Pemahaman Tentang Definisi Hikmah
Seperti yang sudah dijelaskan pada ulasan artikel sebelumnya "Baca ulasan artikel tentang Hakikat Rizqi Khusus dan Rizqi Umum", bahwa ada rizqi atau pemberian Alloh yang khusus namun diberikan pada orang khusus, ada rizqi pemberian khusus namun diberikan pada orang umum. Nah hikmah ini termasuk rizqi pemberian khusus atau istimewa namun untuk orang umum (random).
Meski Hikmah diberikan pada orang umum (random), namun oleh Alloh hikmah ini diistimewakan (kebaikan yang banyak atau hadiah) daripada rizqi atau pemberian-pemberian-Nya yang sifatnya umum dan untuk orang umum (seperti ulasan sebelumnya). Seperti kekayaan, Privilege, Bakat, Kemampuan di luar kebiasaan, kepintaran, ketrampilan, Ketangkasan, dlsb. Ada yang melalui usaha atau memang sudah gawan dari lahir.
Orang sering berkata "semoga ada hikmahnya", "semoga kita bisa mengambil hikmah dari kejadian ini", sedang Alloh secara terang menyebut dalam Al-Quran, bahwa "Barangsiapa yang diberi hikmah, sejatinya ia sudah diberi kebaikan yang banyak".
- Mendapat hikmah itu maksudnya apa?
- Bentuknya hikmahnya seperti apa?
- Kapan datangnya Hikmah itu?
- Apa indikasi sudah mendapat Hikmah?
- Apa reaksi yg dirasakan setelah mendapat Hikmah?
- Apa hikmah itu bisa dicari (dengan suatu usaha atau cara tertentu)?
A. Maksud Hikmah Yaitu..!!
Hikmah menurut bahasa (mustaq berasal dari kata dasar hakama, dengan fail Hakiim, dan Jama'nya Hukama') bisa berarti Kebijakan, Kebajikan, Kebijaksanaan, Keputusan, Kearifan, Keadilan, Kefahaman, Tindakan (beramal) keilmuan yang berdasar ketelitian dan kecermatan, Intuisi kuat atau ahli titis (berdasar yang Haq), orang jawa sering menyebut dengan "Waskito", atau arti yang semisalnya.
Yang intinya Hikmah adalah bukan sesuatu yang sifatnya berbentuk MATERI. Yang berarti juga Hikmah ini adalah sesuatu yang IMATERI, yang tentu tidak bisa dilihat oleh mata lahir. Mu'jam Istilah Sufiyyah, Karya Abu Faidh Al-Kasyani, Hal 290.
Karna bentuknya hikmah ini tidak bisa dilihat, maka sudah barang tentu untuk mengambil Hikmah ini harus melalui keilmuan atau perenungan, melalui perasaan atau kesadaran (harus mikir/tafakur/refleksi dulu atau latihan mikir dulu).
B. 15 Bentuk Hikmah menurut Para Ulama Tasawuf (Sufi)
 |
| 15 Bentuk Hikmah, Kitab Qutul Qulub, Abi Thalib Al-Makki. |
1. Nubuwah atau Diutusnya Nabi
** Qultu : Bisa berarti Hikmah adalah Nubuwah itu sendiri, nisbat Kenabian itu adalah Karunia sangat Agung nan khusus dan hanya diberikan pada orang khusus atau terpilih dan tidak ada duanya. Tidak bisa ditiru, disaingi, ditandingi dan hanya satu-satunya di antara Milyaran makhluk lainnya.
Bisa juga berarti Hikmah adalah diutusnya Nabi-Rasul nisbat pada umatnya. Jadi umat yang di situ ada Rasul, berarti umat itu mendapat Hikmah. Apalagi umat yang semasa Rasul dan beriman, berarti dapat Hikmah Agung. Karna dari diutusnya Rasul pada umat tsb, maka secara otomatis banyak juga jaminan dan fasilitas-fasilitas dari Alloh pada umat tersebut. Termasuk mukjizat Al-Qur'an dan semua yang terkandung di dalamnya.
