9 Hikmah Dan Filosofi Hobbi Menulis Dan Memaknai Kitab Kuning
سُبْحَـٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ
#Hikmah dan filosofi hobbi menulis. #Hikmah ngesahi kitab kuning. #Hikmah menulis yang sering terlupakan.
9 Hikmah-Hikmah Menulis.
Sering dalam pengajian pesantren, seorang Guru membaca kitab dan menjelaskan, sedang si Murid menulis (memaknai kitab yang sedang dikaji).
Terkadang ada yang malas ngesahi (maknai) kitabnya dengan alasan "Merasa Sudah Tau" atau karna alasan "Ngereget-Ngeregeti Kitab/ ngotor-ngotori kitab".
Apa saja sih 9 hikmah dan filosofi bagi yang hobbi menulis dan terlebih memaknai atau ngesahi kitab dalam Pengajian Literatur Pesantren?.
![]() |
| Hikmah Dan Filosofi Hobbi Menulis. |
1. Ilmiyyah-Amaliyyah.
Menulis atau maknai kitab pas ngaji/muthola'ah itu adalah seminimal-minimalnya beramal.
Seperti dalam sebuah Hadist :
"Yang bodoh akan rusak (tidak dihitung) kecuali yg tau-berilmu. Yang berilmu akan rusak, kecuali yg beramal. Yang beramal akan rusak, kecuali yang Ikhlas. Yang Ikhlas pun masih "ala khothorin adzim" masih sering terpeleset".
Nah orang ngaji itu kan sudah berilmu (sudah tau), saat sudah tau, maka kena tuntutan mengamalkan ilmunya. Nah, maknai kitab it adalah seminimal-minimalnya beramal.
Artinya, andai saat itu kamu mati, Maka kamu dihitung sudah mengamalkan ilmumu. Mengamalkan ilmu apa? Ya mengamalkan ilmu yang kamu mendengar atau ngaji dari seorang Guru terus kamu tulis itu (pas pada saat itu). Soal nanti masih diberi hidup, ya berarti tuntutan mengamalkan ilmu harus berlanjut jadi amaliah (diamalkan beneran).
2. Dzul Wal Iftiqor.
Maknai Kitab itu menunjukkan bahwa seorang yang ngaji atau masih mau ngaji itu masih merasa bodoh dan masih proses (beramal) melengkapi.
Artinya : Saat kamu merasa bodoh (di hadapan kitab yang kamu kaji), seringkali Alloh akan memberi ilmu-ilmu lain atau logika-logika Ketuhanan lain yang tidak ada dalam kitab itu. Apalagi kalau Mudarosah kitab-kitab Tauhid, Tafsir, Hadist atau Kitab-Kitab Hikmah.
Seperti dalam hadist :
"Barangsiapa mengamalkan ilmu yang sudah diketahuinya, maka Alloh akan mengajari ilmu lain yang tidak pernah diketahuinya".
3. Sebagai Arena Tafa'ul (Ngalap Berkah).
Dengan memaknai kitabmu, Semoga Alloh juga memberi selaras dengan apa yang kamu tulis itu.
TERUTAMA, memaknai kitab² tauhid, Kitab adab, Kitab Tafsir, Hadist dan Sebagainya. ** Kalau bisa sekalian dikompliti maknanya.
4. Li Tahqiq.
Dengan kamu memaknai Kitabmu, memberi catatan kaki, OTOMATIS Ingatanmu akan lebih Tahqiq atau Kuat. Seperti yang telah Admin uraikan dalam Artikel "Riyadhoh Agar Cepat Futuh Dalam Belajar". Keterangan lebih lanjut, Silahkan ruju' ke situ.
5. Untuk Generasi/Amal Jariyah.
Andai ingatanmu tidak kuat atau mungkin belum bisa mengamalkan, Namun karena keikhlasan kamu dalam mendalami atau mau mendalami kitab yang kau kaji, Semoga nantinya ada yang membaca atau ada yang menemukan mengkaji dan mengamalkan, yang mana itu nanti pahalanya juga akan ke kamu. Terlebih bila yang menemukan atau yang mengamalkan itu generasi anak-cucumu.
