Masih menjelaskan perihal adab-adab Salik yang berkenaan dengan Adab Hadzroh. Bagaimana seorang Salik itu selalu dilatih untuk tunduk patuh pada ketentuan dan keputusan Alloh ('ala majaril aqdar/menjalani dan mengalir di atas takdir Alloh (pemilihan-pemilihan Alloh) di semua posisi kondisi dan situasi yang sedang dialami atau dijalaninya).
Bukan masalah ia dalam kondisi kaya mampu atau melarat tidak mampu. Bukan masalah ia berposisi sebagai petani pedagang atau pejabat. Bukan masalah ia dalam situasi yang sesuai dengan keinginannya atau tidak sesuai.
Namun bagi seorang Salik, titik permasalahan beralih pada Adab dan Kewajiban apa yang harus dilakukan ketika ia dalam kondisi melarat. Dan adab kewajiban apa yang harus ditunaikan dan dimaksimalkan saat ketika ia dalam kondisi kaya atau mampu.
Al-Hasil, di semua keadaan kondisi posisi dan situasi masing-masing orang (Salik) selalu ada adab dan kewajiban yang harus ditunaikannya. Kondisi miskin tidak lebih buruk dan berat, kondisi kaya tidak lebih baik dan ringan. Sama-sama ada adab dan kewajibannya, Alias podo abote-podo rekosone Baca ulasan selengkapnya perihal kaya dan miskin dalam artikel "Hikmah Kebijakan Ketuhanan Untuk si Kaya dan si Miskin".
Seperti halnya firman Alloh Ta'ala dalam Al-Qur'an :
"Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Q.S Al-An'am (6) ayat 165.
"Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu". Q.S Al-Ma'idah (5) ayat 48.
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" Q.S Al-Mulk (67) ayat 2.
✓ Teks Arab Al-Hikam Pasal 19
لا تَطْلُبْ مِنْهُ أَن يُخْرِجَكَ مِنْ حالةٍ لِيَسْتَعْمِلَكَ فيما سِواها ؛ فَلَوْ أَرادَ لاسْتَعْمَلَكَ مِنْ غَيْرِ إِخْراجٍ ؛
✓ Bacaan Al-Hikam Pasal 19
At-Tanbih Syarah Al-Hikam Pasal 19.
"Laa tathlub minhu an-yukhrijaka min halatin liyasta'milaka fiimaa siwaahaa. Fa lau arooda lasta'malaka min ghairi ikhrojin"
✓ Terjemah Al-Hikam Pasal 19
"Janganlah kamu menuntut Alloh untuk mengeluarkanmu dari suatu keadaan agar supaya kamu bisa beramal lebih pada keadaan yang kamu kehendaki. Apabila Alloh menghendaki kamu bisa beramal, maka Alloh bisa memampukanmu beramal dalam kondisimu saat ini"
✓ Kamus Kata Al-Hikam Pasal 19
✓✓ La Tathlub :
La Tathlub (fi'il nahi dari madhi tsulasi mujarod "tholaba-yathlubu"). Secara bahasa bisa berarti : Jangan menuntut, jangan meminta, jangan mencari, jangan memohon, jangan mendesak, jangan mosi/interupsi, jangan memesan, atau jangan menginginkan.
✓✓ An Yukhrijaka Min Halatin :
An Yukhrija : Secara bahasa bisa berarti mengeluarkan, memindahkan, mengalihkan, atau mengentaskan.
Min Halatin : Dari suatu keadaan (posisi, kondisi, atau situasi) yang sedang dialami atau dijalani oleh seseorang (Salik). Atau Ahwal (kondisi dan situasi kerohanian hati, kejiwaan, atau kesadaran) masing-masing orang.
Kalau Hal/Halah itu secara bahasa umum sering dibuat istilah untuk kondisi hissi (keadaan tertentu yang bisa dilihat secara bentuk atau penilaian umum) yang cenderung bisa berubah atau berpindah. Entah kondisi yang berkaitan dengan dunianya (seperti bertani, berdagang, jual jasa, penjahit, pemasar, agen, dan lain sebagainya) atau kondisi yang berkaitan dengan hal agama (seperti guru, penceramah, ustadz, dan lain sebagainya).
Seperti contoh : Paginya bisa jadi pedagang, sorenya jadi guru, malamnya bisa jadi ibu rumah tangga. Dan lain sebagainya.