2. Sunah- Sunah Nabi atau Tindak Lampahe Nabi
** Qultu : Nisbat bagi Sang Nabinya itu sendiri dan Nisbat bagi umatnya. Nisbat bagi Nabi sebagai contoh, guru, pemandu, yang memulai kebaikan, yang sudah semestinya sangat Kredibel, terjamin, dan terpercaya. Hikmah juga nisbat bagi umatnya, karena umat sudah ada contohnya, gak bingung, gak try and error.
Refleksi dari ayat berikut : Q.S At-Talaq (65) ayat 11.
رَّسُولًۭا يَتْلُوا۟ عَلَيْكُمْ ءَايَـٰتِ ٱللَّهِ مُبَيِّنَـٰتٍۢ لِّيُخْرِجَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ مِنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۚ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ وَيَعْمَلْ صَـٰلِحًۭا يُدْخِلْهُ جَنَّـٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًۭا ۖ قَدْ أَحْسَنَ ٱللَّهُ لَهُۥ رِزْقًا
"(Dan mengutus) seorang Rasul yang membacakan kepadamu ayat-ayat Allah yang menerangkan (bermacam-macam hukum) supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan beramal saleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya".
3. Hadist-Hadist Nabi
** Qultu : Seperti halnya Hikmah nomer 2, Kalau sunnah-sunnah Nabi itu contohnya atau prakteknya, Kalau hadist-hadist Nabi itu buku panduannya. Dalam kontek ini kalau bisa diibaratkan Al-Qur'an itu Pedomannya, Sunnah Nabi itu contoh cara mempraktekkan, sedang Hadist-Hadist Nabi itu Buku Panduannya (yang bisa ditelaah di kemudian hari/zaman-zaman sesudahnya). Sekaligus juga sebagai terjemah dari Pedoman (Al-Qur'an) itu sendiri, karna itu adalah satu runutan kesatuan.
4. Pemahaman Pada Hukum-Hukum Al-Qur'an
** Qultu : Lengkapnya pengetahuan dan pemahaman Ilmu Al-Qur'an beserta kandungan hukum-hukumnya. Mulai Nasikh Mansukhnya, Ayat Muhakam Musyabihatnya, riwayat asbabun nuzulnya, hukum halal haramnya, peringatan, anjuran, himbauan dan ayat-ayat amtsalnya. Ibarat seorang Ahli Hukum Pidana, ia hafal dan faham fasal-fasal hukum, ayat berapa, pasal berapa, maksudnya apa, contohnya gimana, riwayat hukumnya bagaimana, komplit.
Merujuk pada Firman Alloh : Q.S Saba (34) ayat 6.
وَيَرَى ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ هُوَ ٱلْحَقَّ وَيَهْدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ
"Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji".
5. Pemahaman Mendalam Pada Tafsir Al-Qur'an
** Qultu : Ia diberi pemahaman yang mendalam pada tafsir Al-Qur'an. Kalimat ini tafsirnya gimana, kata ini maksudnya seperti apa, ayatnya, surahnya, majaznya, tamtsilnya, i'jaznya, susunan arqomnya (penomoran/pengurutannya), faidahnya, ta'wil dari sisi lafadz, susunan kata, ayat, surat, juz, dlsb.
6. Kefahaman Pada Makna Tersembunyi Dari Al-Qur"an
** Qiila : Sebagian Ulama berkata.. "Bahwa pada setiap ayat Al-Qur'an itu terdapat 7 makna"
- Makna lahir (ilmu atau hukum-hukum tekstualnya).
- Makna bathin (amtsal, ibrah, atau praktek-praktek bathiniyyahnya).
- Isyaroh (isyarat-isyarat ilmu atau isyarat Ketuhanan).
- Amaraat (tanda atau bukti atau korelasi pada sesuatu yang lain).
- Lathoif (rahasia-rahasia yang lembut atau althof. Entah itu keramatnya ayat, rahasia alam, atau rahasia ketuhanan yang difahami dari ayat tsb).
- Daqoiq (makna-makna lembut yang jarang disadari oleh orang umum).
- Haqoiq (hakikat makna yang dikehendaki dari ayat itu, atau dari ayat itu bisa difahami hakikat sesuatu yang lain).
