Salah Memahami Definisi Rezeki Cuma Dapat Capek Dan Sia-Sia
سُبْحَـٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ
Refleksi Pemahaman Perihal Rezeki
Membahas dan meluruskan logika perihal definisi Rezeki ini memang penting sekali. Karena rezeki ini termasuk buletan dan gandulannya orang hidup (orang hidup tak bisa lepas dari rezeki) sampai akir hayatnya, bahkan sampai di Akhiratnya. Tapi apakah selama ini pandangan dan anggapan kita soal rezeki itu sudah benar, sudah pas, sudah cocok dengan yang dikehendaki Alloh Sang Pemberi Rezeki?
Saat orang menganggap atau mendefinisikan bahwa Rezeki itu harus berupa materi atau harta benda atau sesuatu yang bisa dilihat (berbentuk materi), maka saat Alloh selaku Sang Pemberi Rezeki ngasih sesuatu (rezeki) yang tidak sesuai dengan definisi yang ia fahami, maka ia otomatis menganggap bahwa itu bukan rezeki, bahkan malah ingkar. Sialnya...kelakuan seperti itu bisa menyeretnya pada Pengingkaran Nikmat Alloh yang berujung Kufur Nikmat atau Musyrik karena menganggap Alloh tidak ada ikut andil dalam rezeki yang dinikmatinya.
✓ Karena salah definisinya, maka salah juga mengartikan.
✓ Karena salah mengartikan, maka salah juga menyimpulkan.
✓ Karena salah menyimpulkan maka salah juga mengambil tindakan.
✓ Karena salah tindakan, maka ia berputar-putar dalam kegelapan.
✓ Cuma dapat capek dan kesia-siaan.
Termasuk tidak ditolong Alloh yaitu kamu tidak diberikan Ilmu (pengetahuan tentang kebenaran yang sebenarnya) atau dibuat lupa. Tidak tahu atau sudah tahu tapi lupa itu efek langkahnya sama, sama-sama tidak melakukan. Ya meski tidak tahu atau lupa itu juga ada manfaatnya (penyelamatan). Namun tidak tahu atau lupa pada yang Haq (yang sebenarnya) itu termasuk ditarik pada kesesatan (salah langkah).
Contoh : Kamu tidak tahu atau kamu lupa kalo besok itu malam jum'at atau hari ini itu malam jum'at, Maka semua acara, janjian, berikut persiapannya untuk malam jum'at itu akan terlewatkan. Begitu kan ya.
Kamu tidak tahu atau kamu lupa kalo Dunia itu hanya sementara dan Akhirat itu selamanya, Maka semua acara, janjian, berikut persiapan ke Akhirat pasti akan terlewatkan. Yang berarti juga kamu akan berputar-putar pada sesuatu yang sia-sia. Yang berarti juga kamu akan kebulet-bulet pada kesalahan langkahmu.
Sayang...mungkin kalo tidak tahu atau lupa pada masalah Dunia (masalah-masalah receh yang mungkin hari esok masih bisa mengulang) its okelah. Tapi kalo lupa pada Akhirat (masalah-masalah yang gak bisa diulang) itu suatu Musibah Besar. Karena kalau umurmu sudah finish, gak ada remedi (mengulang). Masalahnya kan di situ itu.
Maka dari itu, diberi rezeki bentuk ilmu (pengetahuan atau kesadaran-kesadaran tentang Akhirat) itu termasuk diberi rezeki atau nikmat yang agung. Baca ulasan perihal pembagian rezeki dalam artikel "Konsep Pembagian Rezeki Khusus dan Rezeki Umum".
Alloh berfirman :
Pengertian Dan Definisi Rezeki
![]() |
| Referensi dari Kitab Syarah Jauharu Tauhid. |
A. Rezeki secara bahasa
Rezeki terdiri dari susunan 3 huruf (Ro', Za', Qaf) diucapkan sebagai istilah dari pemberian Alloh (umum). Padahal, semua di Dunia ini mulai dari belum ada, sudah ada, sampai tidak ada kembali itu semua full dengan pemberian Alloh. Ibarat ketika belum tidur (terjaga), pas tidur, sampai bisa bangun dari tidur itu semua full penuh dengan Pemberian Alloh.
B. Rezeki secara Istilah
Rezeki secara istilah pengertiannya bermakna luas (berangkat dari kesimpulan di atas bahwa semua adalah Rezeki "Pemberian" dari Alloh).