Kalau Ahwal itu cenderung sering dibuat istilah untuk kondisi keruhanian seseorang (kejiwaan, kesadaran, keyakinan, keimanan) yang cenderung bisa menguat atau melemah. Sejam yang lalu kesadaran beramal lillah-nya menguat, sejam berikutnya bisa bimbang atau malah lupa akan Alloh. Terkadang bisa punya niat baik, terkadang juga punya niat jahat. Terkadang himmahnya menggebu-gebu, terkadang juga keluar rasa bosannya. Namun dalam kontek pasal ini yang dimaksudkan adalah yang pertama (kondisi hissi atau bentuk profesi). Wallohu A'lam.
Seperti contoh : Bisa jadi seseorang secara bentuk penilaian umum itu kaya dihormati dan disegani banyak orang, namun secara maknawi atau nilai keruhanian/kejiwaan atau secara value kesadaran ketuhanan ia jeblok atau ngenes. Atau bisa terjadi sebaliknya, secara bentuk ia melarat, tapi secara kejiwaan dan kesadaran ketuhanan ia bahagia dan ridho, itu bisa terjadi.
✓✓ Faidatun Kamus Kata حال / حالة / علم الحال
Kamus Tasawuf Al-Islami, Karya Dr. Rafiqul Ajam.
Dalam literasi Tasawuf"Hal" itu sering dibuat istilah untuk suatu rasa, dzauq, perasaan, kefahaman atau sebuah kesadaran. Seperti halnya rasa takut, rasa cemas, rasa malu, rasa segan, rasa haibah, rasa yakin, rasa bimbang, rasa bahagia, rasa nerima, rasa cukup, rasa rindu, rasa cinta, rasa benci, rasa marah, dan lain sebagainya. Rasa yang tidak bisa ditolak ketika datang, dan tidak bisa ditahan ketika hilang. Rasa ini adalah murni pemberian dari Alloh. Min Asma`ihi Al-Lathif (Yang Maha Lembut).
Bila rasa itu istimror, istiqror, dan tamkin dalam hati atau kesadaran seseorang ia akan jadi Maqam. Bisa kamu katakan "Roja'" itu maqam dari para Salikiin dan rasa atau ahwal dari para Thalibiin. Bisa juga kamu katakan.."orang masih mikir-mikir kurang yakin" itu halnya bimbang/ragu, sedang bila sudah mancep rasa ingkarnya atau rasa yakinnya dalam kesadaran, maka ia jadi maqam ingkar atau maqam yakin.
Dinamakan Hal karna sering berubah-ubahnya sebuah rasa. Terkadang bisa menguat, terkadang bisa melemah. Dari mustaq Hawala Yuhawilu (berpindah/berubah). Sedang dinamakan Maqam karna listiqomatihi fil qalb "karna tetapnya sebuah rasa mancep dalam kesadaran".
Ilmu Hal = Bisa kamu katakan untuk istilah dari tau waktu-tau posisi kondisi dan situasi. Tau apa yang semestinya dikerjakan ia kerjakan atau apa yang seharusnya ditinggalkan ia tinggalkan, dlsb.
Shohibul Hal = Bisa kamu katakan untuk istilah dari orang yang diliputi sebuah rasa. Waqiila, Al-Hal atau rasa itu adalah sebuah Lathoif (kelembutan-kelembutan Alloh). Yaitu sesuatu yang ada di dalam akal manusia. Tidak bisa ditolak bila datang, tidak bisa ditahan bila mau hilang. Baca ulasan lengkapnya perihal Hal atau Ahwal dalam Mausu'ah Mushtholahat Tasawuf Al-Islami, Karya Dr. Rofiq Ajam, Hal 267.
✓✓ Liyasta'milaka fiimaa siwaahaa :
Agar supaya Alloh memposisikanmu, mengkondisikanmu, atau memindah situasimu (agar supaya bisa lebih produktif atau lebih banyak dalam beramal) dalam kondisi, posisi, atau situasi yang seperti keinginanmu.
Syarah Penjelasan Al-Hikam Pasal 19
Qultu : Seperti diketahui bahwa, setiap orang di muka bumi ini itu mempunyai (Hal) posisi kondisi dan situasi yang berbeda-beda. Begitu juga posisi kondisi dan situasinya Para Salik. Entah itu kondisi yang berkaitan dengan hal dunia atau kondisi yang berkaitan dengan hal agama.