1. Makna lahir bagi para orang awam. 2. Makna bathin bagi para orang khusus. 3. Isyaroh bagi para Khowashul Khowash. 4. Amaraat bagi para Auliya'. 5. Lathoif bagi para Shiddiqiin. 6. Daqoiq bagi para Muhibiin. 7. Haqoiq bagi para Nabiyyin.
7. Hafidzul Qur'an (Hafal Qur'an)
** Dawuh Ibn Abbas R.A diceritakan oleh Ibnu Jubair
من قرأ القرآن من قبل أن يحتلم فهو ممن أوتي الحكمة صبيا
"Barangsiapa sudah bisa baca (hafal) Qur'an sebelum ia ihtilam (baligh), maka dia termasuk orang yang diberi Hikmah mulai kecilnya". Lihat Ilmu Qulub, Hal 23.
Seperti Dawuh Nabi S.A.W. ** Tertera pada nash kitab Ilmu Qulub, Hal 23. Penulis belum tau, riwayat dan keshahihannya.
من أوتي القرآن فقد أدرجت النبوة بين جنبه إلا أنه لم يوح إليه
"Barangsiapa diberi Al-Qur'an (hafal Qur" an), maka sungguh sudah dimasukkan (sudah diikut sertakan/didaftarkan) derajat kenabian dalam dirinya. Hanya saja, ia tidak diberi wahyu (tidak seperti Nabi)".
8. Kemampuan Beramal Lillah wa Billah
Omongannya, Perilakunya, dan Keinginannya cocok dengan Irodahnya Alloh (Terpilih jadi Waliyulloh). Bila berjuang, menolong, membantu, ia mampu tulus hanya lillah wa billah.
** Qultu : Ketulusan yang dimaksud memasukkan kesadaran lillah wa billah. Sebab ada ketulusan tapi bukan dari kesadaran lillah wa billah, namun dari kesadaran dirinya sendiri karena merasa mampu atau merasa terpaksa/dipaksa makhluk. Seperti tolong-menolongnya sesama orang kafir.
9. Perasaan (kesadaran) malu pada Alloh.
** Al-Haya' minalloh (perasaan malu pada Alloh) ini tidak akan muncul jadi kesadaran kecuali dari kedalaman ma'rifat (faham sifat-sifatnya Alloh atau muncul dari kesadaran syukur). Perasaan malu, rikuh, segan itu ya karna orangnya tau. Ia tau sadar dikasih nikmat terus-terusan dan banyak, koq mau seenaknya aja. Al-Haya' muncul dari kesadaran sifat Jamaliyyahnya Alloh.
10. Perasaan Khosyah Pada Alloh
** Qiila : Khosyah itu lebih dalam dari Khauf. Khosyah itu takut karna segan, Ia faham siapa yang dihadapi (hampir mirip dengan Tawadhu') Khosyah tumbuh dari kesadaran sifat Kamaliyyah Alloh. Sedang Khauf itu muncul dari kesadaran sifat Jalaliyahnya Alloh.
Perhatikan refleksi ayat berikut : Q.S Al-Hajj (22) ayat 54.
وَلِيَعْلَمَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا۟ بِهِۦ فَتُخْبِتَ لَهُۥ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِلَىٰ صِرَٰطٍۢ مُّسْتَقِيمٍۢ
"Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus".
11. Akal atau Kecerdasan
** Qultu : ia diberi akal dengan kemampuan seperti sensor atau pemindai otomatis alias PEKA dan Kecepatan serta ketepatan dalam mengambil keputusan (yang sesuai dengan perintah dan larangan Alloh). Akalnya bisa secara otomatis menangkap isyaroh-isyaroh kebenaran, isyaroh ketuhanan. Sensor akalnya bisa secara cepat menangkap sinyal apa yang benar, tepat, cepat, dan efisien pada segala situasi (Cerdik). Akalnya bisa secara cepat memindai (mengiyas-qiyaskan) ibrah dari posisi kondisi dan situasi yang sedang dihadapinya.