C. Rezeki Menurut Ahlu Sunnah Aswaja
✓ Yaitu "maa saqohu llohu ta'ala ilal hayawan, fantafa'a bihi bil fa'li" (Sesuatu atau apa-apa "pemberian Alloh" yang diberikan pada hayawan (makhluk hidup umum, termasuk manusia) yang bisa dimanfaatkan (atau bermanfaat bagi dirinya) secara nyata. Lihat Ittihafu Murid Syarah Jauharu Tauhid, Hal 686.
✓ Definisi Aswaja memasukkan semua yang bisa dimanfaatkan oleh manusia dan hewan-hewan. Dari makan minum, tempat tinggal, sarana dan prasarana, atau perlengkapan penunjang dan pendukung yang ia manfaatkan secara nyata (saat itu, waktu itu).
✓ Definisi Aswaja mengecualikan sesuatu yang tidak (bisa) ia manfaatkan secara nyata (saat itu, waktu itu). Artinya, meski ia memiliki namun tidak (bisa) ia manfaatkan secara nyata (saat itu, waktu itu), maka itu belum dinamakan rezeki (baginya).
✓ Definisi Aswaja mengecualikan sesuatu yang kamu kumpulkan, kamu simpan, yang kamu miliki, namun belum kamu manfaatkan. Karna bisa jadi sesuatu itu malah dimanfaatkan (jadi rezekinya) orang lain.
Seperti contoh : Uang yang kamu kumpulkan, kamu simpan, kamu tabung, investasi kamu, saham kamu, asuransi kamu, tanah rumah yang kamu bangun (tapi belum kamu tempati/manfaatkan) semua itu belum final-belum jadi rezekimu (karna belum kamu manfaatkan secara nyata, meski sudah milikmu atau dalam kekuasaanmu). Karna bisa jadi dicuri orang, bisa jadi amblas kena bencana, bisa jadi kamu mati duluan, terus malah jadi rezeki (dimanfaatkan) orang lain.
✓ Dari definisi Aswaja maka keluarlah semacam istilah "Rezeki tak akan tertukar", "Bila sudah bagian rezekinya, maka tak akan lari kemana", "Orang lain tak akan bisa memakan rezekimu, begitu juga dirimu tak akan bisa memakan rezekinya orang lain".
✓ Definisi Aswaja cocok dgn Firman Alloh : Q.S Al-Ankabut (29) ayat 60.
✓ Perhatikan juga ayat berikut : "Nahnu narzuquhum wa iyyakum". Q.S Al-Isra (17) ayat 31.
Qultu : Artinya, Anak istrimu itu punya rezeki sendiri, sedang kamu juga punya rezeki sendiri (tidak mengurangi atau menambah. Tapi Alloh itu punya Fadhol alias kalau ngasih itu selalu dilebihi). Bisa jadi rezeki anakmu lewat perantara kamu, atau sebaliknya, rezekimu lewat perantara anak istrimu (atau orang lain). Bisa jadi karena kamu menikah (menjalani kebaikan-kebaikan syari'at, akir ada penambahan rezeki (yang berupa fadhol alias bonus dilebihi).
Sedang rezekimu yang asli itu ya yang kamu makan, yang kamu pakai, yang kamu tempati, yang kamu nikmati, yang bermanfaat buatmu. Selain yang tidak kamu manfaatkan (meski kamu memilikinya) itu belum atau belum jadi rezekimu.
✓ Definisi Aswaja memasukkan semua bentuk rezeki (semua bentuk pemberian Alloh yang kamu manfaatkan secara nyata). Mulai dari sesuatu yang halal, makruh, bahkan yang haram (secara lahirnya). Bila sesuatu itu halal maka Tayyib secara lahir-bathinnya. Bila sesuatu itu makruh, maka jelek secara bathinnya.
Bila sesuatu yang kamu manfaatkan itu haram (selain karna darurat yang diperbolehkan Syari'at), maka buruk secara lahir-bathinnya (secara haqiqinya). Karna pada hakikatnya sesuatu yang haram itu tidak bermanfaat bagimu (bukan rezeki, karna akan menyeretmu pada siksaan-Nya).
Alloh berfirman : Q.S Yunus (10) ayat 59.
✓ DAN PERLU DIKETAHUI bahwa, sesuatu yang kamu manfaatkan itu Makruh atau Haram itu kan karna ada suatu alasan atau ilat yang sedang terjadi hingga menyebabkan sesuatu itu jadi haram. Artinya, pada dasarnya pada asalnya semua rezeki dari Alloh pada mulanya itu HALAL. Jadi makruh dan haram (selain krn darurat yg diperbolehkan Syari"at) itu karna kamu bikin sendiri atau karna ada suatu alasan lain (syari'at menghukumi haram atau makruh).