Semoga Alloh juga memberi hikmah-hidayah pada yang menemukan-membaca atau mengamalkan kitab atau catatan²mu.
6. Melatih Skill.
Untuk melatih dan menambah ketrampilanmu dalam menulis-maknani kitab, mengambil inti dari Nash yang dikaji.
Ilmu Alloh itu luaass sekali. Bagi Alloh, membuat atau membuka ilmu-ilmu baru itu sesuatu yang amat sangatlah mudah sekali. Kamu jangan sekali-kali menyombongkan diri atau merasa lebih bisa atau lebih mumpuni dari kitab yang kamu kaji, terlebih kitabnya para Salaf Shalihiin.
CATATAN :
Bila tidak cocok dengan isi kitabnya (ilmunya), Janganlah kamu mengingkari Ilmunya. Karena pada hakikatnya, semua ilmu itu dari Alloh. Bagaimana bisa kamu mengingkari ilmunya Alloh?.
Kalau tidak cocok, ya cukup tinggalkan saja, tidak usah diamalkan. Karena kalo sudah mengingkari atau menutup diri pada Ilmu-Ilmunya Alloh yang tidak atau belum bisa kamu pahami atau belum kamu ketahui namun sudah kamu ingkari, Ya sudah kamu gak akan ditambah ilmu lain, gak akan ditambah ilmu-ilmu baru. Dapatmu ya cuma Stuck di ilmu yang sudah kamu ketahui itu saja. Padahal rahasia-rahasia Ilmu Alloh yang masih disimpan itu masih buuanyak sekali.
7. Efisiensi.
Kalau cuma numpuk-numpuk Kitab atau numpuk-numpuk Sanad tapi kalau gak diamalkan, lah untuk apa? Hanya menimbun tumpukan sampah kertas dalam rumah. Solusi satu-satunya yang paling gampang dan selama kamu masih sempat adalah maknailah kitab-kitabmu, karena itu adalah seminim-minimnya beramal.
8. Tawadhu'.
Saat kamu gak mau maknai kitabmu pas ngaji (apalagi karena alasan sudah merasa bisa atau merasa sudah mumpuni dan tidak perlu lagi maknai kitab. Yang berarti itu adalah sebentuk kesombongan yang terselubung), ya sudah.. ilmu kamu akan Stuck di situ-situ saja. Ya udah, ilmu kamu gak akan ditambah. Ya cuma STUCK di situ aja.
**** Jadi Gak Mau Memaknai Kitab dengan alasan "ngreget-ngregeti kitab" itu adalah alasan yang mengada-ada alias mencari alasan pembenaran. Bilang aja kalau kamu malas atau malah merasa sudah bisa, biar sombongnya jadi jujur .. haha
9. Husnul Asbab (Bagusnya Ikhtiyar).
Maknai kitab (poin-poin yang sudah dijelaskan) itu termasuk suatu bentuk ikhtiyar yang baik dan patut.
Sebagaimana dawuh sebagian Para Arif Billah.
فعلى العبد بحسن الأسباب، ومن الله تعالى رفع الحجاب.
======
Maka semestinya dan sudah seharusnya seorang (murid) itu mbagusi sebab-sebab (ikhtiyar), dan Allohlah nanti yang akan membuka Hijab (membuka-memberimu tambahan pengetahuan Ketuhanan yang lain).
*** Dengan niat dan keikhlasan yang benar, Semoga Alloh selalu membimbing menolong dan menjaga kita. Aamiin. 🤲🤲💚
Wallohu 'Alam.
Ulasan Admin
Artikel Terkait
Mudarosah Interaktif
Share Vote Comments And Other
Author Catatan Mudarosah.
Terima Kasih telah membaca Catatan Mudarosah
[ 9 Hikmah Dan Filosofi Hobbi Menulis Dan Memaknai Kitab Kuning ], Semoga bermanfaat.
Halaman Catatan Favorit ada di kolom pojok kanan atas.
Contact and Support : admin.mudarosah@gmail.com




