nas Jumlatan
- Membuang (tidak memerdulikan) manusia seluruhnya. Kecuali orang yang terbukti secara isyaroh jelas menunjukkanmu pada jalan menuju Alloh (guru mursyid), dengan juga sudah terbukti orang tersebut amaliahnya cocok dengan Syari'at.
Tidak memerdulikan manusia entah dari segi membuat mereka jadi pertimbangan, jadi patokan, atau jadi pedoman. Orang-orang itu jangan kamu jadikan pedoman, tapi berpedomanlah pada hukum-hukum Alloh, pada kuasa dan kebijaksanaannya Alloh.
2. A'ridh 'Anid Dunya Bil Kuliyyah
- Zuhud atau Berpaling dari Duniawi seluruhnya. Kepentingan-kepentingan Duniawi itu jangan kamu jadikan opsi pilihan dan tujuan. Dan zuhudmu itu tadi jangan sampai membawa kepentingan selain lillah wa billah. Bukan zuhud yang mengharap imbal balik entah itu pemberian Duniawi atau Ukhrowi. Baca ulasan selengkapnya perihal Zuhud dalam kategori "Bab Zuhud".
3. Muroqobah
- Setelah 2 step di atas, hendaknya kamu selalu meneliti amaliah lahir-bathinmu, jangan sampai kemasukan atau kecampuran dengan pengakuan-pengakuan diri. Meneliti jangan sampai di dalam kerajaan hatimu itu ada yang lain selain Alloh.
4. Menjaga Taubat
- Hendaknya kamu selalu menjaga taubat. Jangan sampai kamu lancang kepikiran mengakui bahwa kamu itu sudah gak punya salah. Entah salah dalam hal amaliah, hal ubudiyyah, hal keniatan, atau hal rasa kesadaran adab pada Alloh.
5. Istighfar bil Inabah
- Hendaknya kamu selalu memohon ampun (istighfar) seraya mengembalikan semua pada Alloh. Semoga Alloh memaklumi kesalahan dan kekhilafanmu, membantu, menjaga, dan menjagamu dari hal-hal yang dibenci Alloh.
6. Tunduk Patuh dengan Istiqomah
- Hendaknya kamu selalu tunduk dan patuh pada hukum-hukum Alloh, pada pengaturan dan ketentuan Alloh dengan sebenarnya (istiqomah). Pas kepenak ya tunduk, pas gak kepenak juga tunduk. Selalu patuh siyap menerima segala ketentuan Alloh baik suka maupun duka, baik sesuai keinginan atau tidak.
=====
- Bila sudah melewati 6 step di atas, maka nanti akan ada hatif hakikat yang memperingatkan...
"Loh koq bisa kamu merasa dan menganggap punya kemampuan untuk melakukan 6 step di atas. Bukankah Alloh malah sudah lebih dulu Maha Mengawasimu, Maha Menyaksikanmu, Maha Mengetahuimu, Maha Melihatmu, Maha Memampukanmu?".
- Akhirnya kamu sadar bahwa kamu itu gak bisa apa-apa. Semua kemampuan dan kebisaanmu itu ternyata atas seizin Alloh. Akirnya kesadaran itu mendorongmu pada rasa segan, rasa malu. Akirnya kamu istighfar mohon ampun, taubat, dan inabah atas salah sangkamu itu.
- Akhirnya hatif hakikat lagi-lagi bersuara memperingatkan..
"Bahkan kamu bisa taubat, bisa istighfar, bisa inabah, bisa ngamal itu semua juga atas seizin Alloh. Bila tidak, ya maka kamu gak akan pernah bisa seperti itu". ~ Suara Hatif Hakikat.
- Akirnya peringatan dari hatif itu menyadarkanmu. Akhirnya kamu hanya cuma bisa pasrah, tunduk, patuh, menerima dan menjalani semua ketentuan Alloh dengan juga mengembalikan pada pertolongan dan penjagaan Alloh.
- Begini, semisal contoh :
Alloh perintah padamu untuk sholat, untuk selalu berbuat baik, untuk memerangi nafsunya dan sebagainya, hendaknya kamu mengembalikan semua itu (bisa melakukan perintah dan menjauhi larangannya) pada kekuatan, pertolongan, dan penjagaan Alloh juga. Bukan malah saat kamu sudah bisa mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, kamu sandarkan pada kemampuan dirimu. Seperti panduan pada Hikmah Al-Hikam Pasal 01 yang memberi batasan "Mulailah Amalmu dengan jangan Bergantung pada Amalmu".Kesimpulan Mudarosah
Berangkat dari Firman Alloh dalam Al-Quran :
ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا عَبْدًۭا مَّمْلُوكًۭا لَّا يَقْدِرُ عَلَىٰ شَىْءٍۢ وَمَن رَّزَقْنَـٰهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًۭا فَهُوَ يُنفِقُ مِنْهُ سِرًّۭا وَجَهْرًا ۖ هَلْ يَسْتَوُۥنَ ۚ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
"Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang Kami beri rezeki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezeki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, adakah mereka itu sama? Segala puji hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui". Q.S An-Nahl (16) ayat 75.
وَكَانَ ٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ رَّقِيبًۭا
"Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu". Q.S Al-Ahzab (33) ayat 52.
إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًۭا
"Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu". Q.S An-Nisa (4) ayat 1.
إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍۢ شَهِيدًا
"Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu". Q.S An-Nisa (4) ayat 33.
وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ ۚ هُوَ أَهْلُ ٱلتَّقْوَىٰ وَأَهْلُ ٱلْمَغْفِرَةِ
"Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun". Q.S Al-Muddatsir (74) ayat 56.
=====
Qultu : Dalam Al-Hikam Pasal 20 ini menekankan pada para murid suluk pada beberapa hal (atau jebakan) yang sering bikin perjalanan ruhani itu gak naik kelas atau stuck. Dan juga arahan "bagaimana seorang Salik itu menangani dan bersikap atas hal tersebut". Di antaranya :
- Jebakan karna Mukasyafah.
- Jebakan karna Karomah.
- Jebakan merasa sudah bisa ngamal, mujahadah, dan muroqobah.
- Jebakan merasa sudah punya ahwal dan maqam taqarub (jebakan merasa sudah punya nama dan tempat di sisi Alloh).
- Jebakan merasa bisa intervensi pada ketentuan qada' dan qadarnya Alloh.
Seperti keterangan yang sudah diuraikan dalam penjelasan pasal 20 di atas tadi, Penulis ada rumus simpel :
Saat kamu merasa sudah, bisa berarti belum.
Saat kamu merasa belum, bisa berarti sudah.
- Hendaknya seorang salik itu senantiasa khudhu' (tunduk-patuh-sukarela) dalam menjalani hukum syari'at dan ketentuan-ketentuan Alloh (qada' dan qadar) Serta juga dalam kesadaran hendaknya dipupuk bahwa Alloh selalu menyaksikannya dan selalu mengawasinya. Akhirnya, seorang salik itu terus melangkah dalam mujahadah suluknya, karna ma'rifat billah itu tidak ada ujungnya.
Diharapkan dari melatih kesadaran seperti tersebut, seorang murid tidak cepat merasa dan lepas dari jebakan-jebakan keruhanian yang sangat lembut.
========
Wallohu A'lam Bishawabih
- Intaha, Ulasan Admin Mudarosah.