D. Rezeki Menurut Kaum Mu'tazilah
Beda pendapat dari Aswaja, Kaum Mu'tazilah berpendapat bahwa, Rezeki adalah sesuatu yang secara sah kamu miliki, meski belum atau tidak kamu manfaatkan.
✓ Namun pendapat Mu'tazilah ini lemah, banyak bertentangan dengan Ayat dan rancu :
- Berarti hewan-hewan itu gak punya rezeki dong, karna ia gak bisa memiliki, karna rezeki didefinisikan harus secara sah memiliki barangnya dulu.
- Berarti orang bisa mengambil rezeki orang lain dan sebaliknya dong. Hawong rezeki didefinisikan dengan "harus ada hak milik dulu atau dalam penguasaannya dulu meski tidak atau belum dimanfaatkannya.
- Berarti juga bertentangan dengan Nash "Nahnu narzuqu" bahwa Alloh yang memberi. Jarena didefinisikan harus memiliki atau dalam mengusaan dengan sah atau sempurna, sedang dalam ayat manusia/hewan sebagai objek yang diberi rezeki. Maksudnya secara asal sesuatu itu kan aslinya miliknya Alloh terus dikasih ke kamu (rancu kepemilikan). Kamu sebagai objek (marzuq) bukan pemilik (raziq, yang memberi rezeki).
Kategori-Kategori Rezeki
1. Rezeki Dari Sisi Alloh Semata
** Dengan sandangan Kemuliaan Asma-Nya Ar-Raaziq (pemberi rezeki) dan Ar-Razaaq (yang banyak memberi Rezeki). Alloh punya Asma' Sifat pemberi rezeki, berarti ada sasaran yang harus menerima Rezeki, yaitu makhluk-makhluknya. Mu'jam Mafharis Li Ma'ani Qur'anil Adzhim. Hal 498, Tags Rizqi, Cetakan Darul Fikr Lebanon, Tahun 1995.
2. Dari Sisi Masyi'ah Alloh (Kehendak Alloh).
** Alloh berkehendak memberi rezeki itu sudah rezeki.
3. Rezeki Ukrowi (Akhirat)
✓ Rezeki pada para Penghuni Surga.
✓ Rezeki pada Syuhada' di Alam Kuburnya.
✓ Rezeki pada para wafat ketika Hijrah fi Sabilillah.
4. Rezeki Duniawi
✓ Tumbuhan atau Buah di tempat/hutan yang tak bertuan.
✓ Hujan
✓ Bumi atau tanah yang subur
5. Rezeki Duniawi Materi (Rezeki Dzahir)
** Balik ke penjelasan di atas, Definisi Rezeki menurut Aswaja "ma yuntafa'u bihi".
** Rezeki bentuk materi yang kemunculannya dari sebab-akibat, harus ada tukar-menukar manfaat, harus ada interaksi dgn makhluk atau sesuatu yang lain. Baca juga ulasan tentang Asbab dalam artikel "Adab Dan Batasan Murid Suluk Ketika Bekerja".
** Sialnya, rezeki yang tipe materi ini itu dibatasi. Gak enaknya kan disitu...haha
Lihat ayat-ayat berikut :
![]() |
| Rezeki bentuk materi selalu dibatasi. |
Artinya : sehasrat-hasratnya kamu, sepingin-pinginnya kamu, sekaya-kayanya kamu, tetep kamu dibatasi yang bisa gunakan, yang bisa kamu makan, yang bisa kamu raih ya sebatas apa yang kamu perlu. Tidak bisa, kamu kaya koq nekat sekali makan 10 piring, misale, ya rusak.
Umur dibatasi dengan waktu. Badan dibatasi dengan sakit. Kekuatan dibatasi dengan rasa lelah capek. Kesenangan dibatasi dengan rasa bosan. Ilmu dibatasi, keahlian dibatasi. Sialnya, keinginan nafsumu itu yang gak terbatas. Tangan (anggota badan) aja dibatasi paling panjang cuma -+1 meter, maka untuk meraih sesuatu yang jauh kamu dipaksa butuh sesuatu yang lain.
Untuk urusan di Dunia ini, kamu tudak akan pernah bisa keluar dari cengkeramannya Alloh. Semua serba dipaksa (Al-Qohir, Al-Qohar) dan dibatasi (Al-Qodir, Al-Muqtadir).
