Adab Menjalani Uzlah Dan Syarat Ketentuan Uzlah: Al-Hikam Pasal 12
سُبْحَـٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ
Adab Syarat Rukun Dan Ketentuan Dalam Menjalani Uzlah
Sudah dijelaskan pada ulasan artikel sebelumnya perihal "baik mana, milih uzlah atau tampil ke publik?", Baca ulasannya dalam artikel "Antara Uzlah Dan Tampil Eksis ke Publik, Mana Lebih Utama?" beserta juga sudah dijelaskan dasar dan manfaat dari Uzlah, Baca ulasannya dalam artikel "10 Manfaat Dari Menjalani Uzlah" lalu saat ketika seseorang itu berniat memilih Uzlah, maka seterusnya ia wajib mengetahui Syarat, Ketentuan, dan Disclaimer Uzlah alias harus tau ilmunya Uzlah.
Dalam kontek Uzlah ini adalah seorang murid harus mengetahui dan menaati Adab dan Syarat Ketentuan Uzlah. Agar supaya ia tidak terjebak dengan interpertasi yang ia anggap benar, namun ternyata melenceng jauh dari maksud Uzlah itu sendiri.
Di antara Rukun Adab dan Ketentuan Uzlah yaitu :
![]() |
| Adab dan Syarat Rukun Uzlah - Syarah Ihya' Ulumuddin. |
1. Niat Dan Mengukuhkan Keikhlasan
** Niat untuk taqarub ilalloh tok-til dan niat untuk meredam keliaran nafsunya. Termasuk sebagai bentuk kukuhnya keikhlasan dan kejujuran niatnya, ia tidak membawa kepentingan apapun selain dari 2 poin tersebut. Ketentuan Uzlah dan Khalwat oleh Imam Abdul Aziz Al-Mahdawi W.622, Attanbih Syarah Al-Hikam Bab Tahriqul Awa'id.
2. Niat melindungi Agamanya (Keimanannya)
** Karena sadar, kalau seandainya ia berbaur atau tampil eksis ke publik, ia akan terseret pada hal yang mendowngrade keimanan atau keyakinannya. Entah itu secara nyata atau dugaan kuat. Seperti berkurangnya tawwakal perihal rezeki karna sering kumpul dengan para Ahli Dunia. Maupun terseret yang bersifat dosa atau maksiat. Seperti tidak bisa menghindari ghibah karna sering interaksi dengan orang-orang. Ihya' Ulumuddin 4/323, Cetakan Darul Minhaj 2011.
3. Niat menyelamatkan diri dari dosa karna tidak menepati hak-hak interaksi
** Seperti misalnya bila ia ketepatan berprofesi sebagai karyawan atau figur publik atau pejabat publik dalam tekanan atasan atau tekanan dari sesuatu yang lain, yang mengharuskan ia tidak menepati hak-hak interaksi. Seperti ditekan disuruh menyalah gunakan wewenang, ditekan mengambil tindakan atau keputusan yang melenceng dari syari'at, ditekan untuk melakukan maksiat, dan lain sebagainya.
Termasuk seandainya kalo ia eksis, malah akan banyak madhorot yang akan terjadi karenanya. Karna mungkin ia orang yang emosian, atau mungkin ia seorang buzzer yang kalo ia masih eksis akan ditekan sana-sini untuk membuat hoax, atau memang karena kerjaannya membuat hoax atau membuat onar.
Termasuk juga langkah taubat, karena kalo seandainya ia masih eksis, maka tujuan taubatnya itu tidak bisa terselenggara atau sulit terselenggara. Baca ulasan selengkapnya perihal Taubat dalam kategori "Bab Taubat Nasuha".
4. Niat fokus ibadah agar tidak terganggu
** Termasuk juga ia tidak membawa khayal dalam Uzlahnya (khayalan-khayalan, nanti kalo wirid begini akan dapat begitu, nanti kalo ngerjain ini-ini maka akan dapat anuanu. Ketentuan Uzlah dan Khalwat oleh Imam Abdul Aziz Al-Mahdawi W.622, Attanbih Syarah Al-Hikam Bab Tahriqul Awa'id.