** Termasuk cerdas juga yaitu akalnya diberi kemampuan "gak pelupa atau kemampuan bisa selalu berdzikir (entah secara kesadaran hati, perilaku, atau ucapan-ucapannya). ** Kecerdasan (Hikmah) di sini TIDAK MEMASUKKAN kecerdasan yang sifatnya hal-hal keduniawian. Seperti Firman Alloh dalam Al-Qur'an :
يَعْلَمُونَ ظَـٰهِرًۭا مِّنَ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ ٱلْـَٔاخِرَةِ هُمْ غَـٰفِلُونَ
"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai". Q.S Ar-Rum (30) ayat 7.
12. Ilmu Laduni
** Ilmu Laduni adalah Ilmu Haqoiqul Asya' atau Haqoiqul Umuur. Ia diberi kemampuan bisa tau hakikat-hakikat dari banyak sesuatu. Dan ia diberi kemampuan bisa mentashawurkan haqoiq tsb, filosofinya, analoginya, esensinya, serta maksud dari sesuatu tsb.
Hingga akhirnya kesadaran dan keyakinannya semakin mantab. Hingga akhirnya sesuatu yang terlihat musykil bisa ia terjemahkan secara gamblang hingga bisa diterima akalnya orang biasa. Baca penjelasan selengkapnya tentang Ilmu Laduni dalam artikel "Apa Itu Ilmu Laduni dan Proses Terjadinya Ilmu Laduni". Atau bisa buka kategori "Ilmu Laduni".
13. Mustajab Doanya
** Ia diberi kemampuan benar cocok omongan dan perilakunya (sesuai dengan kebenaran) alias Kemanden. ** Tentu yang di maksud disini bukan kemanden yang disalah gunakan atau kemanden yang bertentangan dengan Syari'at. Bila terdeteksi ada 2 tsb, maka firosahnya itu bukan hikmah tapi adzab atau istidraj.
14. Firosah
** Firosah atau titis atau waskito atau weruh sakdurunge winarah. Ia diberi kemampuan bisa tau sebelum kejadian. ** Tentu juga yang dimaksud di sini bukan Firosah yang disalah gunakan atau firosah yang bertentangan dengan syari'at. Bila terdeteksi ada 2 tsb, maka firosahnya itu bukan hikmah tapi adzab atau istidraj.
15. Kemampuan Wara'
** Ia diberi kemampuan terjaga dan terhindar dari sesuatu yang syubhat, terlebih dari haram. Atau terjaga dan dijaga dari sesuatu yang melalaikan Alloh. Baik secara sengaja ia memang niat menghindar atau tidak sengaja (dibikin Alloh gak mau, gak minat, gak jadi, gak kebagian, gak terurus, atau gak dianggap).
Hikmah Menurut Penulis pribadi. *Tambahan
16. Bertambahnya keyaqinan atau keimanan.
Merujuk pada Firman Alloh : Q.S Al-Fath (48) ayat 4.
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ فِى قُلُوبِ ٱلْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوٓا۟ إِيمَـٰنًۭا مَّعَ إِيمَـٰنِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًۭا
"Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana".
17. Bertambahnya ilmu dan kesadaran mendalam tentang Akhirat.
Ini esensi dari poin nomer 12. Merujuk pada Firman Alloh : Q.S At-Taubah (9) ayat 38.
أَرَضِيتُم بِٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا مِنَ ٱلْـَٔاخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَـٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا فِى ٱلْـَٔاخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ
"Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit".
** Dari esensi nash lafadz "illa qoliil" yang berarti lawan kata dari "katsiro" pada nash ayat hikmah "khoiron katsiro".
18. Terbukanya ilmu dan kesadaran tentang hakikat Ndunyo.
Ini juga reaksi dari poin nomer 12. Merujuk pada Firman Alloh : Q.S Al-Qashash (28) ayat 80.
وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيْرٌۭ لِّمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا وَلَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلصَّـٰبِرُونَ
"Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar".
20. Kemampuan Zuhud dan Rasa unsu (tentram) bersama Alloh.
** Merujuk pada Firman Alloh : Q.S Qashash (28) ayat 83.
تِلْكَ ٱلدَّارُ ٱلْـَٔاخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّۭا فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فَسَادًۭا ۚ وَٱلْعَـٰقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
"Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa".
C. Kapan Datangnya Hadiah Hikmah
Datangnya suatu hadiah itu bisa dari :
- Si pemberi pingin memberi karna pingin memberi gitu aja (gak ada alasan).