Bila seorang Salik oleh Alloh diposisikan dalam suatu keadaan/kondisi, yang secara hukum syari'at tidak melanggar dan secara kepatutan tidak tercela (meski kondisi tersebut mungkin tidak sesuai ekpektasi dan keinginannya), Maka TIDAK SEHARUSNYA seorang Salik menuntut agar Alloh mengeluarkannya dari kondisi tsb. Atau ia berniat pingin keluar dari kondisi tersebur. Seperti keterangan sebelumnya dalam ulasan Hikmah Al-Hikam Pasal 17.
Qultu : Ada beberapa alasan yang mendasari "kenapa tidak boleh menuntut keluar dari kondisi tsb?". Di antaranya :
Mempunyai irodah sendiri/pemilihan sendiri itu termasuk Su'ul Adab kepada Alloh.
Tidak mampu mengambil hikmah atau ibrah (kebaikan) dalam kondisi yang sedang dijalaninya. Yang mana kemampuan mengambil hikmah itu adalah al-maqshud/tujuan dari "untuk apa atau kenapa, atau ada maksud apa Alloh mengkondisikan diriku seperti ini?".
Tergesa-gesa. Karna seringkali kondisi yang ia sangka tidak kepenak itu justru baik untuknya. Sedang keinginannya yang ia sangka lebih baik itu justru endingnya tidak baik.
Ada indikasi lebih mementingkan keinginannya daripada menetapi ketentuan Alloh.
Ada indikasi berontak, mbantah, tidak patuah, berselisih, atau menolak pada ketentuan yang sudah Alloh tetapkan.
Tidak ada ketegaran dalam menjalani tugas kekhalifahan dari Alloh.
Ibarat percakapan oleh Alloh : "kamu aku tugasi (aku kondisikan) jadi orang miskin ya!". Sebagai seorang hamba mestinya kan sendiko dawuh.."O Njih siyapp". Tapi saat kamu punya pilihan lain "Wahh..gak mau Gustii, aku pingin jadi orang kaya yang begini begini" maka secara tidak langsung kamu kena 6 poin di atas tadi, meski pilihanmu itu seperti sebuah bentuk kebaikan yang lebih baik, tapi secara tidak langsung kelakuanmu itu mbantah, tidak patuh, dan menolak perintah.
Qultu : Keadaan yang dipilihkan Alloh itu seringkali isyarohnya adalah kamu diposisikan dalam suatu kondisi atau situasi yang tidak bisa kamu elakkan alias kamu terpaksa atau mau gak mau harus menerima itu atau tidak ada pilihan lain. Dan keadaan tersebut itu seringkali ora kepenak (dari penilaian umume wong), ya karna dalam keadaan terpaksa, mau gak mau kamu harus menerima dan menjalani itu. DENGAN CATATAN : Keadaan tsb secara hukum syari'at tidak melanggar dan secara kepatutan tidak tercela, meski keadaan tsb seringkali tidak sesuai dengan keinginanmu.
=======
Sebagian dari adabnya seorang Al-Arif Billah yaitu merasa cukup dengan Ilmunya Alloh (irodah-Nya dan pengaturan-Nya itu selalu lebih baik). Maka saat ketika Alloh memposisikan seorang Arif pada suatu kondisi, maka janganlah mencela atau meremehkan kondisi tsb dan menuntut Alloh agar segera mengeluarkannya dari kondisi tsb. Karena andai Alloh itu menghendaki, Alloh itu bisa koq mengabulkan semua permintaanmu tanpa kamu keluar dari kondisi tsb.
Ini juga bisa menjadi tanda atau bisa kamu katakan "test atau ujian pengukuhan para Ahli Ma'rifat. Ma'rifat billah = Faham Alloh". Kamu itu faham Alloh beneran atau tidak. Atau sebatas mana kamu faham akan Alloh. Disarikan dari Iqadzul Himam fi Syarhi Hikam Ibnu Ajibah, Hal 78.
Qultu : Ma'rifat Billah = Faham Alloh. Faham dan tau itu beda. Kamu tau kalo orang itu tetanggamu = itu tau.
Kalau faham = kamu tau kalo orang itu kelakuannya selalu begitu. Bila suka ia akan begitu, bila tidak suka ia akan begini. Ia kalo ngelakuin apa aja itu demi kebaikan, terbaik, selalu baik, dan akan berakhir baik, akirnya kamu akan percaya dan pasrah total. Begitu juga dengan faham akan Alloh.
"Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah". Q.S Al-A'raf (7) ayat 188.
"Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah". Q.S Yunus (10) ayat 49.
========
Dari kefahaman tersebut, maka saat seorang Arif Billah itu dalam kondisi bujang, ia tidak berharap menikah. Bila ia dalam kondisi menikah, ia tidak berharap berpisah. Bila kondisi kaya, ia tidak berharap miskin, bila miskin tidak berharap kaya. Bila kondisi sempit, tidak berharap lapang, bila lapang tidak berharap sempit. Bila sakit tak berharap sehat, bila kondisi sehat tidak berharap sakit. Lihat Iqadzul Himam fii Syarhi Hikam Ibnu Ajibah, Hal 79.
Qultu : Kondisi di atas itu jangan asal ditiru oleh pemula. Kondisi di atas itu seringkali karna "Li Ghalabati Syuhud atau suatu kondisi yang kesadaran seseorang akan Alloh itu telah memenuhi akal dan hatinya. Suatu keadaan yang " wis ora mikir mau dijadikan atau dikondisikan apa saja oleh Alloh, ia sudah tunduk dan pasrah".
Bagi yang tidak begitu (mungkin ia masih mubtadi' atau pemula) semisal mungkin.."Bila gak punya duet kamu masih bingung, masih merasa hidup ini keteteran, hatimu masih merasa tertekan, ya kamu berdoa minta agar dilapangkan". Jangan koq diam-diaman aja. Perihal ini nanti akan ada penjelasan lebih lanjut dalam artikel "Lebih Baik Berdoa Memohon atau Pasrah Tawwakal Saja?".
Kesimpulan Mudarosah
Berangkat dari Firman Alloh Ta'ala dalam Al-Qur'an :
"Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia)". Q.S Al-Qashash (28) ayat 68.
"Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata". Q.S Al-Ahzab (33) ayat 36.
"Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". Q.S Al-Insan (76) ayat 30.
"Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam". Q.S At-Takwir (81) ayat 29.
===========
Sebagian dari adabnya seorang Al-Arif Billah pada Alloh yaitu saat ketika oleh Alloh ia dikondisikan atau diposisikan pada situasi yang ia tidak bisa mengelak (dengan syarat kondisi atau posisi tsb tidak melanggar hukum "syari'at" dan tidak tercela, maka janganlah ia tergesa-gesa ingin pindah atau memohon pindah dari kondisi tersebut.
Hendaknya seorang Arif Billah selalu bersabar bertahan dan tabah menjalani dan menerima kondisi tersebut. SAMPAI IA FAHAM DAN MEMAHAMI bahwa semua itu adalah perlakuan Alloh yang Maha Bijaksana yang harus ia jalani. Entah faham lewat isyaroh lahir atau isyaroh bathin.
"Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya". Q.S Ghafir (40) ayat 44.
Hendaknya juga seorang Arif Billah mengambil ibrah hikmah dan merenungi isyaroh-isyaroh tersebut, bahwa Alloh sedang ingin berbicara (memberi tugas) padanya dan si Arif Billah tidak ada pilihan lain selain hanya menjalankan tugas dari-Nya. Disarikan dari Iqadzul Himam fii Syarhi Hikam Ibnu Ajibah, Hal 49.
1. Buka aplikasi e-wallet kamu. 2. Klik menu "Pay atau Qris" yang biasanya berada di tengah bawah pada halaman utama akun e-wallet kamu. 3. Lalu Scan gambar QRIS QR di atas. 4. Masukkan nominal yang akan kamu donasikan dan lanjutkan transaksi sampai selesai.
Bila akun e-wallet kamu belum premium!
1. Download dan simpan dulu gambar QRIS QR di atas dalam gallery kamu. 2. Buka aplikasi e-wallet kamu. 3. Klik menu "Pay atau Qris" yang biasanya berada di tengah bawah pada halaman utama akun e-wallet kamu. 4. Lalu klik icon gambar, lalu upload gambar QRIS QR yang sudah kamu simpan tadi. 5. Masukkan nominal yang akan kamu donasikan dan Lanjutkan transaksi sampai selesai.
Donasi akan digunakan untuk pengembangan web, Kelancaran kegiatan mudarosah dan Operasional mudarosah via Live Streaming. Terima kasih atas dukungan anda ❤️.