4 Poin di atas itu dari segi niatnya, sedang dari segi ketentuan adab dan rutinitasnya adalah :
5. Mengisi aktivitasnya dengan ilmu dan amal
** Termasuk mengamalkan ilmu yang sudah ia ketahui, selain juga menambahi dengan kebaikan-kebaikan syari'at yang lainnya.
** Termasuk juga menjaga mata dan perutnya. Maksudte, membatasi intensitas jam tidur dan kekenyangan.
6. Mengisi rutinitasnya dengan Dzikir dan Tafakur
** Termasuk mengisi dengan berbagai dzikir dan aurad yang diintruksikan oleh guru pembimbingnya. Mengisi dengan merenungi dosa-dosa yang sudah lalu, dan mengisi dengan tafakur atas kebaikan-kebaikan Alloh padanya yang selama ini sudah ia terima.
7. Menutup hubungan interaksi dari luar
** Hendaknya seorang Mu'tazil (orang yang lagi menjalani Uzlah) menutup interaksi dari luar. Gak telpan-telpon, gak disambangi, didolani, gak dikunjungi oleh orang lain (** ini tidak seterusnya lo ya!).
Seperti yang sudah masyhur dalam rumusnya Para Mu'taziliin atau orang yang sudah terlatih menjalani Uzlah :
8. Tidak kepo dengan pemberitaan
** Hendaknya seorang Mu'tazil tidak kepo dengan pemberitaan. Gausah tonya-tanya di sana kabarnya gimana, bagaimana kabarnya si A si B, anakku kabarnya gimana, tokoku sawahku kabarnya gimana, gak usah. Karena itu nanti akan mengotori kejernihan hatinya yang sedang ia proses. Minimal biasanya akan jadi kepikiran dan mengacau dalam dzikir atau sholatnya. Kepentingan lain di luar Uzlahmu pasrahkan saja pada Alloh.
9. Menghindari teman yang tidak bisa menjaga pembicaraannya
** Hendaknya ia menghindari dari orang atau teman yang tidak bisa menjaga omongannya atau pembicaraannya. Sering slengekan, clam-clum, suka bergurau, suka ghibah, suka bukak rahasia, suka mengeluh atau sambat, suka membahas hal-hal yang tidak berhubungan dengan kebaikan Uzlahnya. Akirnya semangatnya turun, himmahnya berkurang atau tidak bulat lagi.
10. Qonaah dengan harta dan fasilitas yang sedikit
** Hendaknya seorang Mu'tazil sudah menerima keadaannya, sudah menerima dirinya sendiri. Ia sudah menerima qona'ah dengan keadaan Dunianya. Karena kalau tidak, sangat dikhawatirkan sekali ia akan membawa kepentingan lain dalam Uzlahnya. Ada keinginan nafsu yang menyusup ikut nebeng dalam Uzlahnya.
Akirnya, dalam Uzlah hasilnya bukan taqarub ilalloh, bukan Alloh yang ditemui atau menemui tapi malah ditemui Demit atau gangguan-gangguan yang lain. Akhirnya ia tamak pada khasiat-khasiat yang ada dalam dzikirnya itu, atau khasiat yang ditemui ketika Uzlahnya itu.
** Termasuk juga ia harus melepas semua kekecewaannya (kedengkiannya, kemarahannya, keserakahannya, ambisinya, dan kecintaannya), agar tidak menganggu konsentrasi Uzlahnya, mengacaukan suasana jiwa-bathinnya dan memperkeruh kejernihan hatinya.
** Semua hal yang tidak berhubungan dengan kepentingan Uzlah, bukan sesuatu yang wajib atau darurat bagi si Mu'tazil, maka (untuk sementara waktu) semua harus dilepas. Alloh berfirman : Q.S Ali-Imran (3) ayat 159.
11. Sabar bertahan terhadap gunjingan
** Dalam masa transisi Uzlah, sudah umum dan biasa akan banyak gunjingan. Entah dari sisi internal (teman atau orang yang mengenalmu) atau dari sisi external (orang luar atau publik). Karna mungkin kamu jadi jarang berinteraksi, gak ngumumi wong, bullyan, ejekan, cemoohan, dibuat bahan omongan orang. Its oke, biasa, sudah risikone wong Uzlah.
Uzlah ini adalah sebuah proses alias gak seterusnya. Sampai kapan? Sampai kamu sudah piawai dan pandai mengendalikan nafsumu, atau sesuai arahan pembimbing masing-masing. Dalam poin nomer 11 ini baiknya seorang murid berkonsultasi dengan gurunya.