6. Rezeki Duniawi Infaq/Imateri (Rezeki Bathin)
** Rezeki yang kemunculannya sering dari usaha mujahadah atau amal ibadah atau menyelenggarakan kebaikan-kebaikan syari'at atau keshalihan (hubungan interaksinya dengan Alloh), seperti :
✓ Kefahaman, Kasyfu, Dzauq, wal Fikru As-Shahih. Mu'jam Sufi, Karya Dr. Su'ad Al-Hakim, Hal 532.
✓ Tambahan rezeki dari ilmu yang diajarkan
✓ Tambahan rezeki dari harta yang diinfaqkan
✓ Tambahan rezeki dari amanah yang diselenggarakan
7. Rezeki Perbedaan Jatah Rezeki Pada Makhluknya
Qultu : Andai semua makhluk itu rezekinya dibuat sama, maka akan rusak tatanan Dunia. Ada baik dan jahat, ada kaya dan miskin, ada sehat dan sakit, ada atasan dan bawahan, ada juragan dan karyawan, ada pintar dan bodoh, ada yang jual-ada yang beli, ada yang produksi pemasar pemakai, dan lain sebagainya.
✓ Terjadi saling tolong-menolong, terjadi pertukaran manfaat, ada perjuangan, dan banyak lagi. Semua itu untuk menguji Manusia. Bisa diketahui, mana yang sabar, mana yang jihad di jalan Alloh pada posisi kondisi dan situasi manusia yang berbeda-beda.
Perhatikan Ayat-Ayat pada gambar berikut!. Yang mana perbedaan jatah rezeki itu dibuat semata untuk kebaikan (nilai tambah) untuk manusia itu sendiri.
![]() |
| Hikmah dalam perbedaan jatah rezeki. |
Kesimpulan Mudarosah
Qultu : Dari uraian penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa...
1. Rizqi tidak selalu berbentuk harta benda (materi). Andai kamu menganggap rezeki adalah harta benda (itu itu tok), itupun masih diperinci. Dimanfaatkan tidak? Bermanfaat tidak? Karna andai cuma sebatas punya simpanan atau kumpulan harta benda saja namun belum atau tidak bisa kamu manfaatkan secara nyata, maka itu belum dinamakan Rezekimu. Ngumpulkan susah payah, namun endingnya yang menikmati malah orang lain, ya gak lucu to..!!
2. Dari definisi di atas, bisa disimpulkan juga bahwa, bisa terjadi meski orang itu mempunyai banyak harta benda namun pada hakikatnya rezekinya sedikit, karna ia tercegah atau dicegah dari kemanfaatan harta itu. Gak lucu to...haha
Begitu sebaliknya, bisa terjadi secara harta atau materi ia miskin tapi ternyata diberi rezeki banyak. Ia diberi tambahan Ulum wa Ma'arif² Ketuhanan, yang semuanya itu ia manfaatkan atau bermanfaat bagi dirinya, baik manfaat bagi kemaslahatan dan kebaikan dunianya dan kebahagiaan akhiratnya. Baca ulasan tentang Konsep Pembagian Rezeki dalam artikel "Konsep Kebijakan Ketuhanan Perihal Pembagian Rezeki".
3. Dari definisi di atas, maka jadi shahih dawuh yang mengatakan bahwa.."Jatah rezeki sudah ditentukan. Dan orang (makhluk) tak akan mati sebelum rezekinya selesai ditunaikan". Hadist mar'fu', Riwayat Ibn Abi Dunya dari Abdullah Ibn Mas'ud. Lihat Ittihafu Murid Syarah Jauharu Tauhid, Hal 570.
4. Dari definisi di atas, maka jadi shahih ungkapan yang mengatakan...
Cepet ora nambahi. Alon, ora ngurangi.
Cepat tidak menambah. Lambat tidak mengurangi.
Maksudnya, cepat atau lambatnya kamu berusaha, banyak atau sedikitnya hartamu saat ini, berhasil atau gagalnya dirimu sekarang ini, itu sama sekali tak akan mengurangi jatah rezekimu (jatah rezeki materimu). Jatah rezekimu tetap saja sebatas apa dan berapa yang sudah ditentukan itu.
Artikel Terkait
Mudarosah Interaktif
Share Vote Comments And Other
Author Catatan Mudarosah.
Terima Kasih telah membaca Catatan Mudarosah
[ Salah Memahami Definisi Rezeki Cuma Dapat Capek Dan Sia-Sia ], Semoga bermanfaat.
Halaman Catatan Favorit ada di kolom pojok kanan atas.
Contact and Support : admin.mudarosah@gmail.com