- Si pemberi pingin memberi karna kenal atau kedekatan.
- Karna orangnya berprestasi (setelah melalui banyak ujian dan lulus).
Poin nomer 2 dan 3, perhatikan makna dari gambar ayat berikut :
 |
| Datangnya hikmah saat ketika Syiddah. |
D. Indikasi Mendapat Hikmah
✓ Funun Mukasyafat
✓ Kesadaran-kesadaran baru yang punya daya kuat yang mendorongmu untuk lebih mendekat pada Lillah wa Billah.
E. Reaksi Sudah Mendapat Hikmah
✓ Ketenangan (Rasa syukur dalam posisi sabar. Rasa sabar dalam posisi syukur).
✓ Tawadhu' dan Ketundukan pada Alloh
✓ Zuhud anid dunya
✓ Qona'ah, Tawwakal, Ridho
✓ Unsu Billah (Ketentraman dengan Alloh)
✓ Halawatu Ibadah
F. Usaha Mujahadah Mencari Hikmah
1. Amanu, 2. Wattaqu, 3. Amilu Shalihat, 4. Muhsiniin.
✓ Wala yulaqqoha Illa Shobiruun (kesadaran seperti ini tidak akan menemuinya kecuali bagi orang-orang yang sabar (bertahan pada keyakinan/keimanan, Menepati perintah dan larangan-Nya saat diuji, Dan juga selalu muhsin atau mbagusi ngamal/melakukan kesunahan² secara elok saat ketika ia dalam posisi sabar dan bertahan itu). Refleksi dari 2 ayat berikut :
قَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّهُۥ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ فَإِنَّ ٱللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ ٱلْمُحْسِنِينَ
"Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami". Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik". Q.S Yusuf (12) ayat 90.
وَقَالَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ ٱللَّهِ خَيْرٌۭ لِّمَنْ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَـٰلِحًۭا وَلَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلصَّـٰبِرُونَ
"Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang-orang yang sabar". Q.S Al-Qashash (28) ayat 80.
Kesimpulan Mudarosah
Dari semua bentuk-bentuk hikmah yang telah diuraikan, semua merujuk pada penambahan 'Ulum wal Ma'arif (keilmuan, kefahaman, dan kesadaran-kesadaran baru). Yang dari keilmuan dan kesadaran itu tumbuhlah banyak berbagai ahwal kebaikan atau ahwal kerohanian yang punya nilai tinggi di sisi Alloh.
Dari semua bentuk-bentuk hikmah, semuanya berbentuk IMATERI (tidak ada yang berbentuk fisik atau materi). Yang artinya tidak bisa dilihat orang, kecuali "Sunnah Nabi atau Tindak Lampahe Kanjeng Nabi" nisbat bagi Nabi itu sendiri (seperti berbentuk materi/bisa dilihat karna untuk jadi contoh praktek bagi umatnya. Tapi nisbat bagi umatnya, semua Hikmah itu bentuknya Imateri (berupa Ulum wal Ma'arif).
Alloh begitu Maha Pintar menyembunyikan, menjaga, dan memuliakan mutiara Hikmah-Nya (pemberian-Nya yang agung) sampai orang umum jarang yang mengetahui (karna tidak ada bentuk fisiknya). Sebagai bentuk penjagaan dan penghormatan Alloh pada sesuatu yang bernilai istimewa di sisi-Nya.
Bisa terjadi, orang yang dianggap rendah dan dianggap kurang oleh kebanyakan orang awam (secara fisik dan materi) tapi di sisi Alloh ia dikasih nilai tinggi (karna dikaruniai Hikmah atau kebaikan yang banyak).
** Qultu : Dari semua kriteria Hikmah di atas, kalo boleh diloncat (langsung diambil inti pembahasan) itu semua ciri-ciri khas dari Kewalian. Artinya, Kewalian atau setiap Auliya' itu sudah pasti dikasih Hikmah. Namun yang dikasih Hikmah belum tentu (tidak harus) seorang Auliya'.
•======================•
Wallohu 'Alam bi Shawabih
Intaha, Ulasan Admin