12. Punya guru pembimbing untuk konsultasi
** Guru pembimbing pada prosesi Uzlah ini berperan penting sekali, apalagi bagi seorang Mubtadi' atau Pemula. Hendaknya seorang murid harus selalu konsultasi dgn gurunya. Semisal ketika Uzlah menemukan rasa begini, menemukan asrar ini, maka murid harus lapor pada gurunya. Nanti guru akan mengarahkan pada step-step selanjutnya. Biar murid tidak berinterpretasi terlalu liar atau terjebak dan keluar dari maksud tujuan Uzlah itu sendiri. Baca ulasan selengkapnya perihal Guru Pembimbing atau Mursyid dalam kategori "Guru Mursyid".
13. Punya teman terpercaya untuk hajat-hajatnya
** Karena proses Uzlah itu melockdown interaksi dari luar (untuk sementara waktu), maka hendaknya si Mu'tazil punya teman terpercaya (punya wakil terpercaya) untuk membantu hajat-hajatnya. Entah untuk keperluan makan minumnya atau untuk kepentingan lain yang berhubungan dengan hajat atau kesulitannya si Mu'tazil. Baca ulasan selengkapnya perihal memilih teman dalam kategori "Bab Suhbah".
14. Memutus tamak pada (Ahli) Dunia
** Poin ini selaras dengan poin nomer 10. Baca ulasan selengkapnya perihal Efek Merusak Dari Sebuah Ketamakan dalam kategori "Bab Tamak".
15. Selalu melatih diri dengan Qosrul Amaal
** Poin ini efek domino yang mengiringi poin nomer 10 dan poin nomer 14. Baca ulasan selengkapnya perihal Reaksi Kebaikan Dari Perilaku Qoshrul Amaal dalam kategori "Bab Qoshrul Amaal".
16. Dzikrul Maut
** Poin ini sepaket dengan poin nomer 15. Baca ulasan selengkapnya perihal Efek Perilaku Dari Kesadaran Dzikrul Maut dalam kategori "Bab Dzikrul Maut".
Kesimpulan Mudarosah
✓ Uzlah itu seperti halnya orang nyengker (menjinakkan keliaran). Seperti misal kamu baru beli burung liar, maka untuk menjinakkannya agar keliarannya hilang atau jinak pada tuannya, maka burung itu harus diblongsong dulu (jangan dilihatkan dunia luar dulu untuk sementara waktu), cuma dikasih makan minum secukupnya saja. Bisa 3 hari, 5 hari, sampai seminggu, melihat reaksi dari si burung itu. ** Kira-kira kasusnya Uzlah seperti itu.
✓ Poin-poin adab dan ketentuan yang sudah dijelaskan itu hanya secara garis besar saja. Artinya, aslinya Uzlah itu harus punya guru pembimbing yang mengarahkan. Kamu uzlahnya model begini, auradnya ini, waktu dan batasannya seperti ini, tambahannya ini, itu nanti menurut intruksi dari Guru yang akan mengarahkan. ** Tidak disarankan bagi pemula menjalani Uzlah Mandiri tanpa Guru Pembimbing.
✓ Perihal adab dan ketentuan lain antara murid satu dan murid lainnya bisa terjadi berbeda-beda. Menimbang posisi kondisi dan situasi dari si Mu'tazil itu sendiri (sangat dinamis) menurut arahan dari Guru Pembimbing masing-masing.
✓ Namun andaikata ada seseorang yang pingin latihan Uzlah secara mandiri (namanya latihan kan boleh-boleh saja, meski tidak direkomendasikan), itu kurang lebih Adab dan Ketentuannya seperti poin-poin yang sudah dijelaskan.
Artikel Terkait
Mudarosah Interaktif
Share Vote Comments And Other
Author Catatan Mudarosah.
Terima Kasih telah membaca Catatan Mudarosah
[ Adab Menjalani Uzlah Dan Syarat Ketentuan Uzlah: Al-Hikam Pasal 12 ], Semoga bermanfaat.
Halaman Catatan Favorit ada di kolom pojok kanan atas.
Contact and Support : admin.mudarosah@gmail.com




